
š„Saat ada masalah dan terasa ingin menyerah, kita selalu punya pilihan yang lebih indah, yakni bersabarš„
Pagi itu Ameera nampak mengerjapkan matanya saat mendengar sesuatu jatuh dari luar kamarnya.
Perasaan ia baru saja tidur tapi pagi sudah menjelang, sungguh ia masih sangat mengantuk karena suaminya itu sengaja membuatnya lelah sepanjang malam.
Namun begitu, Ameera segera beranjak untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket dari sisa percintaannya semalam.
Beberapa saat kemudian ia terlihat segar dengan pakaian rumahannya.
Ia nampak tersenyum saat menatap suaminya sedang tertidur pulas di atas ranjangnya, bayangan percintaannya semalam membuat wajahnya langsung bersemu merah.
Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar kamarnya, namun saat sampai di ambang pintu ia urungkan.
Sungguh ia masih canggung bertemu mertuanya seorang diri, ia bingung harus berbuat apa. Dirinya yang termasuk tipe wanita introvert membuatnya malu untuk memulai pembicaraan.
Pada akhirnya ia kembali masuk ke dalam kamarnya, kemudian ia mengambil ponselnya lalu menghubungi sang ibu.
Sementara itu Awan yang baru mengerjapkan matanya, nampak tersenyum saat melihat Ameera yang terlihat sedang menghubungi ibunya.
Gadis itu terlihat berdiri membelakanginya menghadap ke arah jendela yang menampakkan sebuah taman di depan rumahnya.
Kemudian dengan pelan ia segera beranjak ke kamar mandi.
"Iya bun, bunda jangan khawatir aku baik-baik saja kok." ucap Ameera, namun ia langsung tersentak saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
Kemudian ia menoleh ke belakang menatap suaminya tersebut, lalu ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya mengisyaratkan agar pria itu diam.
"Iya nanti aku belajar memasak." jawab Ameera kemudian saat sang ibu menasihatinya dari ujung telepon.
Merasa di abaikan oleh sang istri, Awan nampak tersenyum penuh arti. Lalu ia meniup-niup leher wanita itu, namun sepertinya tak ada reaksi.
Kemudian ia mulai mengecupinya dan sepertinya berhasil karena istrinya itu nampak gelisah dengan mencoba menjauhkan kepalanya.
"Mas, diam !!" tegurnya dengan menjauhkan ponselnya agar sang ibu tak mendengar, kemudian ia kembali menghubungi sang ibu.
Di abaikan kembali oleh istrinya, Awan merasa kesal. Kemudian ia langsung menggendong wanita itu lalu membawanya ke ranjangnya hingga membuat Ameera langsung berteriak kaget.
"Nak, kamu baik-baik saja ?" nyonya Anna nampak khawatir saat mendengar teriakan Ameera.
"A-aku baik-baik, bun." sahut Ameera, kemudian ia langsung tercekat saat melihat perbuatan suaminya.
Bagaimana tidak, pria itu nampak melucuti pakaiannya satu persatu.
Ingin sekali ia mengakhiri panggilannya tapi itu tidak sopan menurutnya, karena sang ibu terus saja berbicara dari ujung telepon tanpa mengetahui apa yang terjadi dengan putrinya saat ini.
"Jadilah istri yang patuh, kalau mau keluar rumah minta izin dulu. Karena kadang hal-hal kecil seperti itu bisa menjadi masalah dalam rumah tangga." nasihat sang ibu.
"Iya bun Meera akan patuh." sahut Ameera dengan napas naik turun saat merasakan suaminya itu m3lum4t gundukan indah miliknya.
"Baiklah kalau begitu, nanti bunda telepon lagi ya."
"Iya, bunda. Assalamualaikum." Ameera langsung mengakhiri panggilannya.
"Mas, kamu keterlaluan." protesnya pada sang suami.
Bukannya menjawab Awan justru langsung m3lum4t bibirnya dengan rakus dan setelah itu hanya terdengar d3s4h4n dan deru napas yang saling bersahutan.
Satu jam kemudian Ameera nampak keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya.
Wajahnya nampak di tekuk saat melihat sang suami tersenyum puas padanya.
"Mas keterlaluan deh, orang lagi telepon bunda juga." sungutnya.
"Namanya juga kepingin sayang, mana bisa di tahan." sahut Awan dengan enteng.
"Menyebalkan." gerutu Ameera.
"Tapi kamu suka juga kan ?" ledek Awan kemudian.
Ameera melotot menatapnya dan itu membuat Awan langsung terkekeh.
"Mas, aku lapar." keluh Ameera mengalihkan pembicaraan, menanggapi pembicaraan sang suami bisa-bisa ia akan keramas ketiga kalinya.
"Yaudah ayo keluar, makan !!" ajak Awan.
"Tapi aku takut, mas." Ameera menahan tangan Awan.
"Nggak apa-apa, ayo !!" Awan langsung menarik tangan sang istri lalu membawanya keluar kamarnya.
"Kayak kamu nggak pernah saja." celetuk Awan dengan cuek.
"Gimana rasanya, kak ?" bisik Arini saat Ameera melewatinya, sepertinya wanita itu suka sekali menjahili kakaknya.
"Arini !!" tegur Awan.
"Iya-iya." Arini langsung bersungut-sungut menjauh.
"Kalian sudah bangun ?" nyonya Amanda yang baru keluar dari kamarnya nampak mengulas senyumnya menatap anak dan menantunya tersebut.
"Maaf ma, kami baru turun." Ameera merasa bersalah saat melihat hidangan di meja makan, pasti ibu mertuanya yang sudah memasaknya.
"Nggak apa-apa, ayo sarapan !!" perintah nyonya Amanda Kemudian.
Ameera segera mengambil nasi beserta lauk untuk suaminya, setelah itu mereka mulai menyantap sarapannya yang sudah terlambat itu.
"Mas, naik saja duluan !! aku mau mencuci ini dulu." kata Ameera saat Awan mengajaknya kembali ke kamarnya.
"Biar bibik yang mencuci." larang Awan namun Ameera langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku bisa kok mas, perkara mencuci mah urusan gampang." tukas Ameera seraya membereskan bekas piring makanannya.
Awan mengulas senyumnya. "Baiklah, cepat kembali ke kamar setelah selesai !!" perintahnya kemudian.
"Iya, mas." angguk Ameera.
Kemudian ia membawa bekas piring makanannya ke dapur lalu segera mencucinya.
"Biar saya saja, mbak." bibik yang baru datang nampak panik melihat Ameera berada di dapur.
"Nggak apa-apa bik, sudah mau selesai juga." Ameera mengulas senyumnya menatap ARTnya tersebut.
"Hati-hati ya mbak, nanti kalau pecah ibu bisa marah." ART tersebut mengingatkan yang langsung di angguki oleh Ameera.
Setelah selesai ia segera berlalu dari dapur, namun saat melihat ibu mertuanya sedang duduk di depan televisi ia langsung menghampirinya.
"Boleh duduk, ma ?" ucapnya berbasa-basi, meski ia merasa canggung tapi ia akan mengikuti nasihat sang ibu untuk mengambil hati mertuanya tersebut.
Nyonya Amanda menatap Ameera dari ujung kaki hingga kepala, kemudian ia menyuruh gadis itu untuk duduk.
"Duduklah !!" perintahnya kemudian.
"Terima kasih, ma." Ameera segera mendudukkan dirinya.
"Habis keramas ?" tanya nyonya Amanda menatap Ameera.
"I-iya, ma." sahut Ameera balas menatap.
"Kamu tahu kan Awan masih sakit ?" tukas nyonya Amanda lagi.
"Iya, ma." angguk Ameera.
"Kalau sudah tahu sakit kenapa masih kamu ajak bercinta ?" tukas nyonya Amanda tanpa tendeng aling-aling.
Deg!!
Ameera nampak tercengang dengan perkataan ibu mertuanya tersebut.
"Kamu tahu kan bagaimana perjuangan Awan dalam tiga bulan terakhir ini? dari dia tidak bisa berjalan sampai melakukan operasi berkali-kali demi kesembuhannya, lalu sekarang belum juga benar-benar sembuh sudah kamu paksa untuk bercinta." imbuh nyonya Amanda lagi yang langsung membuat Ameera berkaca-kaca.
"Sa-saya, tidak melakukan itu mah." sanggah Ameera
"Halah, tidak melakukan itu tapi suaramu sampai kemana-mana." tegur nyonya Amanda.
Wajah Ameera nampak memerah, sungguh ia sangat malu bercampur kesal saat ini.
"Lain kali jangan memikirkan dirimu sendiri tapi pikirkan kesehatan suamimu." tegur nyonya Amanda kemudian
Ameera nampak bergeming, membela diri pun tidak ada gunanya di hadapan mertuanya itu.
"Ya sudah kembalilah ke kamarmu, jangan lupa obatnya Awan harus di minum tepat waktu !!" perintah nyonya Amanda kemudian.
"Baik, ma." Ameera mengangguk pelan, kemudian ia berpamitan pergi.
Air matanya nampak meleleh sepanjang ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya.