
"Bagaimana dok ?" Awan mulai tak sabar saat dokter tersebut tak kunjung menjawab pertanyaannya, sungguh ia sangat khawatir dengan kesehatan sang istri.
Dokter kandungan itu tersenyum kecil, baginya sudah biasa menghadapi sikap keluarga pasien seperti Awan.
"Rahim bu Ameera sangat sehat ya pak, tidak ada kista atau sejenisnya yang bisa menghambat kehamilan." sahut dokter tersebut seraya menjelaskan gambar di layar monitornya.
"Syukurlah kalau begitu dok, dari awal saya sudah yakin kalau istri saya baik-baik saja." Awan nampak lega.
"Apa pak Awan mau saya cek juga ?" tawar dokter itu kemudian.
"Di cek bagaimana dok ?" Awan yang masih awam dengan pemeriksaan kesuburan nampak tak mengerti.
"Kalau bapak mau saya bisa cek kualitas sp3rm4 bapak di laboratorium, karena ketidaksuburan tidak hanya saja di alami oleh wanita tapi juga pria." dokter menjelaskan, namun sepertinya Awan nampak keberatan.
Bukan karena ia enggan untuk di periksa juga tapi rasanya memalukan jika harus melakukan pelepasan di bilik rumah sakit tersebut.
"Apa tidak ada cara lain dok selain dengan cara itu ?" tanyanya kemudian.
Dokter tersebut nampak tersenyum, sepertinya ia paham dengan alasan pria itu karena banyak juga pasien-pasien lain yang enggan melakukan itu karena faktor malu atau risih.
"Tentu saja ada pak, anda bisa mengkonsumsi vitamin untuk membantu kesuburan." sahut dokter tersebut seraya meresepkan beberapa vitamin.
"Baik dok, terima kasih." Awan nampak lega.
Keesokan harinya.....
"Bagaimana hasil pemeriksaannya semalam ?" tanya nyonya Amanda pagi itu saat Ameera dan Awan baru duduk di meja makan.
"Kami sehat ma." sahut Awan.
"Mana hasil pemeriksaannya ?" nyonya Amanda mengulurkan tangannya meminta hasil pemeriksaan anak dan menantunya tersebut.
Ameera yang sengaja menaruh hasil pemeriksaannya di dalam tasnya langsung mengambilnya lalu memberikannya pada ibu mertuanya itu.
"Kalau ada waktu, coba periksa ke dokter lain bisa saja hasilnya berbeda." ucap nyonya Amanda setelah melihat hasil pemeriksaan tersebut.
"Ma, apa itu belum cukup? kami benar-benar sehat ma, hanya saja mungkin yang di Atas belum mempercayakan pada kami seorang anak." sela Awan sedikit kesal.
"Sudah-sudah jangan ribut." tegur pak Djoyo yang langsung membuat suasana seketika sunyi, kini mereka nampak menghabiskan sarapannya dalam diam.
Sesampainya di kantornya, Ameera mulai bekerja seperti biasanya. Ia merasa tenang karena ternyata tidak mandul seperti yang di katakan oleh ibu mertuanya.
Rahimnya sangat sehat, namun mungkin sepertinya Tuhan belum memberinya kepercayaan seperti ucapan sang suami.
"Maaf, maaf pak." Ameera nampak meminta maaf saat tak sengaja menabrak seseorang.
"Tidak apa-apa bu, tidak apa-apa." sahut pria tersebut seraya mengambil dokumennya yang terjatuh ke lantai.
"Beneran saya tidak sengaja pak." Ameera merasa tidak enak karena kemeja pria itu juga terkena percikan kopi yang ia bawa tadi.
"Tidak apa-apa bu, anda bu Ameera istrinya pak Awan kan ?" tanya Pria tersebut.
"I-iya, pak." sahut Ameera, sungguh ia belum terlalu banyak mengenal seluruh karyawan di kantornya.
Kantornya yang mempunyai beberapa lantai dan di huni oleh puluhan karyawan membuatnya tak bisa menghafal satu persatu, kecuali karyawan satu departemen dengannya.
"Perkenalkan saya Steven dokter di kantor ini, ruangan saya di lantai bawah paling ujung bu di bagian kesehatan." pria tersebut memperkenalkan dirinya yang ternyata seorang dokter.
"Saya Ameera, dok. Senang bertemu dengan dokter, maaf sebelumnya saya tidak banyak mengenal karyawan di sini atau mungkin karena saya masih baru." Ameera menjabat tangan dokter muda tersebut.
"Tidak apa-apa, bu. Lain kali kalau ibu merasa tidak enak badan atau ada keluhan boleh periksa di ruangan saya." tawar dokter Steven.
"Boleh, dok. Kalau sekarang apa bisa ?" Ameera nampak melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam istirahat masih tiga puluh menit lagi jadi sepertinya ia akan berkonsultasi dengan dokter tersebut.
"Mari bu silakan." dengan sopan dokter Steven mengajak Ameera melangkah menuju ruangannya.
Sementara itu bu Dewi yang baru kembali dari makan siangnya nampak mengerutkan dahinya saat melihat Ameera berjalan beriringan dengan dokter Steven masuk ke dalam ruangan kesehatan.
"Dasar gatel, lihat laki bening dikit langsung saja di pepet. Bagaimana kalau pak Awan tahu pasti perang besar nih." gumam Bu Dewi.
"Ada apa bu Dewi ?" karyawan lain yang baru datang langsung bertanya ke atasannya tersebut.
"Itu Ameera, bukannya tadi baik-baik sajakan? tapi barusan saya lihat masuk ke dalam ruangan pak Steven." sahut Bu Dewi.
"Masa sih bu, wah berita besar ini kalau sampai mereka ada skandal." timpal karyawan lain menanggapi.
"Benar, padahal pak Awan sudah sempurna begitu bagaimana bisa di selingkuhi." timpal yang lainnya lagi.
Ehmm
"Ada apa ramai-ramai? apa kalian sudah selesai makan siang ?" tegur Awan yang sepertinya baru selesai meeting bersama petinggi perusahaan lainnya.
"Eh pak Awan, ti-tidak ada apa-apa pak. Kami akan segera kembali ke ruangan kami." sahut bu Dewi, kemudian segera mengajak bawahannya masuk ke dalam ruangannya.
"Bu, kenapa tidak bicara yang sebenarnya pada pak Awan jika Bu Ameera selingkuh dengan dokter Steven ?" tanya salah satu karyawan di sana saat baru masuk ke dalam ruangannya.
"Kita belum ada bukti, bisa-bisa kita yang akan di keluarin dari sini. Ini tugas kalian untuk mengawasi mereka, kalau bisa langsung foto atau videoin saja." sahut bu Dewi yang langsung di anggukin oleh yang lainnya.
Sementara itu Ameera yang berada di ruangan dokter Steven nampak lega setelah mendapatkan penjelasan dari dokter tersebut.
"Intinya bu Ameera jangan terlalu stres karena itu juga bisa mengganggu kesuburan." nasihat dokter tersebut.
"Terima kasih dok, sudah mau mendengarkan keluhan saya." sahut Ameera berterima kasih.
"Sama-sama bu, kapan pun ibu bisa datang kesini jika butuh bantuan saya. Jika ingin mengajak pak Awan juga nggak apa-apa malahan bagus, kita bisa sharing bersama." ujar dokter tersebut.
"Baik dok terima kasih, kalau begitu saya kembali ke ruangan saya karena sebentar lagi jam istirahat selesai." Ameera segera beranjak, kemudian ia berpamitan pergi.
Saat sedang mencuci tangannya di wastafel toilet, tiba-tiba Ameera terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang.
"Ini aku sayang, apa kamu lupa dengan suamimu sendiri hm ?" ucap Awan saat istrinya hendak meronta.
"Kamu mengagetkanku, mas." gerutu Ameera dengan memegangi jantungnya yang tiba-tiba berdetak dengan kencang.
Kemudian Awan langsung memutar tubuh wanita itu hingga kini menghadap ke arahnya.
"Dari mana saja, aku mencarimu ?" tanyanya kemudian yang langsung membuat Ameera menelan salivanya.
"Aku makan di kantin, mas." sahut Ameera beralasan, lebih baik ia tidak mengatakan jika baru konsultasi dengan dokter Steven karena suaminya pasti akan cemburu buta.
"Sudah kenyang ?" tanya Awan kemudian.
"Hm." angguk Ameera.
"Mas sudah makan siang ?" tanya Ameera balik.
"Sudah di tempat meeting tadi, tapi masih lapar." sahut Awan.
"Kalau masih lapar makan lagi mas, mau ku temani? tapi jam istirahat ku sudah habis." terang Ameera seraya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku ingin makan yang lain." sahut Awan.
"Yang lain apa ?" Ameera mengerutkan dahinya.
"Kamu." sahut Awan yang langsung membuat Ameera membulatkan matanya.
"Mas, ini masih di kantor." tegurnya.
"Memang kenapa kalau di kantor ?" tanya Awan dengan senyum menggoda.
"Malu mas." Ameera nampak mengedarkan pandangannya.
"Tidak akan ada yang melihat jika kamu tidak berisik."ucap Awan lalu mendekatkan wajahnya dan langsung m3lum4t bibir istrinya itu dengan rakus.
Sementara itu di kediaman orang tuanya Awan, nampak neneknya Awan baru datang.
"Apa Awan belum datang ?" tanyanya kemudian.
"Belum ma, biasanya sore atau malam." sahut nyonya Amanda.
"Ya sudah aku pinjam kamarnya saja untuk beristirahat." sahut sang nenek.
"Di bawah masih ada kamar kosong kok, ma." tawar nyonya Amanda.
"Tidak, aku mau di kamar cucuku saja." sahut sang nenek lalu berjalan menaiki anak tangga.
Sesampainya di depan kamar cucunya itu, nenek langsung membuka pintunya dan betapa terkejutnya saat melihat Mala pembantu di rumah anaknya tersebut nampak tidur di atas ranjang Awan dan Ameera.
.
NB : Hai guys maaf ya AMEERA jarang sekali update karena awal bulan agustus kemarin tiba-tiba level karya ini di turunkan jadi level 3 dari sebelumnya level 8 jadi itu yang membuat saya sempat down dan tidak mood menulis padahal yang baca waktu itu lumayan banyak. Tapi tetap akan saya lanjutkan sampai tamat namun nulisnya santai ya guys.
Sekarang saya akan fokus ke novel baru, jika kalian berminat silakan mampir dan check di profil saya bagian karya dengan judul 'Istri kedua tuan Mafia'.