
Ameera yang baru masuk gerbang rumahnya nampak tersenyum saat melihat ibu mertuanya sedang berjemur di halaman.
"Buburnya, ma." ucapnya setelah berjalan mendekat.
"Taruh saja di dalam !!" perintah ibu mertuanya tersebut.
"Baik, ma." Ameera segera berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Tak berapa lama Ameera masuk, nampak seorang pemuda tampan berwajah oriental menyapa nyonya Amanda dari luar pagar.
"Tante Amanda bagaimana kabarnya ?" ucap pria itu yang di ketahui bernama Alvin.
"Eh nak Alvin, lama tante nggak lihat. Tante sehat nak." sahut nyonya Amanda yang masih berjemur di halamannya.
"Boleh masuk tante ?" tanya Alvin yang rumahnya terletak beberapa blok dari rumah Awan, pria berwajah oriental dan berkulit putih itu adalah teman masa kecil Awan.
"Sebentar ya tante buka gerbangnya dulu." nyonya Amanda beranjak dari duduknya untuk membuka gerbang rumahnya.
"Ayo masuk nak, tapi Awan lagi di kantor !!" perintahnya setelah gerbang rumahnya terbuka, pagar besi yang menjulang tinggi itu nampak terbuka lebar di sisi kanan dan kirinya.
"Terima kasih, tante." Alvin nampak senang sekali, seakan maksud kedatangannya mendapatkan dukungan.
"Lagi santai tante ?" imbuhnya lagi berbasa-basi.
"Iya nak, ngomong-ngomong tumben nak Alvin mampir kesini ?" tukas nyonya Amanda dengan ramah.
"Sebenarnya gini tante, tadi saya lihat ada cewek cantik masuk ke dalam sini. Apa dia keponakan tante ?" tanya Alvin dengan antusias.
"Cewek cantik ?" nyonya Amanda mengerutkan dahinya menatap pemuda seumuran putranya itu.
"Iya tante, rambutnya panjang sepinggang, pakai kaos putih dan rok jeans selutut." sahut Alvin menjelaskan.
"Ameera maksud kamu ?" nyonya Amanda menyipitkan matanya.
"Jadi namanya Ameera, tante ?" Alvin memastikan.
"Ameera menantu saya, apa dia mempunyai masalah denganmu ?" nyonya Amanda menatap curiga.
Alvin yang terkejut melebarkan matanya. "Ja-jadi cewek itu maksud saya Ameera istrinya Awan ?" tanyanya tak percaya, dirinya yang lama berada di luar kota tak banyak tahu kabar warga kompleksnya.
"Benar, Ameera menantu tante." sahut nyonya Amanda.
"Maaf tante saya pikir keponakan tante, padahal tadi saya mau kenalan." Alvin nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau begitu saya permisi tante, salam sama Awan ya." imbuhnya lagi kemudian ia berlalu meninggalkan kediaman Awan tersebut dengan salah tingkah.
"Apa dia naksir Ameera? apa istimewanya Ameera sih? nggak begitu cantik, nggak bisa kerja dan nggak bisa ngapa-ngapain juga." gerutu nyonya Amanda seraya melihat kepergian Alvin.
Malam harinya ketika Awan baru pulang, nyonya Amanda segera memanggilnya sebelum pria itu menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Ada apa sih ma? aku capek." keluh Awan seraya mendaratkan bobot tubuhnya di atas sofa samping ibunya itu.
"Ada yang mau Mama bicarakan." sahut nyonya Amanda dengan serius.
"Apa ?" Awan mulai penasaran.
"Tadi istrimu waktu mama suruh beli bubur di ruko depan, dia di cari sama Alvin. Awasi istrimu jangan sampai main di belakangmu, suami sibuk kerja kok malah asyik-asyikan sama laki-laki lain." sahut nyonya Amanda dengan wajah geramnya.
"Mama nggak bohongkan ?" Awan mengerutkan dahinya menatap ibunya.
"Nggak percaya ya sudah." nyonya Amanda mendesah kasar.
"Aku yakin Ameera tidak pernah macam-macam, ma." tukas Awan seraya beranjak dari duduknya, kemudian ia berlalu pergi menaiki anak tangga.
"Terserah kamu sih, tapi saran mama kamu tegur istrimu itu sebelum....." nyonya Amanda belum menyelesaikan perkataannya, karena Awan yang baru menaiki anak tangga langsung menyelanya.
"Stop ma." ucapnya menatap ibunya tersebut kemudian ia berlalu pergi.
Sesampainya di depan kamarnya Awan menghela napasnya sejenak untuk menetralkan emosinya.
"Mas." Ameera tersenyum lebar saat suaminya itu membuka pintu kamarnya.
Kemudian ia segera beranjak dari depan televisi lalu mencium tangan suaminya.
"Lelah ya ?" ucapnya menatap pria itu.
"Nggak juga." Awan membalas senyuman sang istri lalu memeluk pinggangnya.
"Seharian ngapain aja tadi ?" tanyanya kemudian dengan nada lembut.
"Nggak ngapa-ngapain mas, palingan jalan ke ruko depan beli makan sekalian belikan mama bubur." sahut Ameera jujur.
"Sendirian ?" selidik Awan masih dengan nada lembut.
"Mau sama siapa mas, aku mana kenal orang-orang sini. Rumah mereka di tutup semua." sahut Ameera dengan polos dan itu membuat Awan tergelak mendengarnya.
"Sayang jawab dengan jujur, tadi Mama mengatakan ada pria mencarimu. Apa kamu kenal ?" pancing Awan, suaranya ia buat sedatar mungkin agar istrinya tidak ketakutan.
"Alvin." sahut Awan seraya melihat reaksi istrinya namun wanita itu nampak biasa saja.
"Siapa dia mas? aku nggak tahu." Ameera nampak tak mengerti.
Awan mengulas senyumnya kemudian di bawanya wanita itu kedalam pelukannya. "Bukan siapa-siapa." sahutnya seraya mengusap punggung wanita itu, ia percaya istrinya itu berbicara jujur.
Lagipula ia sangat hafal dengan perangai Alvin teman kecilnya itu, seorang pria playboy yang suka mengencani banyak perempuan.
Ameera yang tak mengerti maksud pembicaraan suaminya nampak bingung namun ia malas memikirkan lebih jauh.
"Mas mandi gih, bau tahu." ledek Ameera setelah suaminya mengurai pelukannya.
"Jadi kamu nggak suka sama suamimu yang bau ini, hm ?" Awan merasa gemas.
"Nggak suka." Ameera menggeleng kepalanya dengan cepat.
"Baiklah, sepertinya istriku ini harus terbiasa dengan bau keringat suaminya." Awan langsung menarik istrinya lalu mengungkungnya di sofa kemudian ia menggelitiknya hingga membuat wanita itu berteriak kegelian.
"Mas, ampun geli. Mas nggak bau beneran aku cuma becanda tadi." Ameera menggeliat saat suaminya terus menerus menggelitiknya tanpa ampun hingga membuatnya langsung berkeringat dan ngos-ngosan.
"Sekarang kamu yang berkeringat, ayo mandi bareng." ajak Awan seraya menarik tangan istrinya agar segera bangun.
"Nggak mau, nanti mas macam-macam lagi." tolak Ameera.
"Nggak." sahut Awan.
"Beneran ?" Ameera tidak percaya.
"Hm." angguk Awan.
"Baiklah, awas macam-macam." ancam Ameera seraya mengikuti langkah suaminya.
"Tapi nggak janji." imbuhnya sesampainya di ambang pintu kamar mandi yang langsung membuat Ameera melotot.
"Mas curang." cebiknya, namun ia tak bisa menolak saat suaminya itu menariknya masuk ke dalam kamar mandi.
Hampir satu jam kemudian mereka baru keluar dari kamar mandi, Awan yang mengenakan handuk sebatas pusarnya nampak tersenyum puas.
Sementara Ameera nampak mencebik karena suaminya tak hanya mengajaknya mandi tapi juga membuatnya lelah dengan berbagai macam gaya bercinta.
"Kenapa diam, kurang puas ?" ledek Awan saat melihat istrinya terdiam di depan cermin dengan handuk melingkar sebatas dadanya.
Ameera yang masih kesal tak menjawab, ia nampak sibuk mengawasi beberapa jejak kepemilikan yang di buat suaminya di kamar mandi tadi.
Tidak hanya kulit lehernya tapi bahu, lengan dan punggungnya tak luput dari keganasan pria itu.
"Apa dia vampir ?" gerutunya dalam hati.
"Padahal aku punya berita baik loh." ucap Awan saat istrinya tak menanggapi perkataannya.
"Apa ?" Ameera langsung menoleh dengan wajah penasarannya.
"Mulai besok kamu boleh kerja di kantor." sahut Awan yang langsung membuat Ameera mengulas senyumnya.
"Beneran, mas ?" Ameera langsung antusias.
"Hm." angguk Awan.
"Terima kasih, mas." tanpa berpikir panjang Ameera berhambur ke pelukan suaminya.
Awan nampak terkekeh, sepertinya bekerja akan lebih baik buat istrinya karena ia bisa bersama setiap saat.
"Nggak ada imbalan buat suamimu ini, hm ?" ucap Awan yang langsung membuat Ameera melepaskan pelukannya.
"Imbalan apa ?" Ameera memicing, melihat pandangan nakal sang suami bisa ia tebak apa yang ada dalam pikiran pria itu.
"Jangan pura-pura tidak tahu sayang, memang apa yang di harapkan seorang suami pada istrinya hm ?" Awan menatap intens wanita itu.
Sedangkan Ameera nampak tersipu lalu membuang mukanya. "Bukannya tadi sudah ?" ucapnya dengan wajah memerah.
"Tapi kamu harus bertanggung jawab sayang, karena dia sudah bangun lagi." Awan meraih tangan istrinya lalu meletakkannya pada miliknya di balik handuk yang sudah menegang kembali.
"Mas, mesum ah." teriak Ameera.
Awan yang sudah berada di puncak gairahnya nampak menarik pelan handuk istrinya lalu membuangnya ke sembarang arah.
Setelah itu ia membawa wanita itu ke ranjangnya, mengungkung tubuh polosnya lalu menciumnya dengan lembut dan setelah itu hanya suara erangan yang memenuhi kamar tersebut.
Keesokan paginya....
"Pagi ma, pa." sapa Awan saat baru menuruni anak tangga bersama Ameera.
"Pagi..." nyonya Amanda langsung tercengang saat melihat anak menantunya itu berpenampilan modis ala kantoran.