
"Mama sangat keterlaluan." tegur Awan saat masuk ke dalam kamar wanita yang melahirkannya itu.
Nyonya Amanda yang sedang sibuk dengan ponselnya langsung mengangkat wajahnya menatap putranya tersebut.
"Apalagi sih Wan ?" tanyanya tak mengerti.
"Mama itu sangat keterlaluan, selama ini Mama tidak pernah belikan pakaian istriku tapi justru pembantu itu yang Mama belikan." protes Awan.
"Suka-suka Mama lah mau belikan siapa, kamu kan punya uang ya belikan lah istrimu." sahut nyonya Amanda dengan santai.
Awan mendesah kesal. "Bukan masalah siapa yang belikan ma, tapi perbuatan Mama itu seakan lebih sayang pembantu itu daripada menantu sendiri." terang Awan.
"itu hanya perasaanmu saja." sahut nyonya Amanda.
Awan nampak geleng-geleng kepala menghadapi sikap ibunya tersebut, kemudian ia langsung berlalu pergi sebelum amarahnya memuncak.
Keesokan harinya Ameera yang baru pulang kerja langsung di dudukkan oleh ibu mertuanya itu.
"Kamu mengadu apa sama suamimu ?" tanya sang ibu mertua to the point.
"Mengadu apa ma? saya tidak tahu." sahut Ameera tak mengerti karena ia memang tak merasa mengadu apapun pada Awan.
"Mama mau belikan baju siapa pun itu suka-suka Mama, lagipula mama belikan Mala baju karena bajunya cuma sedikit, asal kamu tahu selembar bajumu yang di belikan Awan itu jauh lebih mahal dari baju yang saya belikan ke Mala." ujar nyonya Amanda yang nampak kesal.
"Saya nggak mempermasalahkannya kok, ma." Ameera menanggapi.
"Nggak mempermasalahkannya tapi Awan marah-marah sama mama." gerutu nyonya Amanda.
"Mas Awan ngomong apa sih ke mama ?" gumam Ameera tak mengerti, padahal semalam ia tidak berniat mengadu.
"Ya sudah sana naik kamarmu, bikin pusing saja." gerutu nyonya Amanda kemudian.
Ameera nampak menghela napasnya pelan, kemudian segera beranjak dari duduknya.
Beberapa hari kemudian Ameera nampak melihat perubahan Mala yang entah kenapa gadis itu tiba-tiba memberi perhatian padanya dan bicaranya pun tak sekasar biasanya.
"Ibu mau makan? nanti saya ambilkan." ucap Mala malam itu saat Ameera baru pulang kerja bersama Awan.
"Kami sudah makan di luar." Awan menyahut dengan nada tak ramah.
"Baju cucian ibu sudah saya taruh di kamarnya ibu." ucap Mala tak peduli meski Awan bersikap kasar padanya.
Ameera nampak heran dengan sikap Mala yang sok peduli padanya, padahal biasa gadis itu selalu bersikap semena-mena berkat dukungan ibu mertuanya.
"Baiklah, terima kasih ya." sahut Ameera, kemudian ia berlalu menyusul Awan yang sudah naik ke kamarnya duluan.
Sepanjang melangkah Ameera terlihat berpikir mengenai perubahan sikap Mala yang tiba-tiba mendadak menjadi baik.
Ameera yang selalu berpikir positif nampak bersyukur jika Mala memang benar-benar berubah.
"Mas, jangan galak-galak kenapa sama Mala." Ameera menegur suaminya saat pria itu baru selesai berganti pakaian.
"Dia memang pantas di galakin, sayang." sahut Awan seraya melangkah mendekati istrinya yang sedang berdiri di depan cermin itu.
Kemudian di peluknya wanita itu dari belakang, lalu Awan meletakkan dagunya di bahu istrinya itu.
"Namanya manusia kan bisa berubah mas, siapa tahu dengan berjalannya waktu Mala berubah lebih baik." ucap Ameera mengingatkan.
"Orang kayak dia mana bisa berubah sayang yang ada tambah jadi, kalau mama tidak membelanya terus mungkin sudah ku tendang dari rumah ini dari dulu." sahut Awan dengan kesal dan itu membuat Ameera langsung berbalik badan.
"Sudah, jangan marah-marah nanti darah tinggi lagi." ucapnya menatap suaminya itu.
Awan yang melingkarkan tangannya di pinggang Ameera nampak tersenyum kecil. "Biarkan saja kan sudah ada obatnya." ucapnya dengan pandangan menggoda.
Ameera nampak tersipu, kemudian ia memcubit suaminya itu dengan gemas. Awan yang kesakitan langsung membalas dengan menggelitik wanita itu.
"Mas ampun." Ameera yang kini berada di atas kasurnya nampak meronta saat suaminya terus saja menggelitiknya.
"Makanya jangan memancingku sayang." ujar Awan yang kini berada di atas istrinya itu, pria itu nampak menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Memang ikan di pancing." ledek Ameera kembali.
Awan yang merasa gemas langsung membungkam bibir istrinya itu dengan ciumannya dan selanjutnya terjadilah apa yang memang terjadi.
Keesokan paginya...
Pagi itu Ameera nampak mendengar samar-samar ibu mertuanya sedang menegur Mala.
"Nggak kok bu biasa saja." sahut Mala beralasan.
"Biasa kok seperti itu." Nyonya Amanda sepertinya masih tak terima dengan perubahan sikap pembantunya tersebut.
Sementara itu Ameera nampak menghela napasnya kemudian ia kembali ke kamarnya.
Hingga beberapa hari kemudian sikap Mala semakin membaik pada Ameera, padahal ibu mertuanya setiap hari selalu menegurnya.
Ameera yang penasaran dengan perubahan sikap Mala, langsung memanggil gadis itu dan mengajaknya untuk berbicara.
Kini mereka berada di balkon kamar Awan, tempat ternyaman dan tentunya pembicaraan mereka akan aman karena tak ada yang bisa mendengar.
"Ada apa ya buk, memanggil saya ?" tanya Mala memulai perbincangan.
"Gini Mala, beberapa hari ini ku perhatikan kamu lebih banyak diam. Apa kamu ada masalah ?" tanya Ameera kemudian.
Mala nampak menunduk dan menutup mulutnya rapat.
"Kamu bisa cerita kok sama saya." ucap Ameera lagi saat Mala diam membisu.
Gadis itu nampak menggigit bibir bawahnya, seakan banyak sekali yang ingin di bicarakan tapi ragu untuk memulai.
"Ceritamu akan menjadi rahasia saya." imbuh Ameera meyakinkan.
"Sebenarnya saya ingin minta maaf sama ibu." ucap Mala pada akhirnya.
"Aku sudah lama memaafkan mu." sahut Ameera.
"Saya sangat merasa bersalah bu, selama ini saya sudah bersikap jahat pada ibu tapi ibu sedikit pun tak pernah membalasnya." ucap Mala sambil terisak.
Ameera nampak tercengang dengan perkataan Mala, namun kemudian ia langsung mengulas senyumnya.
Semoga saja Mala benar-benar berubah menjadi lebih baik lagi.
"Kita tidak harus membalas perbuatan jahat orang lain, cukup kita doakan saja yang baik-baik. Saya percaya setiap perbuatan baik maupun buruk itu ada balasannya masing-masing." ucap Ameera yang semakin membuat Mala terisak, lalu Ameera mencoba memeluknya.
"Saya minta maaf bu, selama ini saya di suruh oleh nyonya." ucap Mala yang membuat Ameera langsung tercengang, sebenarnya sudah ia duga tapi rasanya sakit sekali saat mengetahui sendiri dari mulut Mala.
"Sudah nggak apa-apa, aku yakin kamu orang baik dan akan selalu menjadi baik." imbuh Ameera meyakinkan pembantunya tersebut.
Malam harinya saat Ameera turun untuk mengambil botol air minumnya, samar-samar ia mendengar ibu mertuanya itu lagi berbincang dengan seseorang.
"Kamu ngapain dekat-dekat sama dia, saya tidak suka ya kamu terlalu akrab sama Merra." ujar nyonya Amanda menegur pembantunya itu.
"Saya tidak ngapa-ngapain kok bu." Mala membela diri.
"Pokoknya saya tidak mau lihat lagi kamu sok akrab dengan menantu saya, mengerti !!" tegas nyonya Amanda kemudian.
"I-iya bu." sahut Mala dengan patuh.
"Ya sudah kamu pergi tidur sana." perintah nyonya Amanda kemudian yang langsung membuat Mala beranjak dari duduknya.
Saat gadis itu melangkah melewati Ameera, nampak diam membisu.
Ehm
Ameera langsung berdehem kecil saat melangkah ke dapur dan nyonya Amanda terlihat salah tingkah.
"Belum tidur, nak ?" tanyanya basa-basi.
"Belum ma, mau mengambil air putih." sahut Ameera.
"Oh, yasudah mama mau tidur duluan." ucap nyonya Amanda kemudian berlalu pergi.
Ameera nampak menatapnya dengan sendu. "Sebenarnya apa salahku sih ma hingga Mama sangat membenciku ?" gumamnya tak mengerti.
Keesokan harinya....
Ameera dan Awan yang baru turun, nampak terkejut saat melihat Mala tiba-tiba mendatanginya.
"Maaf pak, bu saya ingin mengundurkan diri dan pulang ke kampung." ucap Mala yang langsung membuat nyonya Amanda yang baru keluar dari kamarnya juga terkejut.
"Apa ?" ujarnya tak percaya.