Ameera

Ameera
Part~124



"Ayah, bangun yah. Meera mohon, bangun yah."


Malam itu Ameera langsung berteriak histeris saat menyaksikan sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang beberapa hari di ICU karena pendarahan otak.


Rupanya nasihat sang ayah beberapa bulan yang lalu adalah pertanda jika pria paruh baya itu akan pergi selamanya.


"Yah ku mohon bangunlah, Meera tidak mau di tinggal ayah. Nanti siapa yang akan memelukku saat aku sedih ayah, cuma Ayah yang paling mengerti aku." Meera nampak memeluk jasad sang ayah dengan erat, jika Tuhan mengizinkan dia juga ingin ikut sang ayah pergi selamanya.


"Sayang, tenangkan dirimu. Masih ada aku yang akan selalu menjagamu." Awan berusaha membujuk sang istri, meyakinkan jika masih ada dirinya yang akan selalu ada di sisinya.


"Ayah, ku mohon." Ameera masih keukeh berada di sisi sang ayah meski suaminya telah membujuknya dengan berbagai cara.


"Aku nggak mau ayah pergi mas, aku nggak mau." Ameera semakin histeris, selama ini ayahnya adalah sosok pelindung baginya lalu jika pria itu telah pergi bagaimana dengan dirinya meski ia masih mempunyai Awan tapi itu rasanya berbeda.


Sebulan telah berlalu sejak kematian sang ayah dan Meera masih bertahan tinggal di rumah orang tuanya, ia tidak ingin meninggalkan kenangannya bersama pria sebagai cinta pertamanya itu.


Setiap saat Ameera selalu hidup dalam bayang-bayang sang ayah, seakan pria itu masih bernafas di sisinya. Hingga kewajibannya sebagai seorang istri sedikit terabaikan karena ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melamun.


Ameera benar-benar terpukul dengan kepergian ayahnya itu, separuh jiwanya seakan ikut bersama pria yang selalu ada dan membelanya tersebut.


"Wan, ini sudah dua bulan istrimu tinggal di kampung apa dia tidak niat kembali ke rumah kalian." ucap nyonya Amanda sore itu saat Awan mampir sejenak ke rumah orang tuanya setelah pulang bekerja.


Sudah dua bulan ini pria itu bolak balik dari kantor ke rumah sang mertua, meski jauh Awan sedikit pun tak mempermasalahkannya karena semua demi sang istri yang sampai saat ini masih saja berduka.


"Nanti pulang ma, setelah Ameera merasa lebih baik." sahut Awan.


"Nanti kapan? ingat Wan kamu sewa rumah itu tidak murah jadi sayang kalau di biarkan kosong terus. Meera jadi istri kok nggak ngerti sama sekali, apa dia juga nggak mikir kamu kalau berangkat kerja dari sana itu kejahuan ?" Nyonya Amanda terlihat sangat kesal.


"Sudahlah ma, aku harus segera pulang keburu malam." Awan segera pamit, ia lama-lama stres juga mendengar ocehan sang ibu meski itu benar sekali pun.


Waktu pun telah berlalu kini setelah tiga bulan kematian sang ayah Ameera sudah kembali ke rumahnya. meski masih suka termenung namun wanita itu tak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.


Ameera juga mulai berbisnis lagi setelah tiga bulan libur, wanita itu ingin menyibukkan dirinya karena ada atau tidak ada sang ayah hidup harus terus berjalan.


Ia bersyukur mempunyai suami seperti Awan yang selalu mengerti dirinya, pria itu tak pernah mengeluh jika ia juga banyak kurangnya sebagai seorang istri.


Dan karena pengertian pria itu juga ia bisa bertahan hingga 3 tahun pernikahan, ya ini adalah tahun ketiga Ameera dan Awan berumah tangga.


Meski Tuhan belum memberikan seorang anak di tengah-tengah keluarga kecil mereka tapi kemesraan keduanya tak pernah pupus.


Setiap hari mereka bersikap layaknya pengantin baru meski terkadang ada sedikit pertengkaran namun mereka bisa mengatasinya.


Seperti malam itu saat Awan sedang membersihkan dirinya Ameera nampak mengecek ponsel pria itu, hal yang selalu ia lakukan sejak pertama kali menikah.


Wanita itu nampak berselancar di sosial media milik suaminya, ia sendiri tak memiliki akun sosmed karena pria itu melarangnya.


Awan yang memiliki kecemburuan tingkat akut selalu membatasi pergaulan sang istri baik di dunia nyata maupun maya dan memilih membuat akun satu untuk mereka gunakan berdua.


"Ini siapa ya, perasaan akhir-akhir ini sering sekali menyukai status yang ku buat ?" gumamnya saat melihat sebuah akun seorang wanita.


Meski akun sosmed milik suaminya namun justru Ameera yang banyak menguasainya dan lebih sering ngeshare apapun itu dan setiap kali ia ngeshare sesuatu pasti akun wanita itu yang selalu duluan merespon atau bahkan tak jarang memberikan sebuah komentar bernada perhatian.


Padahal ia lebih sering mengeshare kemesraan dengan suaminya itu.


"Sepertinya kamu ingin bermain-main denganku mas, kita sudah sampai sejauh ini awas saja kamu macam-macam." gumam Ameera lagi, untuk sementara waktu biarlah ia pantau dahulu.


Ameera ingin melihat sejauh mana kesetiaan sang suami padanya.


"Serius amat sayang ?"


Ameera langsung berjingkat kaget saat tiba-tiba suaminya mendekatinya, saking seriusnya ia sampai tak sadar pria itu telah berganti pakaian.


"Eh nggak kok mas, lagi baca-baca status teman-temannya mas." sahut Ameera beralasan.


"Nggak kebalik mas ?" sindir Ameera.


"Astaga sayang, kamu ngomong apa sih." Awan langsung mencubit hidung istrinya itu.


"Memang kesetiaanku masih kamu ragukan ?" imbuhnya lagi dengan gemas.


"Siapa tahu mas, namanya manusiakan kadang suka khilaf." sahut Ameera seraya beranjak dari duduknya, namun Awan langsung menahan tangannya.


"Kalau aku khilaf pasti kamu tahu duluan sayang, kan ponselku ada sama kamu kapan pun kamu bisa mengeceknya." terang Awan.


"Iya aku percaya mas." timpal Ameera dengan wajah sedikit murung.


"Percaya tapi ngambek." sindir Awan.


"Nggak ngambek." keukeh Ameera.


"Nggak ngambek tapi ini kenapa manyun ?" Awan langsung meraih kedua pipi Ameera lalu menekannya hingga bibir wanita itu semakin manyun.


Cup


Sebuah kecupan berhasil mendarat di bibir Ameera hingga membuat wanita itu nampak tersenyum namun juga kesal.


"Sudah jangan ngambek lagi, yuk makan." ajak Awan kemudian.


"Hm, ayo." Ameera mengangguk kecil lalu melangkahkan kakinya menjauh.


"Tunggu dulu kamu mau kemana sayang ?" Awan langsung menarik kembali tangan sang istri.


"Katakan tadi lapar." timpal Ameera.


"Makan yang lain maksudku." Awan menatap nakal istrinya tersebut.


"Aku lagi kesal mas dan nggak mood." tolak Ameera ia masih kepikiran dengan wanita yang beberapa hari ini intens menyukai status yang ia buat di akun sang suami.


"Ayolah sayang aku sejak tadi sudah kepingin, masa kamu nggak kasihan sama aku. Janji deh sebentar aja." mohon Awan dengan wajah memelas.


"Nggak jamin kalau sebentar." timpal Ameera dengan suara masih kesal.


"Janji sebentar, tapi habis makan lagi ya ?" ucap Awan dengan tersenyum menggoda.


"Sudah ku tebak." gerutu Ameera namun selanjutnya ia tak berkutik saat suaminya mendorongnya ke atas ranjangnya dan terjadilah apa yang memang harus terjadi.


Ting


Malam itu Ameera yang akan beranjak tidur setelah percintaan mereka untuk kedua kalinya langsung mengerjapkan matanya ketika mendengar sebuah notifikasi di ponsel suaminya.


Ia melihat sang suami sudah mendengkur halus, pria itu pasti kelelahan setelah mengerjai dirinya.


Ameera segera mengambil ponsel suaminya di atas nakas lalu segera mengeceknya.


"Maaf mas mengganggu, mas sudah tidur kah ?"


Sebuah pesan yang di kirim oleh seorang wanita yang langsung membuat Ameera mengernyit.


"Siapa dia ?" gumamnya lalu Ameera mencoba mencari tahu dan rupanya sang pengirim adalah wanita yang sama dengan yang selalu menyukai status yang ia buat di sosial media suaminya.


"Awas kamu mas, jika macam-macam padaku. Selama ini aku sudah banyak berkorban untukmu."


Ameera nampak menatap suaminya yang sudah tertidur pulas, pria keturunan Belanda dari sang ibu itu memang sangat tampan tapi bukan berarti dia bisa mempermainkannya begitu saja.