Ameera

Ameera
Part~133



Malam itu Awan nampak pulang ke rumahnya dengan wajah murung, sepertinya pria itu masih memikirkan perkataan sang ibu di rumahnya tadi.


"Kenapa tidak kamu ceraikan saja istrimu itu Wan dan menikahlah dengan wanita lain yang bisa memberikan mu seorang anak ?" ucap nyonya Amanda sore itu ketika sang putra mampir ke kediamannya selepas pulang bekerja.


"Ma, apa-apaan sih? sedikit pun aku tak pernah berpikir untuk menceraikan istriku." tegas Awan, ia begitu mencintai istrinya jadi mana mungkin ia menceraikan wanita itu setelah sekian lama mereka berjuang bersama-sama bahkan dalam mimpi pun ia takkan melakukan hal itu.


"Ya sudah kalau begitu menikah saja lagi, toh rumahmu sudah lunas jugakan." timpal Nyonya Amanda mengalir begitu saja.


"Stop Ma, aku tidak akan menceraikan istriku apalagi menikah lagi." tegas Awan dengan kesal saat ibunya mulai bicara yang tidak-tidak.


"Lalu sampai kapan kamu akan menunggu istrimu itu hamil? ingat Wan wanita semakin bertambah usia semakin sulit untuk hamil, apa kamu mau menunggu Ameera hamil sampai tua ?" sungut nyonya Amanda dengan tak sabar.


Awan nampak mendesah kasar, kenapa rumah tangganya jadi serumit ini. Meski ia juga menginginkan seorang anak, tapi ia juga tak memaksa jika memang Tuhan belum memberikannya kepercayaan.


"Saat kita tua siapa lagi yang akan mengurus kita jika bukan anak, Wan. Kamu mati pun anak juga yang akan mendoakan mu di sana. Mama dan Papa pada akhirnya juga akan mati, lalu siapa yang akan mengurusmu saat sakit nanti jika istrmu pun juga sudah tua. Ingat kasih sayang anak itu jauh berbeda dengan orang lain." ucap nyonya Amanda panjang lebar yang membuat Awan semakin pusing dan akhirnya pria itu memutuskan untuk beranjak.


"Mas, kamu sakit ?" Ameera terlihat khawatir saat melihat suaminya kurang semangat malam itu.


"Aku baik-baik saja." sahut Awan seraya berlalu masuk ke dalam kamarnya.


"Ya sudah mas mandi dulu sana, aku akan siapkan makan malam untuk kita." perintah Ameera kemudian.


"Terima kasih." sahut Awan.


"Kemarilah !!" imbuhnya lagi menyuruh istrinya itu untuk mendekat.


"Kamu mencintaiku kan ?" ucapnya seraya memeluk pinggang wanita itu.


"Tentu saja mas, tumben kamu bertanya seperti itu ?" Ameera nampak mengernyit dengan sikap tak biasa suamiku tersebut, tentu saja ia sangat mencintai pria itu.


"Aku juga sangat mencintaimu." ucap Awan lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukannya, sungguh sedikit pun ia tak berpikir untuk bercerai atau menikah lagi sesuai ide gila ibunya tersebut.


Ameera nampak mengulas senyumnya, ia merasa sangat bahagia karena begitu di cintai oleh suaminya. Meski mereka belum kunjung memiliki seorang anak tapi cinta pria itu tak pernah berubah dan ia sangat bersyukur untuk itu.


Beberapa hari kemudian....


Siang itu Awan nampak meeting di luar bersama rekan kerjanya, kemudian setelah selesai meeting mereka kembali ke kantornya.


"Mas, bagaimana jika mampir makan siang dulu sepertinya maagku tiba-tiba kambuh." ucap seorang wanita sebagai rekan sekantor Awan yang terlihat sedikit meringis menahan perutnya yang melilit.


Awan nampak menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah waktunya makan siang. Lalu ia menatap wanita cantik tak jauh darinya itu dengan memegangi perutnya yang sepertinya sedang sakit.


Karena merasa kasihan akhirnya Awan menyetujui rekan kerjanya tersebut, meski ini untuk pertama kalinya ia makan hanya berdua dengan seorang wanita selain istrinya.


"Maaf mas merepotkan, maagku benar-benar tak bisa di tahan." wanita bernama Karen itu merasa tak enak hati karena membuat Awan mengikuti kemauannya.


"Tidak apa-apa, kenapa bisa kambuh memang tidak sarapan ?" timpal Awan kemudian.


Awan nampak sedikit tercengang, ia pikir wanita muda yang duduk di hadapannya itu masih single ternyata telah menikah dan beranak dua pula.


"Memang suamimu tidak ikut membantu, biasanya anak-anak akan lebih tenang jika bersama ayahnya." timpal Awan mengingat ponakannya jika rewel pasti akan kembali tenang jika bersama ayahnya.


Mendengar ucapan Awan, Karen nampak menghela napasnya. "Aku single mom mas, kami sudah bercerai karena perbedaan prinsip." sahutnya kemudian.


"Maaf mas, kita jadi berbicara terlalu jauh." imbuh Karen lagi.


Awan lagi-lagi tercengang saat mengetahui status wanita itu, rupanya tak semua pernikahan itu berjalan dengan mulus.


"Mas sendiri sudah berapa anaknya ?" tanya Karen balik, selama ini ia hanya bisa menatap Awan dari kejauhan atau saat ada kesempatan berbicara itu pun hanya seputaran pekerjaan mengingat pria itu selalu menjaga jarak dengan wanita.


Karen paham mungkin pria itu ingin menjaga hati istrinya dan melihat itu ia merasa iri, mengingat mantan suaminya dulu sama sekali tak pernah menghargainya.


"Tuhan belum memberikan kami kepercayaan." sahut Awan jujur.


"Oh, yang sabar ya mas memang tak semua wanita itu bisa langsung hamil setelah menikah." Karen mencoba membesarkan hati pria itu.


Kemudian wanita itu mengalihkan pembicaraan ke hal lain agar pria itu tak merasa canggung, karena ia bukan tipe wanita yang bisa berdiam-diaman dalam waktu lama.


Setelah berbincang beberapa waktu Karen merasa Awan tak sekaku perkiraannya, rupanya pria itu juga menyenangkan jika mereka sudah saling mengenal dengan baik.


"Beruntung sekali yang menjadi istrinya mas, karena sepertinya mas sangat mencintainya." ucap Karen menimpali setelah pria itu membahas istrinya.


"Aku yang beruntung memilikinya, dia wanita yang paling mengerti aku." sahut Awan di sela kunyahannya.


Karen nampak mengangguk kecil, tiba-tiba saja ia begitu mengagumi sosok lelaki di hadapannya itu. Andai saja mantan suaminya dulu seperti pria itu, mereka pasti tidak akan pernah bercerai.


Jalan hidup seseorang memang berbeda-beda tapi bolehkah ia merasa iri dengan wanita yang di maksud oleh pria itu?


Wanita yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga tapi begitu di cintai oleh suaminya bahkan wanita itu juga tak dapat memberikan seorang anak.


Sedangkan dirinya menurutnya sudah sangat sempurna, ia wanita karir dan dapat melahirkan dua orang anak tapi kenapa perjalanan rumah tangganya tak seberuntung itu?


Seandainya suaminya itu adalah pria yang duduk di hadapan saat ini, mungkin ia akan menjadi wanita paling sempurna di muka bumi ini.


Akhirnya Karen hanya bisa berhayal dengan sesekali melirik wajah Awan yang terlihat sedang fokus dengan ponselnya, sepertinya pria itu sedang berkirim pesan dengan istrinya karena sesekali nampak tersenyum bahagia.


Di sela mereka menghabiskan makan siangnya, tiba-tiba seseorang datang menghampiri meja mereka.


"Mama ?" Awan nampak terkejut saat melihat kedatangan ibunya yang tiba-tiba di restoran tempatnya ia makan siang bersama dengan rekan kerjanya tersebut.


"Wan, kok kamu di sini ?" ucap nyonya Amanda dengan mengulas senyumnya seraya menatap Awan dan wanita cantik yang bersama putranya tersebut bergantian.