Ameera

Ameera
Permintaan terakhir Awan



šŸ’„Terkadang seseorang menjadi sombong saat ia merasa lebih jika di bandingkan sekitarnya, namun ia lupa kalau itu hanya sementarašŸ’„


"Kenapa kamu pukul anak saya ?" nyonya Amanda yang baru masuk langsung memicing saat melihat Ameera memukul dada bidang putranya.


"Apaan sih ma, Ameera cuma becanda." sela Awan membela Ameera.


"Becanda kok sampai mukul." gerutu nyonya Amanda sembari berjalan mendekat.


"Sudah sana biarkan Awan beristirahat." imbuhnya lagi menyuruh Ameera menjauh hingga membuat gadis itu beranjak dari duduknya meski Awan nampak keberatan.


Ameera yang merasa selalu salah akhirnya hanya bisa mengalah lalu menjauh tanpa banyak protes.


Karena semenjak ia berada di rumah sakit ini calon ibu mertuanya itu selalu sinis padanya.


"Sayang, maaf ya atas perlakuan mama." ucap Awan pagi itu setelah hampir seminggu Ameera merawatnya di rumah sakit, gadis itu sama sekali tidak mengeluh meski ibunya kadang memperlakukannya dengan kurang baik.


"Nggak apa-apa kok, mas." Ameera mencoba tersenyum meski selama satu minggu ini ia selalu berkecil hati karena perlakuan calon ibu mertuanya itu.


"Nanti setiap akhir pekan kesini lagi ya, aku yang belikan tiket pulang pergi." mohon Awan.


Pria itu terlihat sedikit segar dan tidak pucat seperti sebelumnya namun jarum infus masih nampak menancap di punggung tangannya.


"Aku nggak janji ya mas, mas tahu sendirikan aku tidak punya hari libur. Pak Mario selalu saja membuatku lembur." keluh Ameera.


"Itu urusanku nanti sayang, yang penting kamu kesini." tegas Awan.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang ya mas." Ameera mengambil tas ranselnya yang berisi pakaian.


"Bisa nggak di sini terus sayang, aku kesepian." Awan meraih tangan Ameera lalu menggenggamnya.


"Kan ada keluarganya mas yang akan jagain." bujuk Ameera.


"Tapi aku maunya kamu." sahut Awan dengan wajah kecewa.


"Mas..." Ameera sepertinya lelah membujuk.


"Baiklah tapi kamu jangan macam-macam ya, jangan lirik-lirik cowok lain kalau tidak mau ku patahkan tulang mereka." tukas Awan dengan nada ancaman.


"Maskan lagi sakit, bagaimana mau mematahkan tulang mereka ?" goda Ameera sembari terkekeh.


"Sayang." Awan merajuk.


"Becanda, mas." rayu Ameera seraya tersenyum manis menatap kekasihnya tersebut.


"Kamu mau main-main sama aku sepertinya." Awan langsung menarik Ameera hingga jatuh ke pangkuannya lalu di lum4tnya bibir gadis itu dengan rakus.


Namun tiba-tiba pintu ruangannya di buka hingga membuat tautan bibir mereka terlepas, lalu Ameera segera beranjak dari pangkuan Awan.


Bibirnya nampak basah dan bengkak dan itu membuat Awan terkekeh menatapnya.


"Sudah siap Nak, ayo di tunggu sopir di bawa." ucap pak Djoyo yang baru masuk dengan sang istri.


"Sudah Om, tante. Kalau begitu saya pamit." Ameera langsung mencium tangan kedua calon mertuanya itu dengan takzim.


"Mas, aku pulang ya." Ameera mengambil tangan Awan lalu menciumnya juga.


Awan yang enggan di tinggal langsung menarik Ameera ke dalam pelukannya. "Berjanjilah jangan macam-macam." bisiknya dengan nada memohon.


"Iya, mas." Ameera mengangguk dalam pelukannya.


Sedangkan nyonya Amanda yang melihat mereka berpelukan nampak mendengus. "Sudah, kasihan pak sopir di bawah nungguin." ucapnya yang langsung membuat Awan melepaskan pelukannya.


Mereka nampak saling bertatapan sejenak setelah itu Ameera segera berlalu pergi.


Sepanjang koridor gadis itu nampak terisak, ia sangat mencintai Awan namun di sisi lain ibunya seakan mematik api permusuhan dengannya.


Beberapa hari kemudian....


"Nak, kamu baik-baik saja ?" nyonya Amanda yang baru masuk ruangan Awan nampak terkejut saat melihat putranya itu jatuh dari atas brankar.


"Dok, bagaimana keadaan putra saya? kata dokter setelah operasi akan membaik ?" tanyanya dengan wajah cemas sekaligus menuntut.


"Maaf bu sebelumnya, tapi pak Awan sudah mengalami komplikasi berat dan kini tulang belakangnya juga terkena dampaknya jadi kami memutuskan untuk melakukan operasi kembali setelah beliau sedikit membaik." sahut dokter tersebut menjelaskan.


"Tapi putra saya akan sehat dan bisa jalan kembali kan? tolong lakukan apapun dok, masalah biaya dokter jangan khawatir." nyonya Amanda nampak memohon seakan hanya dokterlah satu-satunya yang bisa menyembuhkan Awan.


"Kami akan berusaha bu dan tolong bantu doanya untuk kesembuhan anak ibu, karena bagaimana pun hanya atas izin Allah pak Awan bisa sembuh." sahut dokter tersebut yang langsung membuat wanita paruh baya itu nampak tercengang, sudah lama sekali ia tidak pernah berdoa karena selama ini hidupnya tak pernah ada masalah.


"Apa karena selama ini aku tidak pernah berdoa? jadi Awan sakit parah seperti ini ?" gumamnya, namun kemudian ia langsung menggelengkan kepalanya.


Ia mengingkari pikirannya sendiri, karena di luar sana banyak orang lain yang berdoa tapi masih tertimpa masalah.


Lagipula ia mempunyai banyak uang dan semua masalah akan terselesaikan dengan uang pikirnya.


Setelah dokter tersebut pergi, nyonya Amanda langsung mendekati putranya tersebut.


"Kamu tidak apa-apakan, Nak ?" tanyanya dengan khawatir.


Awan langsung menggeleng pelan hingga membuat sang ibu merasa lega.


Hampir satu bulan Awan di rawat namun bukannya sembuh tapi sakitnya bertambah parah, bahkan pria itu kini terlihat sangat kurus dengan wajah pucat pasi.


"Nak katakan kamu mau apa, nanti Papa pulang kantor biar di belikan ?" bujuk nyonya Amanda karena makin hari nafsu makan putranya berkurang.


Awan setiap hari hanya tidur di atas brankar, karena untuk berdiri pun sudah tidak mampu.


"Aku hanya mau Ameera, ma." sahut Awan pelan.


"Diakan sibuk kerja, nak." sahut nyonya Amanda beralasan, karena sebenarnya ia tidak menyukai kehadiran gadis itu.


Selain tidak sederajat, Ameera selalu merebut perhatian Awan darinya. Di mata putranya hanya ada Ameera seorang dan ia sebagai ibu yang melahirkannya merasa iri.


"Aku tidak memintanya untuk kesini Ma, aku hanya ingin mendengar suaranya." sahut Awan dengan nada memohon.


Sejak penyakit Awan mulai parah, ibunya itu memang menyimpan ponselnya agar sang putra bisa beristirahat.


Melihat anak kesayangannya memohon dengan wajah memelas akhirnya nyonya Amanda memberikan ponselnya kembali.


"Hubungi dia." ucapnya kemudian.


"Terima kasih, ma." Awan nampak senang, kemudian ia langsung menghubungi Ameera.


"Hallo assalamualaikum mas, kamu kemana aja dua hari ini ponselmu nggak aktif ?" Ameera yang berada di seberang telepon terdengar khawatir saat ia tiba-tiba menghubunginya.


"Aku baik-baik saja sayang, ponselku batrenya habis." dusta Awan, padahal dua hari lalu ia sedang menjalani operasi.


"Tapi kamu baik-baik sajakan ?"


"Aku baik-baik saja sayang, kamu jangan khawatir." dusta Awan lagi, sungguh ia tidak ingin membuat kekasihnya itu khawatir dengan keadaannya yang makin hari makin menurun.


"Syukurlah, maaf ya aku belum dapat ijin buat jenguk mas." Ameera terdengar merasa bersalah.


"Nggak apa-apa sayang, kamu fokus kerja saja." Awan berusaha meyakinkan.


Dan beberapa saat kemudian ia segera mengakhiri panggilannya saat perawat hendak mengambil darahnya lagi. Karena setiap hari sampel darahnya akan di ambil untuk mengetahui keadaannya.


"Nak, katakan jika kamu sembuh nanti minta apa? mama dan papa pasti akan mengabulkannya, apa kamu mau liburan ?" tanya nyonya Amanda sore itu sebelum Awan kembali masuk ke ruang operasi.


"Beneran mama akan mengabulkannya ?" tanya balik Awan menatap sang ibu.


"Tentu saja, benarkan pa ?" nyonya Amanda langsung menatap suaminya meminta persetujuan.


"Benar, nak. Apapun itu." sahut pak Djoyo dengan yakin.


"Baiklah, jika sembuh nanti aku ingin mama dan papa melamar Ameera pada orang tuanya." sahut Awan yang langsung membuat nyonya Amanda melebarkan matanya.