Ameera

Ameera
Part~81



"Jangan ada yang mengganggu Ameera dan Awan !!" tegas Erick menatap keluarga besarnya satu persatu hingga membuat mereka terdiam.


Nyonya Amanda yang akan protes langsung menutup mulutnya kembali saat adik lelaki satu-satunya itu bersikap tegas.


"Sekarang kalian pergilah ke kamar, nikmati bulan madu kalian dan jangan merasa tertekan." ucap Erick seraya menatap Ameera.


Pria itu seakan tahu apa yang Ameera alami selama menjadi menantu di keluarga besarnya.


"Terima kasih, om." ucap Awan merasa bersyukur, setelah itu ia mengajak sang istri meninggalkan restoran tersebut.


"Rick, kamu terlalu berlebihan." tegur nyonya Amanda setelah putra dan menantunya pergi.


Erick nampak geleng-geleng kepala, sepertinya sang kakak ingin melampiaskan masa lalunya yang kelam dengan keluarga suaminya pada Ameera.


"Kak, tolong jangan jadikan Ameera pelampiasan karena masa lalu kakak yang...." ucapan pria itu tertahan setelah nyonya Amanda memotongnya.


"Jangan ikut campur keluarga kakak, Rick." tegur nyonya Amanda menatap adiknya tersebut, kemudian ia mengajak suami beserta saudaranya yang lain untuk kembali ke kamar.


Sementara itu Awan dan Ameera nampak baru selesai memindahkan barang-barangnya ke kamar hotelnya yang baru.


"Om Erick sangat baik ya, mas" ucap Ameera setelah membersihkan dirinya di kamar mandi.


Awan hanya menanggapinya dengan senyuman, biarlah hanya dirinya dan pamannya yang tahu bagaimana bisa mendapatkan kamar yang ia tempati sekarang.


Ia sangat mencintai istrinya itu, namun ia juga sangat menyayangi ibunya. Ia akan mencintai istrinya dengan caranya dan tanpa melukai hati sang ibu yang mungkin hingga saat ini masih belum sepenuhnya merestui pernikahannya.


"Iya, Om Erick memang sangat baik." sahutnya kemudian saat melihat istrinya sedang menunggu jawabannya.


Wanita itu nampak mengenakan piyama tidur berlengan panjang bergambar boneka yang terlihat lucu, namun justru aneh di mata Awan.


"Sayang, aku baru lihat baju tidurmu ?" Awan menatap aneh istrinya.


"Lucu kan? ini aku beli kemarin. Kata mama di puncak dingin jadi harus pakai pakaian hangat." sahut Ameera dengan polos mengingat bagaimana ibu mertuanya menasihati agar tidak berpakaian terbuka saat berada di puncak.


Melihat istrinya yang masih saja polos membuat Awan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku seperti tidur dengan bayi." gerutunya kemudian.


"Kok gitu ?" Ameera nampak mencebikkan bibirnya.


"Sayang, kalau kamu bukan bayi lalu ngapain pakai baju seperti itu." tegur Awan dengan gemas.


"Jelek ya ?" Ameera memperhatikan penampilannya sendiri.


"Iya jelek." sahut Awan dengan jujur, wanita itu sepertinya tak mengerti bagaimana cara menyenangkan suaminya.


"Ya sudah aku ganti saja padahal sudah bawa tiga pasang." Ameera beranjak dari duduknya.


"Tunggu, pakai ini pasti kamu terlihat lebih cantik." Awan mengambil bingkisan dari dalam kopernya.


Ameera melebarkan matanya, perasaan dia tidak merasa meletakkan bingkisan yang entah isinya apa di dalam koper suaminya tersebut.


"Ini apa, Mas ?" tanyanya penasaran.


"Sudah pakai saja di kamar mandi." perintah Awan tak sabar.


"Tapi mas..." Ameera nampak ragu.


"Sayang, kamu tahu kan jika menyenangkan suami itu pahalanya besar? jadi sekarang pakai itu karena aku pasti akan sangat senang melihat bagaimana cantiknya istriku." potong Awan tak mau di bantah.


"Hm." meski ragu Ameera tetap mengangguk, kemudian ia berlalu masuk kembali ke dalam kamar mandi.


Sementara Awan nampak tak sabar melihat penampilan wanita itu, sudah beberapa bulan menjadi istrinya Ameera masih tetap saja polos jika menyangkut urusan ranjang.


Padahal sebagai laki-laki ia ingin sesekali melihat istrinya bersikap liar saat melayani hasratnya.


Sementara itu Ameera nampak melebarkan matanya setelah membuka bingkisan dari suaminya tersebut.


Sebuah pakaian berwarna merah kekurangan bahan dengan beberapa tali serta pita.


"Perasaan saringan di kampung harganya murah, kenapa ini bisa semahal ini." gumamnya lagi dengan polos.


Kemudian Ameera menempelkan pakaian tersebut ke tubuhnya lalu berkaca di cermin. "Astaga, pakai atau tidak seperti tak ada bedanya." gumamnya, rasanya enggan sekali memakainya.


Namun saat mengingat perkataan suaminya bahwa menyenangkan suami itu pahalanya besar, membuatnya mau tak mau memakainya meski ada perasaan malu saat melihat tubuhnya sendiri di depan cermin.


"Sayang, sudah belum ?" teriak Awan dari luar hingga membuat Ameera menggigit bibirnya sendiri.


Meski sudah berulang kali bercinta dengan suaminya tapi masih saja ia merasa malu jika penampilannya yang hampir polos itu akan di perhatikan oleh pria itu.


"I-iya mas." jawabnya, setelah itu ia membuka pintu kamar mandi dengan ragu.


Awan nampak menahan napasnya saat melihat istrinya yang dengan malu-malu keluar dari kamar mandi dengan lingeri membalut tubuhnya.


"You are so sexy, sayang." ucapnya sembari beranjak dari tidurnya lalu menghampiri istrinya yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Aku malu, mas. Ini pakaian apa sih seperti saringan teh." Ameera nampak risih dengan tatapan nakal sang suami.


Awan tergelak, sungguh istrinya itu tak bisa di ajak romantis. "Ini namanya lingeri sayang." ucapnya memberi tahu, lalu menyingkirkan tangan wanita itu yang sedari tadi menutupi dadanya.


Seketika Awan menelan ludahnya saat melihat gundukan indah milik istrinya itu nampak menantang dari balik kain yang menerawang tersebut.


Puncaknya yang berwarna merah muda itu nampak mengeras karena dinginnya udara puncak yang membuatnya tak sabar untuk segera m3lum4tnya.


Namun ia tidak ingin terburu-buru, ia ingin menikmati setiap detik malam yang dingin itu bersama sang istri.


Lalu di pegangnya dagu wanita itu yang sedari tadi nampak memalingkan wajahnya karena malu.


Sejenak mata mereka saling menatap, namun kemudian Awan langsung mendekatkan wajahnya lalu memanggut bibir ranum istrinya itu.


Di lum4tnya dengan lembut dan sesekali menyesapnya hingga membuat wanita itu semakin terbuai.


Masih dengan posisi berciuman, Awan nampak melepaskan lingeri istrinya dengan perlahan lalu membiarkannya jatuh diatas lantai, lalu di r3m4sny4 gundukan indah yang sedari tadi menggodanya itu dengan lembut.


Ameera mendesah tertahan, namun kemudian ia merasakan tubuhnya melayang saat suaminya membopongnya lalu merebahkannya di kasur.


Pria itu langsung melucuti pakaiannya sendiri lalu menindih istrinya yang nampak tak berdaya karena sentuhan nakalnya.


Di lum4tnya kembali bibir wanita itu dengan lembut kemudian ciumannya perlahan turun ke leher putihnya lalu di tinggalkannya beberapa jejak kepemilikan di sana.


Sampai di depan gundukan indah yang seakan menantangnya, ia segera m3lum4tnya dengan rakus seperti bayi yang sedang kehausan.


Tak ingin menahan gairahnya lebih lama, Awan langsung memposisikan miliknya di antara kedua paha wanita itu lalu perlahan memasukinya hingga membuat keduanya merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Awan berdoa semoga kali ini akan ada yang tumbuh di rahim istrinya sebagai penguat pernikahannya jika kelak ada gelombang ujian yang menghampiri rumah tangganya.


Keesokan harinya.....


Pagi itu Ameera nampak mengerjapkan matanya saat mendengar bel kamarnya, namun hanya sesaat karena setelah itu tak terdengar lagi.


Mungkin petugas hotel yang ingin membersihkan kamarnya, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Semalam menjelang subuh ia baru tidur, karena suaminya terus menerus membuatnya lelah.


Lalu di pandangnya sang suami yang nampak mendengkur halus, sepertinya pria itu sangat nyenyak karena tak terganggu oleh bunyi bel yang lumayan nyaring.


Beberapa saat kemudian terdengar bel kamarnya lagi, Ameera yang penasaran segera beranjak dari tidurnya.


Lalu di pungutnya kemeja sang suami yang teronggok di lantai, kemudian ia segera memakainya untuk menutupi tubuh polosnya.


Kemeja putih itu nampak menjuntai di atas lututnya dan memamerkan sedikit paha mulusnya.


Setelah itu ia segera membuka pintu kamar hotelnya, mungkin saja ibu mertuanya atau saudaranya yang lain.


Namun ia langsung terperanjat saat melihat pria berkepala plontos yang sebelumnya bersikap tak sopan padanya itu nampak berdiri di depan pintunya dengan senyum menyeringai menatapnya.