Ameera

Ameera
Fajar melamar Ameera ?



šŸ’„Ketika kepercayaan di rusak, maka kata maaf sudah tak ada artinya lagišŸ’„


"Ga, tolong bawa Ameera pergi dari kamarnya." perintah Awan pada Rangga melalui sambungan teleponnya sore itu.


Setelah mendapatkan informasi dari Lisa karyawan gudang, ia segera mengambil tindakan untuk menggagalkan rencana Fajar buat melamar Ameera.


Ameera adalah miliknya dan hanya dia satu-satunya pria yang boleh memilikinya.


Ingin sekali ia sendiri yang membawa Ameera pergi jauh dari Fajar, hanya saja ia ada meeting yang sangat penting dengan orang pusat.


"Pergi kemana? memang ada apa bro ?" tanya Rangga dari ujung telepon.


"Sudah jangan banyak tanya Ga, pergi bawa Ameera dan jangan kembali sebelum aku suruh." sahut Awan.


"Sebentar bro memang kamu lagi di mana ini ?" tanya Rangga lagi.


"Kerjaan ku belum kelar." sahut Awan.


"Tapi bro....." Rangga belum menyelesaikan perkataannya tapi Awan sudah menyelanya.


"Card ku masih sama kamu kan? belilah sesukamu dan bawa Ameera pergi jauh dari messnya." sela Awan kemudian.


"Oke, baik bro." sahut Rangga dari ujung telepon.


"Terima kasih Ga, aku percaya padamu." tukas Awan kemudian memutuskan panggilannya.


Sementara itu setelah menerima panggilan dari Awan, Rangga bergegas menuju kamar Ameera.


Hari libur yang harusnya ia gunakan untuk bersantai-santai sepanjang hari, kini terganggu oleh permintaan Awan.


Lagipula mana mungkin ia menolak perintah Awan, selain karena pria itu royal padanya. Ia merasa Awan bukan orang sembarangan di kantornya dan ia juga tidak mungkin membiarkan Ameera jika dalam bahaya.


"Meera ?" teriak Rangga setelah berada di depan kamar Ameera sore itu.


Tak berapa lama Ameera yang masih terlihat pucat setelah demam nampak membuka pintunya.


"Hm, ada apa ?" ucapnya setelah membuka pintunya.


"Jalan-jalan yuk." ajak Rangga yang langsung membuat Ameera mengulas senyumnya lebar.


"Beneran ?" ucapnya tak percaya sekaligus senang, seharian ia merasa jenuh karena Awan melarangnya keluar dari kamarnya padahal ia merasa sudah sangat sehat.


"Tentu saja." sahut Rangga meyakinkan.


"Nggak ah ntar mas Awan marah." tolak Ameera dengan wajah muram.


"Tenang saja Awan yang suruh, katanya biar kamu nggak bosan." bujuk Rangga, padahal ia belum tahu apa sebenarnya alasan Awan menyuruhnya mengajak pergi Ameera.


Padahal sebelumnya, pria itu akan berubah menjadi harimau kelaparan jika dirinya terlalu dekat dengan kekasihnya tersebut.


"Benarkah? baiklah, tunggu sebentar aku siap-siap dulu." Ameera segera masuk kamarnya kembali.


Beberapa saat kemudian, gadis itu nampak cantik dengan rok span berbahan jeans sepanjang lutut dan kaos putih yang terlihat pas di tubuhnya.


Rambutnya yang sepanjang bahu ia biarkan terurai bebas dan make up tipis yang ia aplikasikan di wajah cantiknya membuatnya terlihat lebih segar sore itu.


Rangga yang melihat itu nampak terpaku sejenak, namun kemudian ia membuang wajahnya. Ia nampak menyadarkan dirinya sendiri jika gadis cantik di depannya itu sudah menjadi kekasih pria lain.


Setelah itu ia segera mengajak Ameera meninggalkan mesnya menggunakan sebuah taxi.


Malam harinya, Fajar yang berada di kamarnya setelah pulang dari kerja nampak segera membersihkan dirinya.


Pria itu nampak mengulas senyumnya sepanjang kegiatannya tersebut.


Apalagi saat melihat sebuah buket mawar merah, kue tart berbentuk hati serta kotak perhiasan di atas mejanya ia nampak semakin bahagia.


Malam ini ia berencana untuk meminta maaf sekaligus memberikan kejutan pada mantan kekasihnya tersebut dengan langsung melamarnya.


Ia nampak menyesali perbuatannya dulu dan kini ia akan benar-benar minta maaf pada gadis itu.


Setelah ia terlihat rapi, ia segera mengumpulkan beberapa teman-temannya.


Ia sengaja mengajak mereka sebagai saksi perminta maafan pada Ameera dan ia yakin gadis itu pasti akan sangat terharu dan menerimanya kembali.


Tok


Tok


Tok


"Kemana Ameera ?" tanyanya pada teman-temannya tersebut.


"Mungkin tidur, sudah dua hari ini Ameera tidak masuk kerja." ucap salah satu perempuan yang ada di sana.


"Sedang apa kalian ?" Nita yang baru pulang kerja malam itu nampak terkejut saat melihat sekumpulan pria dan wanita yang kurang lebih berjumlah sepuluh orang itu nampak berdiri di depan kamar Ameera.


"Kamu lihat Ameera ?" tanya Fajar dengan wajah khawatir.


"Dia sedang sakit di kamarnya." sahut Nita mengingat tadi siang sebelum berangkat kerja ia melihat keadaan Ameera terlebih dahulu.


"Tapi sepertinya dia tidak ada." tukas Fajar kemudian.


"Ntar ya aku punya kunci serep kamarnya." Nita yang ikut khawatir langsung mencari kunci cadangan kamar Ameera di dalam tasnya.


Sebenarnya ia tidak menyukai Fajar, namun mengingat Ameera sedang sakit ia takut terjadi apa-apa pada sahabatnya tersebut.


Setelah ketemu lalu ia segera membuka pintu kamar sahabatnya tersebut.


"Meera." panggil Nita saat melihat kamar Ameera nampak kosong.


"Kemana perginya Ameera ?" Fajar mulai panik saat tak melihat keberadaan Ameera di kamarnya.


Nita yang melihat Fajar dan teman-temannya membawa bunga dan yang lainnya nampak mengernyit.


"Kalian ada urusan apa dengan Ameera ?" tanyanya kemudian menatap mereka satu persatu lalu berakhir pada Fajar yang terlihat sangat kecewa.


"Aku mau melamarnya." tegas Fajar yang langsung membuat Nita tersenyum sinis.


"Kamu masih punya muka buat ketemu Ameera ?" ejek Nita menatap Fajar.


"Bukan urusanmu." sahut Fajar dengan wajah geramnya menatap Nita.


"Aku tidak yakin Ameera mau menerima mu kembali." tukas Nita.


"Tentu saja dia mau menerimaku, aku sangat mengenal Ameera." tegas Fajar, kemudian ia meletakkan hadiah yang akan ia berikan pada Ameera di atas meja gadis itu.


Setelah itu ia segera meninggalkan kamar Ameera setelah seorang temannya memberitahukan di mana Ameera sekarang berada.


"Semoga Ameera tidak ketemu pria sialan itu." gerutu Nita setelah Fajar pergi, ia nampak menghubungi ponsel sahabatnya itu namun tidak aktif.


Sementara itu Ameera yang sedang berada di taman kota nampak bercengkerama dengan Rangga.


Ia duduk kesehan di sana dengan jajanan harum manis di tangannya. Gadis itu terlihat senang, karena hal seperti ini jarang sekali ia lakukan.


Ia hampir tidak pernah mendapatkan hari libur untuk bersenang-senang, karena pak Mario selalu saja membuatnya sibuk dengan alasan ia satu-satunya karyawan kepercayaannya.


Beberapa saat kemudian Ameera nampak terkejut saat seseorang memanggil namanya, lalu ia segera menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Mas Fajar ?" gumamnya dengan wajah terkejut saat melihat Fajar berjalan ke arahnya.


Lampu penerangan taman yang terlihat terang membuatnya bisa melihat dengan jelas mantan kekasihnya tersebut.


"Kurang ajar, beraninya kamu merebut Ameera dari ku." hardik Fajar menatap nyalang Rangga, kemudian ia langsung menarik kerah baju pria itu lalu memberikannya bogem mentah.


Rangga yang nggak terima langsung membalasnya hingga kini terjadi perkelahian di antara mereka.


Ameera yang melihat itu segera melerai, namun naas ia terkena dorongan Fajar hingga terjatuh di pinggir jalan.


"Berhentilah kalian dan kamu mas Fajar kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi jadi tolong jangan ganggu aku." teriak Ameera setelah bangkit.


"Aku minta maaf Ameera, ayo kita menikah." bujuk Fajar setelah berhasil membuat Rangga babak belur.


"Aku nggak mau mas, kamu yang sudah memutuskan ku waktu itu. Apa mas lupa ?" sahut Ameera sembari berusaha melepaskan cekalan Fajar di tangannya.


"Tidak Ameera, aku menganggap kita belum putus. Waktu itu aku hanya emosi sesaat." tegas Fajar seakan lupa dengan perbuatannya dulu.


"Tapi aku tidak pernah mencintaimu, mas." teriak Ameera dengan kesal.


"Jadi benar kamu mencintai Rangga hah? jangan harap aku akan membiarkan itu." tegas Fajar, ia nampak menarik tangan Ameera namun tiba-tiba Rangga memukulnya dari belakang.


"Ameera cepat pergi." teriak Rangga saat Fajar tersungkur di pinggir jalan.


Melihat Fajar tak berdaya, Ameera segera berlari menyusuri jalan sembari menangis. Ia tidak menyangka Fajar yang dulu ia kenal pria baik-baik ternyata sangat menakutkan.