
š„Aku rela di bilang bucin, yang penting kamu nggak ngilangš„
"Ka-kalian ?"
Seorang pria bertubuh tinggi besar, berkumis serta mengenakan seragam security nampak terkejut saat melihat Ameera dan Awan sedang berciuman di belakang kantornya.
"Jadi mas Awan dan mbak Ameera ini pacaran ya ?" tanyanya kemudian.
Ameera yang takut langsung bersembunyi di balik tubuh kekasihnya tersebut.
"Mas, gimana ini ?" lirihnya kemudian.
Awan yang bukan tipe pria yang suka berbasa-basi langsung merogoh dompetnya di dalam saku celananya.
Kemudian ia mengambil beberapa lembar uang berwarna merah lalu memberikannya ke Security kantornya tersebut.
"Bapak tahu kan akibatnya jika sampai hubungan saya dan Ameera diketahui oleh orang kantor." ucapnya dengan nada ancaman seraya memberikan uang tersebut.
"Gampang mas Awan, semua bisa di atur. Saya juga masih ingin bekerja." sahut Security tersebut dengan mata berbinar setelah menerima uang dari Awan.
"Baiklah, silakan di lanjutkan lagi." imbuhnya, kemudian berbalik badan lalu melangkah pergi.
"Kalau sampai ketahuan, ini semua gara-gara mas." cebik Ameera setelah security tersebut pergi dari sana.
"Ya nggak apa-apa kalau ketahuan, paling-paling kita akan di bawa ke KUA." seloroh Awan yang langsung membuat Ameera semakin bersungut-sungut.
"Pokoknya aku nggak mau menikah kalau orang tuamu belum memberikan restu." tegas Ameera, setelah itu ia bergegas pergi meninggalkan kekasihnya tersebut.
Awan nampak mengacak rambutnya dengan kasar, kemudian saat akan meninggalkan tempat tersebut tiba-tiba ponselnya berdering nyaring dan terlihat nama sang ibu tertera di layarnya.
Sudah beberapa hari ini ia memang sengaja tidak pernah mengangkat panggilan dari ibunya tersebut.
"Ya, Ma." jawabnya kemudian.
"Kamu kemana saja Nak, telepon mama nggak pernah di angkat ?" protes nyonya Amanda dari seberang telepon.
"Kalau mama telepon hanya ingin membicarakan perjodohan, aku nggak mau dengar. Aku tetap pada keputusan ku menikahi Ameera." sahut Awan dengan tegas.
"Tapi Nak, lihat dulu gadis yang mau Mama kenalkan padamu." mohon nyonya Amanda.
"Aku bilang hanya ingin menikah dengan Ameera, Ma. Kalau tidak, aku tidak akan pernah pulang." tukas Awan setelah itu ia langsung mematikan panggilannya secara sepihak, bukannya ia berlaku tidak sopan tapi baginya itu adalah bentuk protes pada sang ibu.
Setelah itu ia segera masuk kembali ke dalam kantornya, tapi sesampainya di ruangannya ia tak melihat Ameera di sana padahal hari masih pagi harusnya gadis itu sedang sibuk berkutat dengan laporan keuangan di mejanya.
"Ameera kemana, Nit ?" tanyanya pada Nita yang terlihat sedang sibuk di depan layar komputernya.
"Pergi sama pak Jonathan, mas." sahut Nita.
"Apa ?" Awan langsung memicing.
"Pak Jonathan mengajaknya untuk belanja material, mas." ucap Nita lagi.
"Bukannya itu pekerjaan kontraktor, kenapa Ameera yang di ajak. Selalu saja cari kesempatan." gerutu Awan dengan kesal.
"Kan memang tugasnya Ameera membayar tagihan, mas." timpal Nita mengingatkan.
"Baiklah, kamu kembali bekerja." perintah Awan kemudian, setelah itu ia melangkah keluar.
"Mas Awan mau kemana.?" tanya Nita sesampainya pria itu di ambang pintu.
"Bukan urusanmu, kembalilah bekerja." sahut Awan setelah itu ia berlalu pergi.
"Arogan banget mas Awan, bagaimana Ameera bisa betah pacaran dengannya." gumam Nita saat melihat kepergian Awan.
Sementara itu Ameera nampak berada di toko furnitur bersama Jonathan, mereka terlihat memilih barang-barang yang akan di gunakan di restoran baru nanti.
Setelah mendapatkan yang sesuai, mereka segera meninggalkan toko furnitur tersebut lalu mampir ke sebuah restoran karena sudah waktunya jam makan siang.
"Pesanlah sesukamu Meer, makanan di sini semuanya enak." tukas Jonathan saat mereka baru duduk.
"Saya ngikut mas saja yang penting halal." sahut Ameera saat melihat menu di restoran chinese tersebut.
Ketika Jonathan sedang memesan makanan pada seorang waitress, tiba-tiba Awan datang bersama Rangga lalu duduk di sebelah Ameera dan Rangga duduk di sebelah Jonathan.
"Astaga, kalian di sini juga. Kebetulan sekali." sapa Awan berbasa-basi menatap Jonathan, ia menampakkan senyum puasnya karena berhasil mengganggu mereka.
"Iya, benar. Kami boleh gabungkan ?" timpal Rangga, meski belum mendapatkan izin ia sudah duduk di sana.
Sementara Jonathan terlihat sangat kesal karena kencannya berdua dengan Ameera gagal total, padahal ia berencana akan mengutarakan isi hatinya pada gadis itu.
"Kebetulan lewat jadi mampir, ternyata kalian di sini juga." sahut Rangga beralasan.
"Oh." Ameera hanya ber oh ria mendengar jawaban Rangga, namun saat melihat Awan ia langsung menelan ludahnya.
Karena pandangan pria itu seakan ingin menelannya bulat-bulat, apa salahnya. Pikirnya tak mengerti.
"Coba Meer, ini enak loh." Jonathan mengulurkan sumpitnya yang berisi potongan daging cumi ke piring Ameera, namun Awan tiba-tiba langsung mengambilnya.
"Ameera alergi seafood." ucapnya sembari memakan potongan cumi tersebut yang langsung membuat Jonathan menatapnya kesal.
"Kamu alergi seafood Meer, kenapa nggak bilang." tanyanya kemudian pada Ameera.
"Bukan gitu mas, sebenarnya....." Ameera menjeda perkataannya saat Awan tiba-tiba menggenggam erat tangannya di bawah meja.
"Apa ?" Jonathan mengernyit.
"I-iya saya sedikit alergi dengan seafood, kadang kalau lagi tidak fit suka gatal-gatal di kulit." ucap Ameera kemudian.
"Kenapa nggak bilang dari tadi? tahu begitu kita bisa pesan ayam saja." Jonathan nampak bersalah, karena yang ia pesan semua serba seafood.
"Ameera bisa makan ayamku." timpal Awan saat waitress membawakan makanannya, kemudian ia langsung membagi dua dengan Ameera dan Jonathan yang melihat itu nampak kesal sendiri.
Lagi-lagi Awan selalu mengganggunya saat ia akan mendekati Ameera.
Beberapa saat kemudian setelah menghabiskan makanannya, mereka segera meninggalkan restoran tersebut karena jam makan telah usai.
"Ayo, Meer." Jonathan mempersilakan Ameera masuk ke dalam mobilnya.
"Ameera, bersamaku. Kami harus mengecek gudang." sela Awan menatap Jonathan.
"Tapi Ameera tadi pergi bersama saya." tegas Jonathan menatap balik.
"Tapi urusanmu sudah selesai kan bro? dan saya sebagai atasannya memerintahkan dia untuk melanjutkan pekerjaannya." ujar Awan tak kalah tegas.
Dua pria tampan berkulit putih itu nampak saling memercikkan api permusuhan dengan saling menatap nyalang.
"Maaf mas Nathan, saya lupa kalau hari ini harus order beberapa barang di gudang." Ameera langsung menengahi.
"Baiklah, tapi lain kali saat libur kamu mau kan jalan berdua saja ?" tukas Jonathan kemudian.
"Di lihat nanti saja ya mas." sahut Ameera serba salah.
"Baiklah, kalau begitu saya duluan." ucap Jonathan seraya mengulas senyumnya pada Ameera, setelah itu berbalik badan dan masuk ke dalam mobilnya.
"Bro, aku numpang ya." Rangga nampak mengetuk kaca mobil Jonathan, setelah mendapatkan persetujuan ia segera masuk ke dalam.
Sementara itu Awan langsung berjalan ke arah mobilnya meninggalkan Ameera.
"Mas, kamu marah ?" tanya Ameera mengekorinya.
"Menurut kamu ?" tanya balik Awan.
"Mas marah, tapi marah kenapa ?" Ameera tak mengerti.
Awan mendesah kesal, kemudian ia mulai berbicara. "Pria mana yang tidak marah melihat kekasihnya sedang makan berdua dengan pria lain, habis itu berbagi makanan pula. Kenapa nggak sekalian suap-suapan ?" cibirnya kemudian.
"Memang pengantin baru suap-suapan." celetuk Ameera yang langsung membuat Awan merasa kesal sekaligus gemas.
Menghadapi Ameera yang kelewat polos dan lemot memang harus menggunakan tindakan.
Kemudian ia segera membawa gadis itu ke dalam mobilnya.
"Mas, mau ngapain ?" Ameera langsung membuang mukanya saat Awan tiba-tiba mendekatkan wajahnya bahkan napas pria itu terasa hangat menyapu lehernya.
"Kamu pikir ?" tanya balik Awan seraya memasang sefty beltnya dan Ameera yang melihat itu nampak salah tingkah karena sudah berprasangka buruk.
"Jadi kamu berharap aku menciummu, hm ?" tanya Awan masih dari jarak yang sangat dekat.
"Mana ad....." Ameera belom menyelesaikan perkataannya tapi Awan sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.
Pria itu nampak m3lum4t bibir Ameera dengan rakus dan menuntut, ada perasaan gemas dan cemburu menjadi satu yang sulit ia utarakan.
Namun tiba-tiba ponselnya berdering nyaring hingga membuatnya langsung melepaskan panggutannya meski ia belum merasa puas.
"Papa ?" ucapnya setelah melihat layar ponselnya, dahinya nampak mengernyit karena tak biasanya sang ayah menghubunginya kecuali ada masalah penting.