
"Ada apa Mama dan Papa datang kemari ?" tanya Ameera berbasa-basi padahal ia sangat malas bertemu lagi dengan kedua orang yang telah menghancurkan rumah tangganya itu.
"Hari ini adalah keputusan sidang dan sudah di pastikan kalian akan bercerai, jadi sudah tak ada alasan lagi kamu tinggal di sini. Meski Awan memberikan rumah ini untukmu, tapi kamu harus cukup tahu diri jika rumah ini yang membeli adalah putraku. Jadi sudah di pastikan ini milik dia dan kamu harusnya bersyukur selama ini masih di biayain hidup oleh Awan, jadi jangan pernah minta apa-apa lagi. Sudah cukup kamu menguasai putraku selama ini dan aku tidak rela jika kamu ikut menguasai hasil kerja kerasnya juga." ucap nyonya Amanda panjang lebar yang langsung membuat Ameera tersenyum sinis, sungguh ibu mertuanya itu tak lebih dari seorang iblis.
"Asal Mama dan Papa tahu, dahulu untuk bisa mengambil rumah ini aku rela melunasi mobil mas Awan dengan uangku pribadi yang sekarang entah di mana mobil itu berada dan Mama juga perlu tahu selama ini aku lebih banyak menggunakan uang pribadiku untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga kami. Karena semua gaji mas Awan habis untuk keperluannya dan membayar cicilan rumah ini." terang Ameera dengan menahan amarah.
"Namanya juga rumah tangga ya harus bekerja sama, tapi aku sangat tidak rela jika rumah hasil kerja keras putraku jatuh ke tanganmu." tegas nyonya Amanda yang sepertinya sudah buta mata dan hatinya.
"Mama tenang saja, silakan ambil aku sangat mengikhlaskan rumah ini untuk Mama. Aku percaya Allah pasti akan menggantinya di surga nanti." timpal Ameera kemudian.
"Sudah tidak usah ceramah, setelah kamu mendapatkan surat cerai ku harap segera tinggalkan rumah ini." tegas nyonya Amanda dengan tak sabar, setelah itu ia bergegas pergi.
"Ayo Pa !!" ucapnya seraya mengajak suaminya itu pergi dari sana.
Ameera segera menutup pintu rumahnya, ia tidak menyangka ibu mertuanya itu benar-benar tega padanya. Setelah sepuluh tahun ia menjadi bagian dari keluarganya, kini tiba-tiba di buang begitu saja.
"Semoga Allah selalu melindungi kalian." ucapnya dengan dada bergemuruh, lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarnya yang sudah 9 tahun ini ia tempati, banyak sekali kenangannya bersama suaminya di sana dan sepertinya ini akan menjadi akhir dari semuanya.
Beberapa saat kemudian sang pengacara yang ia sewa pun datang ke rumahnya. "Hakim telah mengabulkan perceraian kalian dan rumah ini menjadi hak milik ibu." ucapnya seraya memberikan akte perceraian pada wanita itu, lalu matanya tak sengaja melirik sebuah koper di ujung ruang tamu.
"Terima kasih banyak pak atas bantuannya, sisa administrasinya akan saya transfer nanti." timpal Ameera kemudian.
"Sama-sama bu semoga ibu selalu di beri kesabaran serta kebahagiaan setelah ini, ngomong-ngomong apa ibu akan pergi ?" ucap pengacara itu penasaran.
"Saya akan pulang ke kampung halaman saya pak, karena mantan mertua tak mengizinkan saya tinggal di sini. Beliau tidak rela jika saya menikmati hasil kerja keras mantan suami saya." terang Ameera yang mencoba untuk tegar.
"Tidak bisa begitu bu, rumah ini sudah menjadi hak ibu. Jika ibu mau saya akan bantu untuk menuntutnya, bagaimana pun juga ibu yang pasti akan menang." pengacara itu nampak sangat geram saat melihat ketidakadilan di depan matanya.
Ameera menggeleng pelan. "Tidak usah pak, saya tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Biar saja mereka mengambilnya, karena saya yakin Allah akan menggantinya yang lebih bagus di surga nanti." tolaknya dengan mencoba mengulas senyumnya menatap pengacara itu.
"Anda benar-benar wanita yang luar biasa bu, sangat rugi pak Awan melepaskan ibu." timpal pengacara itu kagum dengan sifat kliennya tersebut.
"Tapi saya tak bisa memberikannya seorang anak pak, jadi saya merasa cukup sadar diri atas kekurangan saya. Biarlah dia bahagia dengan wanita pilihan orang tuanya." sahut Ameera kemudian.
"Mereka benar-benar keterlaluan bahkan kata pengacaranya nanti sore pak Awan akan melangsungkan ijab kabulnya." terang pengacara itu yang membuat Ameera nampak tercengang tapi setelah itu ia berusaha terlihat baik-baik saja.
Ameera yang baru menutup pintunya langsung luruh ke lantai. "Kenapa secepat itu kamu melupakan ku mas, sedangkan aku di sini hampir gila karena kehilanganmu." ucapnya di tengah isak tangisnya.
Bohong bagi Ameera jika ia tak sedih mendengar mantan suaminya itu akan menikah lagi, bahkan hingga saat ini ia masih sangat mencintai pria itu.
...----------------...
Tiga bulan pun telah berlalu, nyonya Amanda yang sedang bersantai di teras rumahnya tiba-tiba mendapatkan beberapa tamu di luar pagarnya.
"Siapa ya ?" ucapnya setelah mendekat.
"Saya dari perbankan, bu. Saya sedang ada keperluan dengan pak Djoyo Kesuma, apa boleh saya masuk dahulu ?" ucap seorang pria berpenampilan rapi seraya menunjukkan ID cardnya sebagai karyawan sebuah bank, namun dua orang di belakangnya terlihat seperti seorang preman dengan tubuh tegap dan berotot.
"Oh, silakan masuk." Nyonya Amanda segera membuka pintu pagarnya lalu mempersilakan ketiga pria itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Apa pak Djoyo kesumanya ada, bu ?" tanya pria itu kemudian.
"Sebentar." Nyonya Amanda bergegas memanggil suaminya yang nampak sedang membaca koran di teras belakang rumahnya, semenjak memutuskan untuk pensiun pria paruh baya itu hanya menghabiskan waktunya di rumah sepanjang hari.
Setelah di panggil sang istri, pak Djoyo segera menemui pegawai bank tersebut.
"Selamat siang pak Djoyo, bagaimana kabarnya ?" sapa pria itu setelah pak Djoyo menemuinya.
"Ya, seperti yang kamu lihat." sahut pak Djoyo dengan nada kurang ramah.
"Langsung saja ya pak, sebenarnya kedatangan saya menemui bapak karena ingin mengingatkan jika beberapa anggunan anda di bank kami sudah jatuh tempo pelunasan. Jadi jika dalam waktu dekat ini bapak tidak melunasinya maka terpaksa kami harus melelangnya semua." terang pegawai bank tersebut yang langsung membuat nyonya Amanda melebarkan matanya.
"Melelang apa ?" teriaknya dengan keras.
"Katakan Pa, barang apa yang sudah kamu gadaikan di bank." imbuhnya lagi berapi-api.
Pak Djoyo nampak menghela napasnya dengan berat. "Beberapa bangunan dan tanah kita." ucapnya lirih namun sukses membuat istrinya itu syok.
"Tidak, itu tidak mungkin Pa. Papa bohongkan ?" sentak nyonya Amanda tak percaya.
"Itu benar bu." timpal pegawai bank tersebut yang langsung membuat nyonya Amanda jatuh tak sadarkan diri saking syoknya karena semua hartanya habis tak bersisa, entah di gunakan untuk apa oleh suaminya itu.