
"Oh ya mas, sepertinya aku ingin cepat punya anak. Bagaimana kalau kita konsultasi ke dokter ?" ajak Ameera tiba-tiba seraya menatap serius suaminya.
Awan melebarkan matanya, ia tak mengerti kenapa tiba-tiba istrinya berkata seperti itu. "Sayang, kita baru saja menikah jadi wajar kalau kamu belum hamil lagipula aku masih ingin berduaan dengan kamu dulu." sahutnya balas menatap.
"Tapi mas...."
"Sudah sayang jangan di bahas lagi ya, karena itu hanya akan membuatmu semakin stres." bujuk Awan dengan suara lembut.
"Tapi, kalau sampai beberapa bulan lagi aku belum hamil juga kita ke dokter ya ?" mohon Ameera dengan perasaan khawatir, wajahnya nampak memelas bak anak kecil yang tidak kebagian kue.
Awan menghela napasnya pelan lalu ia mengangguk kecil.
"Iya sayang, kita ke dokter nanti." ucapnya memberikan pengertian.
"Janji ya mas ?"
"Hm." angguk Awan lagi yang membuat istrinya itu langsung berbinar-binar.
"Tapi kalau kamu ingin cepat jadi bisa di coba sekarang, mumpung sedang nggak pakai apa-apa nih." seloroh Awan dengan pandangan nakalnya.
"Apaan sih mas, dasar mesum." Ameera langsung memukul pelan dada bidang suaminya itu.
"Beneran, sayang. Siapa tahu langsung jadi." bujuk Awan sembari tergelak.
"Jadi apaan orang lagi dapat juga." sinis Ameera yang langsung membuat Awan menyurutkan senyumannya.
"Beneran dapat ?" tanyanya memastikan.
"Hm." angguk Ameera dengan yakin.
"Dari kapan? perasaan semalam belum." Awan masih tak percaya.
"Dari subuh." sahut Ameera seraya berjalan menjauh lalu mengambil handuk untuk mandi.
"Sayang, terus si anu bagaimana nasibnya ?" Awan mengejar istrinya yang berlalu ke kamar mandi.
"Di kurung terus di gembok." sahut Ameera lalu menutup pintu kamar mandinya dengan rapat.
Sementara Awan nampak mengacak rambutnya dengan kasar, semalam ia membiarkan istrinya tertidur berharap esok paginya bisa melakukannya tapi malah gagal.
"Tahu gitu semalem saja." gerutu Awan seraya memakai pakaian kerjanya.
Beberapa saat kemudian setelah bersiap-siap Awan dan Ameera segera keluar kamarnya untuk sarapan pagi.
"Jangan lupa selesai kantor langsung pulang, nanti malam ada kumpul keluarga menyambut kepulangan Eyang." titah pak Djoyo pagi itu saat mereka sedang sarapan bersama.
"Beneran Eyang sudah pulang, ma ?" tanya Awan memastikan ke ibunya.
"Iya semalam." sahut nyonya Amanda dengan wajah datar, seakan kepulangan ibu mertuanya bukan hal yang di nantikan.
Ameera yang sedang makan roti bakarnya nampak mendengarkan dengan seksama, ia belum pernah bertemu dengan Eyang sebelumnya.
"Semoga Eyang orang yang baik." gumamnya dalam hati, karena yang ia dengar dari cerita Awan neneknya itu di takuti oleh semua anak dan menantunya.
"Mas, Eyang bagaimana orangnya ?" tanya Ameera ketika mobil mulai melaju menuju kantornya.
"Eyang sangat baik dan juga tegas." sahut Awan yang sesekali menatap istrinya lalu kembali fokus dengan jalanan di depannya itu.
"Galak ya mas ?" Ameera nampak khawatir mengingat keluarga dari pihak Ayahnya Awan sangat menjunjung tinggi silsilah keluarga.
Kakek dan neneknya Awan adalah seorang bangsawan berdarah biru, segala adat dan istirahat selalu mereka jalankan dengan baik bahkan tentang jodoh anak cucu mereka.
"Eyang baik orangnya kamu tenang saja." sahut Awan meyakinkan.
"Bagaimana kalau Eyang tidak menyukaiku ?" Ameera menatap jalanan lurus di depannya seakan sedang membayangkan bertemu dengan nenek suaminya itu.
Awan yang melihatnya langsung mengulas senyumnya lalu di genggam tangan wanita itu.
"Jangan banyak pikiran, percayalah Eyang pasti menyukaimu." bujuknya.
Sesampainya di kantornya Ameera segera masuk ke dalam ruangannya, lalu di lihatnya tumpukan berkas di atas mejanya.
"Meer itu laporan keuangan dari semua cabang nanti kamu kerjakan semuanya ya !!" perintah bu Dewi tanpa basa basi.
"Baik, bu." Ameera mengangguk sopan.
"Kerjakan dengan cepat seperti yang lain, semua karyawan yang bekerja di perusahaan ini tak peduli itu keluarganya boss sekalipun tetap harus mematuhi peraturan." ucap bu Dewi dengan tegas seraya berjalan mengelilingi setiap kubikel yang ada di ruangan tersebut.
Ameera menghela napasnya pelan, lalu ia memejamkan matanya memulai berdoa berharap ia bisa melewati semuanya.
Seharian Ameera berkutat dengan laporan keuangan dari berbagai cabang yang tersebar di setiap kota.
Ia merasa hanya dirinya saja yang mempunyai banyak pekerjaan karena karyawan lainnya masih sempat bergosip dan becanda bersama.
Sedangkan dirinya bisa bernapas pun sudah sangat bersyukur, lagipula ia berbicara dengan siapa juga karena rata-rata karyawan di sana bersikap cuek padanya.
"Lelah, hm ?" tanya Awan setelah istrinya keluar dari ruangannya sore itu.
"Nggak." Ameera menggelengkan kepalanya, meskipun lelah ia takkan bercerita pada suaminya karena pria itu pasti akan melarangnya pergi bekerja nanti.
Lagipula setiap pekerjaan apapun pasti mempunyai risiko masing-masing dan ia akan menjalaninya sampai batas kemampuannya.
Sesampainya di rumah Ameera segera membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian pesta yang ia beli sewaktu pulang dari kantornya tadi sore.
Melihat sang istri sedang merias wajahnya di depan kaca, Awan langsung mendekatinya lalu memeluknya diri belakang.
Di hirupnya dalam-dalam wangi tubuh wanita itu lalu mendaratkan kecupannya di leher putihnya.
"Mas geli." Ameera berusaha menjauhkan kepala sang suami dari ceruk lehernya.
Namun bukannya menjauh Awan justru semakin mengecupinya dan mengakhirinya dengan sebuah hisapan ringan namun sukses membuat kulit leher sang istri memerah.
Ameera yang tak menyadari nampak lega setelah suaminya menjauh lalu ia mulai merapikan riasannya kembali.
"Nanti berbicaralah yang sopan di depan Eyang !!" nyonya Amanda menasihatinya sebelum pergi.
"Baik, ma." angguk Ameera.
"Jangan membantah apapun yang di katakan Eyang!!" nasihatnya lagi.
"Baik, ma." Ameera mengangguk patuh.
Setelah semua siap mereka segera berangkat menuju rumah sang Eyang.
"Meer ingat apa yang mama katakan, jangan bikin malu mama di depan Eyang atau keluarga besar yang lain." nyonya Amanda mengingatkan lagi sebelum mereka masuk kedalam.
Ameera yang mendadak deg-degan nampak menggenggam tangan suaminya dengan erat saat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Eyangnya tersebut.
Ia masih ingat pernah datang kesini sebelum menikah dengan Awan dan waktu itu ia benar-benar di bukakan matanya bagaimana ia dan Awan sangat berbeda.
"Jangan takut." bisik Awan saat merasakan tangan dingin istrinya.
"Itu Eyang." Awan menujuk wanita tua yang masih terlihat sehat dan terawat itu sedang duduk di kelilingi oleh anak dan cucunya.
Wanita itu meski sudah tak muda lagi tapi terlihat sangat berwibawa.
"Awan." panggil Eyang saat melihat Awan berjalan mendekat.
Ameera melihat Eyangnya itu tersenyum lebar ke arah Awan dan juga dirinya hingga membuat kekhawatirannya sedikit menguap.
Setelah itu pandangannya tertuju pada seorang wanita cantik yang duduk tak jauh dari sang Eyang.
Wanita itu nampak menatapnya dengan raut tak suka, entah ada masalah apa dengan wanita itu.
Namun yang membuatnya aneh, wanita itu menatap suaminya dengan pandangan memuja.