Ameera

Ameera
Part~119



"Kredit mobil ?" Awan langsung menatap istrinya itu.


"Iya mas, kamu bisa menggunakan tabungan kita untuk uang mukanya." saran Ameera lagi, sungguh ia ingin membuktikan pada ibu mertuanya jika ia dan suaminya juga mampu.


"Tapi bulanannya tidak sedikit sayang, aku takut nanti kamu kekurangan. Bukankah kita juga harus menyisisihkan untuk sewa rumah ini." Awan menanggapi.


"Aku sudah hitung-hitung kok mas dan masih nyisa untuk keperluan kita sehari-hari, aku juga masih punya tabungan jika ada keperluan mendadak." balas Ameera, mengingat ia mempunyai simpanan pribadi.


"Kalau kamu mau kamu bisa gunakan sebagian tabunganku untuk memperbesar uang mukanya agar bulanannya tidak terlalu berat." Ameera nampak mengambil buku tabungannya lalu memberikannya pada suaminya itu.


"Sebanyak ini ?" Awan nampak tak percaya saat melihat uang simpanan sang istri.


"Aku sengaja tidak pakai ATM jadi kalau mau narik ke bank dulu." timpal Ameera.


Awan nampak menghela napasnya, selama ini uang nafkah yang ia berikan pada istrinya itu rupanya tak wanita itu gunakan. Ia tahu wanita itu juga bekerja tapi memberikan nafkah adalah kewajibannya.


"Untuk sementara kamu simpan dulu ya, jika ada kekurangannya kita pakai sebagian." Awan langsung mengembalikan tabungan wanita itu kembali, rasanya ia sangat malu jika harus menggunakan uang istrinya itu.


"Hm, ya sudah mas ayo habiskan makannya." ucap Ameera kamudian.


Keesokan harinya....


Siang itu Selvi yang sedang berada di sebuah pasar tepatnya di toko barang pecah belah, nampak sibuk memilih beberapa perkakas dapur.


"Mbak tolong carikan piring dengan kualitas terbaik ya, yang paling bagus dan cantik pokoknya." ucapnya pada salah satu penjaga toko.


"Baik bu, sebentar ya." penjaga toko tersebut segera berlalu pergi untuk mengambil pesanan wanita itu.


"Kamu di sini juga ?"


Tiba-tiba suara seorang wanita terdengar lantang di telinga Selvi hingga membuatnya langsung menoleh.


"Mbak Amanda ?" ucapnya dengan terkejut saat melihat istri pertama kekasihnya itu.


"Kaget lihat saya ?" Nyonya Amanda nampak menatap Selvi dengan pandangan mengejek.


"Nggak Mbak, mbak belanja juga ya di sini ?" balas Selvi yang mulai menguasai dirinya dan berusaha bersikap biasa saja di hadapan wanita itu.


"Bu, ini piring kualitas terbaik yang anda minta." tiba-tiba penjaga toko tersebut datang dengan membawa tumpukan piring di tangannya.


"Wah bagus dan mewah bentuknya, baiklah aku ambil yang ini ya mbak." Selvi langsung mengambil piring tersebut.


"Ck, kau membeli piring semewah itu memang bisa bayar? kan restoranmu sudah bangkrut? oh ya lupa, kamu sekarang kan jadi tukang cuci dan juga pasti sudah merongrong uang suamiku." ucap nyonya Amanda dengan lantang hingga membuat Selvi langsung menelan ludahnya, matanya nampak melirik ke arah penjaga toko yang tadi melayaninya.


Beruntung di tempat tersebut tak banyak pengunjung hingga membuatnya tak semakin tertekan, karena apapun alasannya seorang pelakor akan menjadi musuh wanita seluruh dunia.


"Aku membeli ini semua untuk Ameera mbak, dengar-dengar dia sudah pindah rumah jadi aku ingin mengunjunginya." timpal Selvi yang langsung membuat nyonya Amanda melotot.


"Bolehkan mbak? sejak pertama kali bertemu aku sudah menyukai Ameera dan semoga ke depannya kami bisa semakin akrab." imbuh Selvi lagi.


Mendengar itu nyonya Amanda nampak geram. "Tidak, wanita itu tidak boleh dekat dengan menantu dan anakku. Cukup papa saja yang tergoda jangan sampai mereka juga." gumamnya.


"Kak, kita nggak jadi belanja? Padahal di dalam ada guci yang sedang diskon." timpal Tyas saat nyonya Amanda menarik tangannya keluar.


"Tidak usah itu bisa lain kali, sekarang ayo kita ke rumah Ameera." Nyonya Amanda segera mengajaknya pergi, namun saat melihat sebuah pakaian di obral di pinggir pertokoan wanita itu langsung berhenti.


"Kak Manda, mau ngapain ?" Tyas langsung mengernyit saat melihat kakak sepupunya itu sedang memilih-milih pakaian, karena tak biasanya wanita itu sudi membeli pakaian di pasar apalagi yang sedang di obral di pinggir jalan seperti itu.


"Membelikan Ameera." sahut nyonya Amanda dengan membawa dua potong celana kain pendek, karena setahunya menantunya itu jika di rumah suka memakai rok atau celana pendek.


"Memang Ameeranya mau kak, ini barang pasar loh kak kualitasnya juga beda." Tyas mengingatkan.


"Halah dia loh wanita kampung, pakai ini juga sudah bagus." Nyonya Amanda langsung memasukkan tas kresek berisi dua potong celana pendek itu ke dalam tasnya, kemudian wanita itu beserta sang adik segera meninggalkan tempat tersebut.


Sesampainya di rumah Ameera, mereka langsung saja masuk karena kebetulan pagar tidak di gembok.


"Meera !!" teriak nyonya Amanda sembari beberapa kali mengetuk pintu.


Tak berapa lama Ameera nampak keluar dengan sapu di tangannya, rupanya wanita itu sedang menyapu lantai.


"Mama ?" ucapnya dengan wajah terkejut karena tak ada angin maupun hujan ibu mertuanya itu tiba-tiba datang.


"Silakan masuk ma, tante." ucapnya kemudian seraya memberikan jalan pada ibu mertuanya tersebut.


"Kamu sedang nyapu ?" tanya Tyas kamudian.


"Iya tante saya baru selesai memasak jadi lanjut bersih-bersih." sahut Ameera.


"Berikan sapumu itu, sini tante bantuin." Tyas langsung mengambil sapu dari tangan Ameera, kemudian berlalu masuk ke dalam dan mulai melanjutkan pekerjaan wanita itu.


"Tante biarkan aku saja yang melakukannya." Ameera langsung mengejarnya.


"Sudah nggak apa-apa Meera, hari ini mama dan Tyas memang berencana untuk membantumu merapikan rumah ini. Kamu lebih baik diam saja, gini-gini mama juga peduli sama kamu dan Awan." tukas nyonya Amanda.


"Ini buat kamu." sambungnya lagi seraya memberikan sebuah kresek pada Ameera.


"Ini apa ma ?" Ameera yang tak mengerti langsung bertanya.


"Baju buatmu." sahut nyonya Amanda seraya menggeser letak sofa yang menurutnya kurang pas.


Ameera yang masih berdiri di tempatnya nampak mematung, kejadian ini sangat tiba-tiba apalagi dengan perubahan sikap mertuanya itu.


"Semoga ini awal dari kebaikan." gumamnya lalu ia segera berlalu ke dapur untuk membuat minuman dingin untuk mereka.


"Wah enak itu Meera." ucap Tyas yang baru keluar dari toilet dengan membawa ember dan pel lantai.


Ameera yang sedang membuat es teh di dapurnya segera mendekati wanita itu. "Tante tidak usah, biar aku saja yang melakukannya." ucapnya seraya meminta ember yang wanita itu bawa.


"Sudah nggak apa-apa, ibu mertuamu yang ingin melakukannya." Tyas langsung menjauhkan pel lantai dari jangkauan Ameera.


Akhirnya Ameera pasrah dan membiarkan mereka mengerjakan apa yang mereka mau. "Mama benar-benar berubah, semoga selamanya baik seperti itu." gumamnya dengan wajah bahagia, apalagi saat mengingat wanita itu juga membelikan pakaian untuknya tadi.