
💥Aksi lebih berarti dari kata-kata, peduli lebih menunjukkan cinta dari pada sebuah kata 'aku cinta kamu'💥
"Mas, ka-kamu mau ngapain ?" Ameera langsung pucat saat Awan tiba-tiba mendorong tubuhnya lalu memepetnya di dinding belakangnya.
"Mas, kamu jangan becan...." ucapan Ameera langsung menggantung saat Awan sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.
Pria itu m3lum4t bibir Ameera dengan rakus hingga membuat gadis itu langsung melebarkan mata tak percaya.
Waktu seakan berhenti berputar, membuat otak Ameera mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Bukankah ini ciuman pertamanya yang harus ia persembahan pada calon suaminya nanti?
Menyadari itu Ameera langsung meronta, namun bukannya melepaskan Awan justru semakin m3lum4t bibirnya dengan begitu rakus seakan tiada hari esok.
Puas dengan rasa manis bibirnya, Awan nampak menggigit kecil bibir Ameera hingga membuat gadis itu mau tak mau membukanya.
Lalu ia langsung memperdalam ciumannya, mengobrak-abrik pertahanan Ameera hingga membuat gadis itu mendesah tertahan.
Awan begitu menikmati ciumannya tersebut, *******, cecapan serta hisapan pada bibir Ameera membuatnya seperti sedang berada diatas angkasa.
Pria itu semakin menekan tubuh Ameera ke dinding agar ia lebih leluasa menciumnya, tak peduli gadis itu meronta bahkan sekarang mungkin sudah kehabisan tenaga karena berusaha melawannya.
Ameera mulai tersengal dan kakinya terasa lemas seperti jelly, jika saja Awan tak menopangnya mungkin saja ia sudah jatuh ke lantai.
Merasa kasihan Awan langsung melepaskan ciumannya lalu membiarkan wanita itu menghirup oksigen sebanyak yang dia mau.
Wanita itu nampak terengah-engah seakan habis lari marathon puluhan kilometer, bibirnya bengkak serta kakinya terasa sangat lemas.
Saat kesadarannya mulai kembali, Ameera langsung memukuli dada bidang Awan.
"Apa yang mas lakukan padaku ?" protesnya dengan kesal, ia terus saja memukuli Awan.
Sedangkan Awan bukannya marah ia justru tersenyum kecil lalu mencekal kedua tangan Ameera.
"Belajarlah untuk terbiasa, karena setelah ini kita akan lebih sering melakukannya." ucapnya lirih namun itu justru membuat Ameera langsung melotot menatapnya.
"Apa maksudmu, mas ?" sungut Ameera, ia berusaha melepaskan tangannya namun Awan begitu erat mencekalnya.
"Jangan pikirkan, karena itu tidak akan sampai di otakmu." sahut Awan, kemudian ia mengusap sudut bibir Ameera yang basah karena ciumannya tadi.
Setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan Ameera yang terlihat bersandar di dinding dengan lemas.
"Apa dia bilang? bisa-bisanya pergi begitu saja." gerutu Ameera dengan kesal.
Kakinya masih terasa sangat lemas, badannya bergetar dan napasnya terasa sesak.
"Jadi seperti ini rasanya ciuman." gumamnya sembari mengangkat tangannya lalu menyentuh bibirnya yang bengkak.
"Bar-bar sekali." gerutunya lagi saat mengingat bagaimana Awan menciumnya tadi.
Bayangan berciuman dengan lembut bersama pria yang ia cintai, kini pupus sudah. Ciuman pertamanya telah di rampas dengan kasar oleh temannya sendiri.
"Aku membencimu, mas."
Setelah merapikan penampilannya yang sedikit berantakan, Ameera segera berlalu ke ruangannya.
Bersyukur ia tidak melihat Awan di meja kerjanya, kalau tidak entah apa yang akan ia lakukan.
Ia ingin mendinginkan suasana hati dan tubuhnya yang tiba-tiba sangat bergejolak, ia bahagia bisa mencuri ciuman Ameera tapi tubuhnya yang lain justru meminta lebih dari itu.
Membayangkan ciumannya bersama Ameera tadi, Awan nampak tersenyum sendiri.
"Bagaimana dia bisa sekaku itu, seperti tidak pernah ciuman saja." gumamnya saat mengingat bagaimana Ameera seperti tidak tahu bagaimana caranya berciuman, padahal wanita itu sebelumnya telah menjalin hubungan dengan Fajar.
Mengingat Fajar, Awan nampak mendesah kesal. "Ameera adalah milikku, akan ku pastikan sentuhanmu padanya dulu akan hilang tak berbekas." gumamnya sembari mengepalkan tangannya.
Setelah itu ia meneguk minumannya lagi hingga tandas, kemudian beranjak dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Cafe tersebut.
Sore harinya saat Awan baru masuk ke dalam ruangannya, Ameera segera berlalu keluar. Sebisa mungkin dia akan menghindari Awan, baginya pria itu sangat berbahaya.
Dari sekian banyak teman pria, hanya Awan yang paling kurang ajar dan alarm tubuhnya menyuruhnya untuk menghindar sejauh mungkin.
Keesokan harinya....
"Ambil ini." Awan nampak meletakkan bungkusan diatas meja Ameera.
Sedangkan Ameera enggan mengambilnya bahkan bertanya pun ia malas.
Awan yang mulai gemas karena di abaikan, langsung membuka bungkusan tersebut yang berisi berbagai macam bros.
Ameera nampak melebarkan matanya saat melihat bros-bros tersebut, apa pria itu habis memborong bros satu toko pikirnya.
"Pakai ini di blazermu agar dadamu tidak di lihati oleh laki-laki kurang ajar di luar sana, karena tanganku tak mampu jika harus menutup satu-satu mata mereka." perintah Awan yang langsung membuat Ameera menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Blazer dengan dalaman tanktop adalah seragam wajib karyawan di kantornya dan itu menurut Awan terlihat seksi bahkan ada beberapa karyawan wanita yang sengaja memakai tanktop kekecilan hingga membuat asetnya menyembul menggoda iman.
"Apaan sih, pakaianku masih sopan kok." sungut Ameera, ia memang memakai tanktop tapi tak serendah teman-temannya.
"Aku tidak suka di bantah, pakai ini atau aku yang memakaikan." tegas Awan mulai tak sabar.
Ameera yang kesal segera mengambil bros di tangan Awan, mending dia pakai sendiri. Kalau Awan yang memakaikannya yang ada laki-laki itu bisa macam-macam.
Kemarin saja Awan bisa merampas ciumannya, kalau ia memberikan kesempatan bisa jadi laki-laki itu meminta yang lain.
"Tidak." teriak Ameera dalam hati, bahkan sampai sekarang ia masih trauma jika mengingat bagaimana Awan mencium paksa dirinya dengan rakus kemarin.
"Aku bisa pasang sendiri." ucapnya sembari mengaitkannya di blazernya.
"Itu baru sopan, nanti pulang aku akan menemanimu membeli rok kerja yang sedikit panjang. Aku tidak suka jika ada laki-laki yang memperhatikan paha dan lututmu." tukas Awan kemudian.
"Rokku nggak pendek-pendek banget juga, cuma sedikit di atas lutut." protes Ameera.
"Tapi masih kelihatan sedikit pahamu." tegur Awan sedikit kesal saat ia memergoki beberapa pria menatap Ameera saat wanita itu melewati mereka.
"Sudah bagus dulu pakai celana, siapa suruh mengadu ke pusat." sinis Ameera.
"Aturan tetap aturan dan kamu tidak bisa merubah seenaknya sendiri, tapi kalau rokmu itu bisa di ubah." tegas Awan sembari menatap rok Ameera yang langsung membuat wanita itu sibuk menutupinya.
"Iya baiklah." sahut Ameera pada akhirnya, toh itu lebih bagus juga jika ia memakai rok sedikit panjang.
"Bagus, itu baru gadisku." sahut Awan memuji sembari berlalu pergi.
"Apa dia bilang tadi, gadisku? enak saja sejak kapan aku menjadi miliknya." gerutu Ameera dengan kesal sembari menatap kepergian pria itu.