
š„Orang yang benar-benar serius, pasti selalu punya alasan untuk bertahan bukan melepaskanš„
"Duh, bagaimana ini ?" gerutu Ameera saat melihat Awan berdiri di pos Security pagi itu.
Biasanya ia selalu bersikap biasa saja dengannya, namun sejak kejadian kemarin setiap melihat Awan jantungnya selalu deg-degan.
Berbekal map folder yang dia bawa, Ameera segera menutupi wajahnya saat melewati Awan. Ia nampak berjalan menunduk semoga pria itu tak melihatnya.
Namun sepertinya takdir berkata lain, karena tiba-tiba ia menabrak seseorang hingga ia oleng dan hampir jatuh tapi beruntung tiba-tiba Rangga datang menolongnya.
"Kamu baik-baik saja ?" tanya Rangga menahan lengan Ameera.
"Terima kasih, Ga." sahut Ameera bersyukur saat melihat Rangga.
Deg!!
Jantung Ameera seakan mau copot saat melihat seseorang yang ia tabrak tadi.
"Mas A-Awan ?" ucapnya dengan tubuh panas dingin.
"Bro, tatapanmu menakuti Ameera." tegur Rangga pada Awan.
"Aku nggak takut kok, cuma kaget." sela Ameera sembari malu-malu menatap Awan.
"Ya sudah yuk masuk." ajak Rangga seraya menarik lengan Ameera.
"I-iya." sahut Ameera lalu mengikuti langkah Rangga dan meninggalkan Awan begitu saja.
Sungguh Ameera merasa canggung bertemu Awan, ada perasaan malu, takut serta jantungnya berdebar-debar hingga membuatnya ingin menghindar untuk sementara waktu.
Wajahnya yang kemerahan itu nampak menunduk saat berlalu melewati Awan.
Sementara itu Awan langsung geram saat Ameera mengabaikannya, apa gadis itu lupa dengan hubungan mereka saat ini? bisa-bisanya ia di tinggal begitu saja.
Lalu Awan segera menyusul Ameera yang sudah berjalan duluan bersama Rangga.
Namun saat mendengar celetukan di belakangnya, ia memelankan langkahnya.
"Sepertinya mantanmu sudah punya gandengan baru bro ?" celetuk salah satu pria yang berjalan di belakang Awan.
"Bukannya dari dulu mereka bersahabat ?" timpal yang lainnya.
"Tidak ada ceritanya sahabat antara laki-laki dan perempuan, sepertinya Rangga dan Ameera memang ada hubungan." ucap yang lain lagi.
"Sudah-sudah, aku nggak peduli. Dia mau berhubungan dengan siapapun itu, tubuhnya tetap saja bekasku." sela Fajar dengan sinis yang langsung membuat Awan mengepalkan tangannya.
Kemudian ia berbalik badan, namun Fajar sudah berlalu pergi bersama teman-temannya ke arah lain.
Beberapa saat kemudian setelah Rangga dan Ameera berpisah menuju tempat kerjanya masing-masing, Ameera nampak di tarik oleh Awan ke dalam ruangannya. Kemudian pria itu menutup pintunya.
"Mas, apa-apaan sih ?" protes Ameera pada Awan.
"Bukannya sudah ku bilang jangan buat aku cemburu." tegur Awan menatap dalam Ameera.
"Aku tidak merasa membuatmu cemburu." sahut Ameera dengan menunduk, entah kenapa sejak kejadian Awan mengutarakan perasaannya kemari ia merasa selalu deg-degan saat bersama pria itu.
"Aku tidak suka kamu terlalu akrab dengan Rangga, aku cemburu." tegas Awan yang langsung membuat Ameera malu-malu menatapnya.
Laki-laki itu nampak serius dan itu membuat Ameera diam-diam merasa senang, meski Awan tidak pernah menyatakan cinta padanya tapi ia tahu pria itu begitu menyayanginya.
"Dia sahabatku." bela Ameera dengan wajah memelas hingga membuat Awan melemah, lalu mendekatinya.
"Tapi aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya." ucapnya kemudian dengan menatap lekat Ameera.
Sementara itu Ameera nampak memalingkan wajahnya, sungguh ia bisa pingsan jika pandangan mereka terus-menerus bersatu.
"Lihat aku, Meera." pinta Awan.
"Aku malu mas." sahut Ameera dengan polos dan itu membuat Awan semakin gemas.
"Kalau kamu seperti itu aku jadi ingin menciummu loh." goda Awan yang langsung membuat Ameera mengangkat wajahnya lalu menatapnya, tapi tiba-tiba Awan langsung m3lum4t bibirnya.
Ameera berteriak lalu mendorong Awan, namun tenaganya yang tak seberapa tak membuat Awan berkutik.
"Jangan berteriak sayang, kamu mau suaramu terdengar sampai ke ruangan HRD ?" ucap Awan saat Ameera berteriak memberontak.
Sedangkan Ameera dengan polosnya langsung menggeleng, karena ia juga tidak mau jika perbuatan memalukan mereka di ketahui oleh seluruh karyawan kantornya.
"Bagus." tukas Awan lalu kembali m3lum4t bibir Ameera dengan lembut.
Ameera melebarkan matanya, kenapa ia selalu lemah jika bersama Awan. Pria itu selalu saja menguasai dirinya dan tak memberikannya kesempatan untuk menolak.
"Balas sayang." pinta Awan saat Ameera tak kunjung membuka bibirnya.
Ameera membuka bibirnya untuk menjawab, namun Awan langsung memperdalam ciumannya hingga membuat gadis itu melenguh tertahan.
Ciuman Awan yang begitu lembut membuat darah Ameera berdesir seketika, tubuhnya bergetar dan kakinya mendadak terasa lemas.
Beberapa saat kemudian Awan melepaskan panggutannya setelah merasa puas, meski Ameera tak membalas ciumanannya tapi gadis itu sama sekali tak menolaknya dan cenderung pasrah.
"Kembalilah bekerja, sebentar lagi kita ada meeting dengan pak Mario." ucapnya kemudian seraya mengusap sudut bibir Ameera yang basah karena ulahnya tadi.
"Hm." Ameera bergegas duduk di kursinya, sungguh kakinya masih terasa lemas.
Beberapa saat kemudian Derry, Ameera dan Awan memasuki ruangan managernya tersebut untuk membahas laporan keuangan.
Di tengah perbincangan mereka, Awan nampak mengirim pesan pada Ameera. "Sayang, bibirmu masih bengkak." ketik Awan lalu mengirimnya ke Ameera.
Mendengar notifikasi, Ameera segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja.
Melihat pesan yang di kirim oleh Awan, Ameera langsung melotot menatap pria yang sedang duduk di seberangnya itu.
"Apaan sih, mesum." balas Ameera.
"Tapi kamu suka kan ?" balas Awan.
"Diamlah, fokus meeting š”." balas Ameera menegur Awan dengan menyisipkan emoticon marah.
Membaca balasan Ameera Awan nampak terkekeh pelan, namun tanpa ia tahu pak Mario sedang memperhatikannya.
"Apa mau minum es teh seperti kemarin ?" goda Awan membalas chat Ameera.
"Mesum." balas Ameera.
"Yaudah kalau nggak mau, mungkin kamu lebih suka di cium pak Mario yang berkumis." balas Awan lagi yang langsung membuat Ameera menyemburkan minumannya yang baru saja ia teguk.
"Maaf pak, maaf." dengan panik Ameera segera mengambil tisu untuk membersihkan baju serta wajah pak Mario karena ulahnya tadi.
"Sudah Meera tidak apa-apa." Pak Mario nampak membersihkan pakaiannya sendiri.
"Maaf pak, saya tidak sengaja." Ameera merasa bersalah.
"Kalian berdua dari tadi chatingan ya ?" tukas pak Mario to the point menatap Ameera dan Awan bergantian.
"Tidak, kata siapa ?" sahut Ameera dan Awan bersamaan.
"Nah kan kalian jawab saja kompak, kalian jadian ya ?" goda pak Mario.
"Nggak pak." jawab Ameera.
"Bukannya Ameera sama Rangga, pak ?" kini Derry ikut menimpali, karena yang ia tahu sejak Ameera putus dengan Fajar gadis itu sangat dekat dengan Rangga.
"Benarkah? wah saya setuju kalau itu." Pak Mario langsung terkekeh, mengingat Ameera adalah karyawan terbaiknya dan Rangga adalah ponakannya.
Mendengar itu Awan langsung menatap tajam ke arah Ameera, mengisyaratkan jika ia sedang meminta penjelasan.