Ameera

Ameera
Ameera di lamar



*💥*Selama dengan orang yang tepat, proses lamaran seperti apapun bukan masalah💥


"Jadi bagaimana pak ?" ujar pak Djoyo yang langsung membuyarkan lamunan pak Andre.


"Apa lamaran kami di terima ?" imbuh pak Djoyo lagi.


Pak Andre nampak menghela napasnya pelan, kemudian ia mulai membuka suaranya.


"Jika mereka memang saling mencintai ya mau bagaimana lagi." sahutnya meski berat hati.


"Baiklah, kalau begitu lamaran kami di terima ya pak ?" pak Djoyo memastikan dengan senyum sumringah begitu juga dengan Awan, tapi tidak dengan nyonya Amanda yang nampak bermuka masam.


Pak Andre mengangguk setuju meski hatinya belum sepenuhnya yakin.


Sementara itu Ameera yang baru pulang dari kantornya terlihat tak bersemangat, karena hingga sore hari kekasihnya itu tak dapat di hubungi.


"Iya, dek ada apa ?" ucapnya saat menjawab panggilan dari sang adik.


"Mbak selamat ya, mbak akan segera menikah." ujar Adinda dari ujung telepon hingga membuat sang kakak langsung melebarkan matanya.


"Obatmu habis, dek ?" ejek Ameera sedikit kesal dengan becandanya sang adik yang sama sekali tak lucu menurutnya.


"Obat apaan? adikmu ini masih waras mbak, mbak memang mau menikah kok bulan depan dan tanggalnya pun sudah di tentukan." sahut Adinda.


"Sumpah, becandamu nggak lucu." sewot Ameera.


"Mbak itu sudah di lamar sama...." Adinda belum menyelesaikan perkataannya tapi sang kakak sudah menyelanya.


"Apa juragan beras di pasar ?" Ameera langsung melotot saat mengingat seorang duda paruh baya dengan kumis tebal yang menjadi juragan beras di pasar dekat rumahnya, dari dulu pria itu memang tertarik padanya.


Sementara Adinda langsung tergelak mendengar tebakan sang kakak. "Nih ngomong sendiri sama orangnya." ucapnya kemudian.


"Nggak-nggak." Ameera langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.


Gadis itu nampak bergidik ngeri membayangkan bagaimana pria tua berkumis tebal akan menjadi suaminya dan tidur seranjang dengannya.


"Tidak-tidak, aku nggak mau." teriak Ameera histeris, namun saat mendengar suara seseorang yang terdengar tak asing dari ujung telepon ia langsung mengerutkan dahinya.


"Hallo."


"Halo."


"Mas Awan ?" ucapnya memastikan jika suara pria itu adalah Awan sang kekasih.


"Kejutan, sayang senang nggak? kamu sudah tak lamar." ucap Awan dari ujung telepon.


"Siapa yang di lamar ?" sepertinya Ameera masih belum mengerti arah pembicaraan pria itu.


"Kamulah." sahut Awan.


"Kenapa aku nggak di kasih tahu kalau ada lamaran? iya kalau aku mau, kalau nggak bagaimana ?" Ameera masih sedikit kesal, harusnya momen berharganya sebagai seorang wanita bisa ia abadikan.


Namun ia juga merasa senang karena wanita yang di lamar oleh Awan adalah dirinya.


"Sayang kamu kok ngomongnya gitu, yaudah aku batalin saja nggak jadi lamarannya." sewot Awan kemudian.


"Eh jangan, becanda kali mas. Terima kasih ya sudah benar-benar melamarku." Ameera nampak tersenyum senang, namun senyumnya langsung menyurut saat mendengar ucapan Awan kemudian.


"Mulai hari ini rumahku adalah rumahmu, jadi setiap libur kerja kamu harus pulang ke rumahku." ucap Awan bernada tegas.


"Nggak bisa gitu dong mas, kita kan belum menikah. Aku pulang ke rumah orangtuaku dulu baru setelah itu mas yang jemput." tolak Ameera.


"Pokoknya nggak bisa, kamu harus pulang ke rumahku nanti aku yang pesankan tiket." tegas Awan.


"Tapi mas....."


"Sudah ya sayang, kami harus segera balik sebelum gelap. Ingat, minggu depan pulang langsung ke rumah." sela Awan kemudian mematikan panggilannya.


"Mas Awan kok gitu sih." teriak Ameera dengan kesal, bibirnya nampak mencebik.


Sementara Awan yang baru mengakhiri panggilannya langsung terkekeh, ia yakin calon istrinya itu pasti sedang mencebikkan bibirnya dan pasti terlihat lucu pikirnya.


Seandainya dekat ia pasti sudah m3lum4t bibirnya dengan rakus, bahkan miliknya pun kini terasa mengeras seakan tahu di mana rumahnya.


Ameera yang biasa libur akan pulang ke rumah orang tuanya, kini ia harus menuruti Awan dan pulang ke rumah pria itu.


Sebenarnya ia ingin menolak tapi sopir sudah menjemputnya terlebih dulu sore itu, padahal ia berencana pulang esok paginya.


"Assalamu'alaikum." Ameera mengucapkan salam saat mengetuk pintu rumah Awan malam itu.


"Wa'alaikum salam." sahut nyonya Amanda ketika baru membuka pintu.


Ameera langsung mencium tangan calon ibu mertuanya itu dengan takzim.


"Bagaimana kabarnya tante, Om ?" sapa Ameera setelah masuk.


"Papa baik, mulai hari ini panggil saya papa." sahut pak Djoyo dengan mengulas senyumnya.


"I-iya papa." lidah Ameera terasa kaku.


"Ma-mama bagaimana kabarnya ?" tanyanya kemudian pada nyonya Amanda yang nampak menatapnya datar.


"Mama baik-baik saja." sahut wanita paruh baya tersebut.


"Kamu sudah makan malam ?" imbuhnya lagi.


"Sudah." sahut Ameera dengan perasaan lega karena calon ibu mertuanya itu tak bersikap ketus padanya.


"Ya sudah, istirahat saja di kamar atas." perintah nyonya Amanda kemudian.


"Terima kasih tan eh ma." Ameera langsung tersenyum nyengir menyadari kesalahan lidahnya.


"Memang mas Awan kemana, ma ?" tanyanya kemudian seraya mengedarkan pandangannya.


"Lagi terapi sama Arini, sebentar lagi juga pulang." sahut nyonya Amanda dengan wajah datarnya hingga membuat Ameera sedikit tak enak hati saat ingin bersikap akrab.


Kemudian ia memutuskan berpamitan masuk ke dalam kamarnya saja, lagipula badannya juga lumayan lelah dan ingin segera beristirahat.


Karena untuk menghadapi sang calon ibu mertua yang mempunyai mood berubah-ubah membutuhkan tenaga lebih pikirnya.


Sementara itu Awan yang baru pulang satu jam kemudian nampak tersenyum lebar saat baru masuk ke dalam rumahnya.


Mengabaikan sang ibu dan ayah yang sedang duduk di ruang keluarga karena menunggunya, ia langsung berlalu menuju anak tangga.


"Wan, tidak duduk dulu? bagaimana terapinya ?" ujar pak Djoyo hingga membuat Awan menghentikan langkahnya lalu berbalik badan.


"Papa, mama ?" ucapnya terkejut, sepertinya karena terlalu fokus dengan Ameera ia sampai tak melihat ayah dan ibunya.


"Memang dari tadi kamu lihat kemana, Wan ?" tegur pak Djoyo.


"Bukan lihatnya kemana pa, tapi pikirannya yang kemana-mana." sindir nyonya Amanda dengan kesal, sepertinya mata dan hati putranya tersebut hanya ada Ameera seorang.


"Maaf, ma pa." Awan nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Bagaimana terapimu ?" tanya pak Djoyo kemudian.


"Lumayan baik, pa ma. Tapi Awan merasa lelah." sahut Awan beralasan.


"Yasudah pergi tidur sana." perintah nyonya Amanda yang langsung di anggukin oleh Awan.


"Loh kamu ngapain ke atas ?" tegur pak Djoyo saat Awan akan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


"Tidur, pa." sahut Awan dengan tampang tak bersalahnya.


"Bukannya sejak sakit tidur di bawah ?" pak Djoyo nampak mengernyit.


"Tapi kalau sekarang tidur sama Ameera nggak apa-apa kan, pa ?" sahut Awan balik bertanya.


"Hei, itu anak orang jangan-jangan sudah pernah kamu tiduri ya ?" pak Djoyo nampak melebarkan matanya.


"Namanya juga anak muda, pa." sahut Awan merasa tak bersalah.


"Ya Allah, Wan Awan." pak Djoyo langsung geleng-geleng kepala.


Sementara Awan yang malas mendengarkan omelan sang Ayah, ia segera menaiki anak tangga dengan pelan menuju kamarnya.