Ameera

Ameera
Mantan kekasih Awan



Nyonya Amanda menatap Ameera yang masih memakai piyama tidurnya. "Apa semalam kamu memaksa putra saya lagi ?" tanyanya to the point.


Ameera tercengang namun ia mengingat perkataan sang suami semalam. "Saya tidak pernah memaksa mas Awan kok ma." ucapnya membela diri.


"Ingat Meera, Awan sedang sakit bukannya kalian bisa melakukannya lain kali ?" nasihat nyonya Amanda namun seperti penghinaan buat harga diri Ameera.


"Saya tidak pernah memaksa mas Awan, Ma. Kalau pun kami melakukannya itu karena mas Awan yang memaksa." Ameera berkata jujur.


"Tapi Awan masih sakit mana mungkin dia memaksamu." nyonya Amanda kekeuh dengan keyakinannya.


"Tapi mas Awan tidak pernah mengeluh sakit, Ma. Bahkan dia..." Ameera menjeda perkataannya, rasanya malu sekali membicarakan urusan ranjang dengan ibu mertuanya tersebut.


Namun ia harus meluruskan semuanya agar tidak ada lagi kesalahpahaman.


"Bahkan mas Awan selalu bersemangat saat melakukannya." lirihnya lagi dengan wajah memerah menahan malu.


Nyonya Amanda nampak menggeleng-gelengkan kepalanya. "Awan itu masih sakit, kalau dia yang mau harusnya kamu yang menolak." tegurnya kemudian.


"Maaf ma, bukannya menolak keinginan suami itu dosa ya ?" Ameera bertanya dengan polos.


"Dosa kalau suami sehat, lah ini suami lagi sakit juga. Awan itu anak yang baik nggak pernah aneh-aneh, jadi kalau kamu menolak dia juga tidak mungkin memaksa." sahut nyonya Amanda membanggakan sang putra.


Ameera nampak terdiam, sepertinya bakal tak ada ujungnya jika terus berdebat dengan ibu mertua itu. Sifat keras kepalanya sama persis seperti sang suami.


"Putra saya itu orangnya lempeng, nggak pernah macam-macam. Nggak seperti anak orang kalau tidak berkelahi ya mabuk-mabukan kerjanya." imbuhnya lagi yang langsung membuat Ameera menghela napasnya pelan.


Sepertinya wanita paruh baya itu tak sepenuhnya mengenal sang putra hingga tak mengetahui bagaimana perbuatan pria itu di belakangnya.


"Yasudah kamu mandi sana, lain kali bangun lebih pagi ya jangan sampai keduluan suamimu pamali." imbuhnya lagi menyuruh Ameera untuk segera mandi.


"Iya, ma." angguk Ameera kemudian ia berpamitan pergi.


Sesampainya di kamarnya Ameera nampak mendengar suara air di kamar mandinya, pasti suaminya sedang mandi saat ini pikirnya.


Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa, namun saat mendengar notifikasi di ponselnya ia segera beranjak untuk melihatnya.


"Mas Awan sayang, bagaimana kabarnya? gimana malam pertamanya masih enakan sama aku kan ?"


Deg!!


Ameera langsung tersentak saat membaca pesan di ponselnya. "Mungkin salah kirim." gumamnya meyakinkan dirinya sendiri.


"Lebih hot aku kan mas daripada istrimu itu, percayalah hanya aku yang bisa memuaskan mu di ranjang. Ah jadi ingat saat kita melakukannya di kamarmu waktu itu." isi pesan dari nomor asing itu lagi.


Ameera yang tercengang setelah membaca notifikasi kedua nampak mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Apa mas Awan selingkuh ?" gumamnya, tapi ia juga bingung kenapa wanita itu bisa mengetahui nomor ponselnya.


Bukannya seharusnya langsung menghubungi ponsel Awan sendiri, kenapa harus dirinya.


"Sayang, kamu sudah selesai? ayo cepat mandi habis ini kita jalan-jalan !!" ajak Awan saat melihat sang istri.


Ameera yang sibuk dengan isi kepalanya nampak tak menanggapi perkataan Awan, wanita itu justru terlihat sedang melamun.


"Sayang." sentuhan Awan di pundaknya membuat Ameera langsung terlonjak kaget.


"Mas, bisa nggak jangan bikin kaget ?" Ameera bersungut-sungut menatap suaminya itu, namun kemudian ia langsung berpaling saat tak sengaja melihat pria itu bertelanjang dada dengan handuk melilit di pinggangnya.


"Siapa yang ngagetin sayang, aku cuma panggil kamu aja." Awan tak mengerti.


"Maaf, jika kamu kaget." imbuhnya lagi, kemudian ia bergegas berganti pakaian.


"Mas." panggil Ameera saat Awan baru selesai berganti pakaian, pria itu terlihat tampan dengan kaos rumahan dan celana polo pendek.


"Hm." sahut Awan seraya mengeringkan rambutnya.


"Mas punya mantan ?" tanya Ameera memberanikan diri, selama ini ia memang tidak pernah membahas tentang masa lalu suaminya itu.


Baginya setelah menikah maka ia akan membuka lembaran baru dan menutup masa lalunya baik dirinya maupun sang suami, namun saat masa lalu itu muncul lagi mau tak mau ia harus membahasnya kembali.


Awan menatap istrinya itu lalu mengerutkan dahinya. "Kenapa membahas itu, bukannya kita sudah sepakat untuk menutup semuanya ?" ucapnya tak mengerti.


"Kamu kenapa sih ?" tanyanya sembari menatap intens istrinya itu.


"Nggak apa-apa." sahut Ameera dengan nada dingin.


Awan menghela napasnya dalam-dalam. "Katakan sayang ada apa, hm ?" ucapnya mencoba bersabar.


"Jawab pertanyaanku tadi !!" pinta Ameera.


"Baiklah, iya aku punya mantan." sahut Awan kemudian.


"Banyak ?"


"Beberapa."


"Apa kalian pernah tidur bersama ?" tuduh Ameera to the point yang langsung membuat Awan melebarkan matanya.


"Astagfirullah sayang, aku nggak pernah meniduri mereka." tegas Awan menatap istrinya itu.


"Lalu ini apa ?" Ameera menyerahkan ponselnya.


"Agatha." gumam Awan saat membaca beberapa pesan singkat di ponsel istrinya itu, ia masih mengingat nomor ponsel milik mantan kekasihnya yang sudah lama putus.


"Oh jadi namanya Agatha, masih di hafal ya." cibir Ameera dengan dada mulai sesak.


"Bukan begitu sayang, lagipula dia dapat nomormu dari mana ?" Awan nampak heran.


"Mana ku tahu, kamu kali yang kasih." tuduh Ameera dengan kesal.


"Sumpah tidak ada, sudah lama juga kita putus. Mungkin dia dapatnya dari sosial media kamu kali." kilah Awan.


Ameera terdiam sejenak, apa benar yang di katakan oleh suaminya itu?


"Terus tujuan dia menghubungiku untuk apa, kenapa tidak menghubungi mu saja? apa mau memamerkan kalian pernah tidur bersama ?" cibir Ameera menatap garang suaminya itu.


"Aku tidak tahu sayang, mungkin hanya ingin membuatmu marah saja. Kalau dia ada kepentingan denganku pasti sudah menghubungiku, ponselku 24 jam aktif." tegas Awan.


"Oh jadi kalian masih sering berhubungan ?" tuduh Ameera lagi yang langsung membuat Awan memijat pelipisnya, kemudian ia langsung mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas nakas lalu memberikannya pada istrinya itu.


"Ceklah kalau kamu tidak percaya, sejak putus kami tidak pernah berhubungan lagi bahkan aku sudah tidak menyimpan nomernya." Awan mengulurkan ponselnya agar istrinya itu mengeceknya.


Ameera nampak menelisik suaminya itu mencoba mencari kejujuran di matanya.


"Mas nggak bohongkan ?" ucapnya dengan menyipitkan matanya.


"Aku tidak bohong sayang, percayalah dia hanya ingin membuat kita berantem." Awan mencoba meyakinkan, namun sepertinya Ameera masih belum percaya.


"Baiklah aku akan menghubunginya agar kamu percaya." Awan langsung mendial nomor mantan kekasih itu di ponsel sang istri lalu mencoba menghubunginya namun hingga berkali-kali tersambung tak juga dijawab.


Awan yang kesal langsung merengkuh istrinya itu, memeluk pinggangnya lalu menatapnya dengan intens.


"Kamu lihatkan dia tidak berani menjawab, percayalah dia hanya ingin membuat kita berantem. Lagipula selama kita bersama, kamu lihat tidak ada perempuan yang menghubungiku? bukannya kamu selalu mengecek ponselku setiap hari ?" ucapnya dengan lembut yang langsung membuat Ameera menggelengkan kepalanya, sejak pacaran dengan pria itu memang ia tidak menemukan satupun kontak wanita selain keluarganya.


"Lain kali jangan mudah percaya jika tanpa bukti yang jelas, mengerti ?" ucap Awan lagi menatap istrinya itu, lalu ia segera membawanya kedalam pelukannya.


Siang harinya, nyonya Amanda nampak mengulas senyumnya saat melihat anak dan menantunya itu baru mendudukkan dirinya di meja makan.


"Papa nggak makan siang di rumah, ma ?" tanya Awan kemudian.


"Papa lagi meeting." sahut sang ibu.


"Makanlah yang banyak biar cepat pulih." imbuhnya lagi seraya menaruh sepotong ikan di piring putranya itu.


"Maaf ma, hari ini saya tidak membantu mama memasak." Ameera merasa tidak enak hati saat melihat berbagai macam lauk terhidang di atas meja makan.


"Nggak apa-apa sudah ada bibik juga, kamu cukup rawat Awan saja sampai sembuh." sahut nyonya Amanda dengan mengulas senyumnya.


"Baik ma, terima kasih." angguk Ameera masih dengan perasaan tidak enak.


"Oh ya Wan, mama kemarin ke Mall tak sengaja ketemu mantan pacarmu yang dulu pernah menginap di sini ituloh." tukas nyonya Amanda yang langsung membuat Ameera menghentikan kunyahannya.