Ameera

Ameera
Part~137



"Mama yang menyuruh Karen datang, kebetulan Mama masak banyak jadi kita makan malam bersama." ucap nyonya Amanda saat Awan menatap tajam padanya seakan meminta penjelasan dengan kedatangan Karen di rumahnya.


"Mas Awan ada di sini juga ya? apa sama istrinya mas? di mana, aku ingin menyapanya ?" timpal Karen seraya menatap Awan lalu mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang di cintai oleh pria itu.


"Awan datang sendirian kok Nak, istrinya mana mau datang ke sini." terang nyonya Amanda seraya menatap makanan di atas meja makan.


Awan yang sedang duduk di sofa nampak beranjak. "Kamu mau kemana Wan? ayo makan dulu. Mama sudah capek-capek masak loh, apa kamu nggak kasihan sama mama ?" ucap nyonya Amanda yang membuat Awan urung pergi, pria itu memang selalu tak tega jika melihat ibunya bersedih.


Bagaimana pun juga wanita itu yang telah melahirkannya meski kadang mereka suka cekcok karena perbedaan prinsip.


Kemudian Awan segera menarik kursi lalu menghempaskan bobot tubuhnya di sana dan di ikuti oleh Karen yang duduk di sebelahnya.


"Duh, kalian serasi sekali." puji nyonya Amanda saat melihat kebersamaan Awan dan Karen.


"Ma, tolong jangan mulai. Maaf ya Karen, Mama memang suka berlebihan jadi jangan di anggap serius." tegas Awan kemudian.


"Nggak apa-apa kok mas santai saja, aku sudah menganggap tante seperti Mamaku sendiri." sahut Karen.


Beberapa saat kemudian mereka telah selesai makan malam dan Awan yang akan bersiap-siap untuk pulang tiba-tiba di hentikan oleh sang ibu.


"Wan, Karen nggak bawa mobil. Bisa kamu antar dia ke rumahnya !!" perintahnya kemudian.


"Memang mobilnya kemana ?" Awan terlihat keberatan, ia sudah terlambat pulang kini istrinya pasti sedang menunggunya.


"Di bengkel, mas. Aku tadi di antar teman yang kebetulan satu arah." sahut Karen menimpali.


"Tapi istriku sedang menungguku di rumah, kamu bisa naik taksi saja ya." ucap Awan yang langsung mendapatkan hardikan dari sang ibu.


"Ini sudah malam Wan, kamu tega membiarkan Karen pulang naik taksi? apalagi sekarang lagi banyak kejahatan di jalanan." protes nyonya Amanda.


"Benar itu Wan, lagipula rumah kalian hampir satu arah sekalian saja kamu antar Karen dulu siapa tahu kamu ingin bertemu dengan anak-anaknya. Mereka benar-benar sangat lucu papa saja langsung suka." kali ini pak Djoyo yang menimpali dan itu membuat Awan sedikit tercengang, karena rupanya kedua orang tuanya sudah sedekat itu dengan wanita yang sedang berdiri tak jauh darinya itu.


"Nggak apa-apa kok Om, tante. Aku naik taksi saja, masalah musibah itu memang sudah menjadi takdir." sela Karen yang merasa tak enak dengan penolakan Awan.


Awan nampak menghela napasnya. "Baiklah aku antar, ayo !!" ucapnya seraya berlalu pergi dari sana dan tentu saja membuat nyonya Amanda langsung girang bukan main karena rencananya telah berhasil, lambat laun mereka pasti akan saling jatuh cinta seiring kebersamaan mereka.


"Aku tidak tahu kamu sudah sedekat itu sama keluargaku." ucap Awan setelah melajukan kendaraannya.


"Aku juga tidak tahu mas, entah kenapa aku merasa cocok dengan tante dan Om. Maaf jika aku terlalu jauh masuk dalam keluargamu, tapi kalau boleh jujur aku sangat senang melakukannya." sahut Karen.


"Kenapa ?" tanya Awan lagi.


"Kenapa apanya mas ?" Karen nampak tak mengerti dengan ucapan pria itu.


"Kenapa kamu mendekati keluargaku ?" ucap Awan to the point yang langsung membuat Karen nampak salah tingkah.


"Katakan !!" ucap Awan lagi kali ini dengan menekankan kata-katanya.


"Sebenarnya aku sudah lama menyukaimu, mas." sahut Karen yang langsung membuat Awan tiba-tiba mengerem mobilnya mendadak.


"Apa kamu sudah gila? aku sudah mempunyai istri Ren." sinis Awan dengan menatap tajam wanita itu.


"Aku tahu mas, tapi apa salahnya dengan perasaanku? bukankah kita tak bisa mengatur perasaan kita harus jatuh cinta pada siapa." timpal Karen dengan pandangan menunduk.


Awan nampak menghela napasnya dengan kasar, kemudian pria itu kembali melajukan mobilnya. "Lebih baik lupakan perasaanmu itu, karena sampai kapan pun hanya Ameera yang ku cintai." tegas Awan dan setelah itu tak ada pembicaraan lagi di antara mereka sampai mobil pria itu berhenti di sebuah rumah mewah dua lantai tersebut.


"I-iya mas, ayo mas mampir dulu." tawar Karen seraya melepaskan sefty beltnya.


"Tidak, ini sudah malam." sahut Awan dengan nada dingin.


"Baiklah, terima kasih ya mas sudah mengantarku." Karen segera turun dari mobil tersebut dan tiba-tiba ia mendengar teriakan anak-anaknya.


"Mama." teriak mereka saat melihat kedatangan wanita itu, kemudian mereka segera keluar saat ARTnya membukakan pintu pagarnya.


"Mama sama siapa ?" tanya bocah yang baru menginjak usia 7 tahun itu.


"Ini...." Karen belum sempat menjawab pertanyaan anak sulungnya itu tiba-tiba anak bontotnya sudah menyela.


"Pasti Papa baru kita ya, Ma. Ayo Papa turun." teriak bocah berusia 4 tahun itu yang langsung membuat Awan nampak tercengang.


"Maafkan anak-anakku ya mas." Karen merasa tidak enak hati dengan tingkah buah hatinya.


"Ayo Papa turun." rengek bocah itu lagi, sifat kebapakan Awan yang tiba-tiba muncul membuat pria itu tak tega untuk menolak.


"Hore kita punya Papa baru." teriak mereka yang entah kenapa langsung menyukai sosok Awan, atau memang sebelumnya mereka telah mengetahui mengingat kedua orang tua Awan sering berkunjung.


Si bontot yang sepertinya akan bersiap untuk tidur nampak meminta gendong Awan dan itu membuat Karen langsung terharu, andai saja mereka benar-benar menjadi keluarga ia pasti akan sangat bahagia.


Beberapa saat kemudian Awan yang terpaksa mampir ke rumah Karen, harus pulang terlambat malam ini dan istrinya pasti sangat khawatir di rumah apalagi baterai ponselnya habis sejak di rumah sang ibu.


Sepanjang jalan entah kenapa tiba-tiba hati Awan menghangat saat membayangkan ia pulang kerja ada anak-anaknya yang sedang menanti kepulangannya.


Rasa lelahnya pasti akan berkurang seperti halnya Karen dan ia akan lebih bersemangat lagi bekerja demi masa depan mereka.


Akhirnya Awan hanya bisa menghela napas beratnya saat kembali pada kenyataan jika hingga hari ini ia belum merasakan hal itu, bersama dengan anak-anaknya Karen membuatnya seperti mempunyai dunia baru.


Rupanya dua bocah kecil itu dengan cepat mencuri hatinya atau memang dirinya yang sebenarnya kesepian dan menginginkan hadirnya seorang malaikat kecil di tengah-tengah keluarga kecilnya.


Tepat pukul sepuluh malam, Awan baru tiba di rumahnya dan seperti dugaannya istrinya itu sedang menunggunya di teras rumahnya.


Berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas, namun saat melihat kedatangannya wajah cantik itu berubah menjadi senyuman lega.


"Syukurlah, mas. Kamu sudah datang, aku dari tadi sangat khawatir." ucapnya setelah mencium punggung tangan suaminya itu.


"Hari ini kamu lembur ya mas, ayo mandi aku sudah siapkan air hangat." imbuhnya lagi seraya mengambil tas kerja pria itu dan berlalu membawanya ke kamarnya, namun Awan langsung menarik tangannya lalu membawanya ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku." ucapnya kemudian.


"Untuk ?" Ameera nampak tak mengerti dengan sikap aneh suaminya itu.


"Aku pulang terlambat." sahut Awan seraya mengeratkan pelukannya, seakan ingin meyakinkan jika wanita itu hanya satu-satunya wanita yang ia cintai di tengah godaan Karen dan anak-anaknya.


"Nggak apa-apa mas, aku tahu kamu pasti lembur lagi apalagi ini akhir bulan." timpal Ameera yang mencoba untuk lebih berpikir positif setelah ia mulai mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta, ia akan mengikuti alur yang sudah di takdirkan padanya apapun itu meski sangat berat sekalipun dan sejak saat itu ia merasa kedamaian dalam hatinya.


Indera penciuman Ameera tiba-tiba mengendus kemeja suaminya, entah kenapa ia mencium aroma bedak bayi.


"Mas, kok aku mencium bedak bayi ya di kemejamu ?" tanyanya kemudian seraya mengurai pelukan sang suami dan tentu saja itu membuat Awan langsung menelan ludahnya.