
š„Keharmonisan dalam sebuah hubungan terletak pada sikap tanggung jawab dan terbangunnya komunikasi yang sehatš„
"Cepat bangun sayang, kalau tidak aku akan membuatmu kelelahan sepanjang malam !!" tegas Awan yang langsung membuat Ameera segera membuka matanya.
"Benarkan kamu hanya berpura-pura tidur." Awan langsung menggelitik istrinya hingga membuat wanita itu tertawa bercampur kesal.
"Mas, geli." teriak Ameera meronta.
"Siapa suruh berbohong." Awan terus saja menggelitik wanita itu.
"Ampun mas, ampun." Ameera nampak tertawa sampai mengeluarkan air matanya.
"Baiklah, katakan kenapa kamu berbohong ?" Awan berhenti menggelitik sang istri, lalu menarik tangan wanita itu agar duduk.
"Aku hanya mengantuk, mas." dusta Ameera beralasan.
"Bohong, bukannya tadi sore kamu baru bangun ?" Awan menaikkan sebelah alisnya menatap Ameera.
"A-aku hanya ingin tidur cepat saja mas, aku tidak ingin cepat tua hanya karena kurang tidur." Ameera beralasan.
"Bukan itu, aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Katakan ada apa, hm ?" desak Awan.
"Nggak ada, mas." dusta Ameera lagi.
"Baiklah, jika kamu tidak mengatakan yang sejujurnya, itu berarti kamu siap ku buat lelah sampai pagi." ancam Awan yang langsung membuat Ameera menggelengkan kepalanya cepat.
"Jangan mas." mohonnya.
"Makanya katakan kenapa kamu berbohong, hm ?" tanya Awan lagi sembari membelai pipi istrinya itu.
"Sebenarnya..." Ameera menjeda perkataannya.
"Katakan sayang, sebenarnya ada apa ?" Awan mulai tak sabar.
Ameera mengangkat wajahnya menatap suaminya itu. "Mas mulai hari ini kita jangan melakukan itu ya." ucapnya dengan nada memohon.
"Maksudmu itu apa ?" Awan langsung melebarkan matanya.
"Itu mas, kamu kan masih sakit jadi itunya kita tunda dulu sampai kamu benar-benar pulih." Ameera beralasan.
"Bukannya aku tidak pernah mengeluh sakit saat melakukannya, jadi kenapa kamu harus khawatir ?" Awan nampak memicing dengan sikap tak biasa istrinya itu.
"Pokoknya kita tunda dulu." keukeh Ameera.
"Sayang, katakan sebenarnya ada apa? kenapa kamu aneh begini sih ?" Awan mengerutkan dahinya menatap sang istri.
Ameera nampak bingung antara ingin berterus terang atau tidak.
"Sebenarnya waktu kita melakukannya semalam mama mendengar, terus mama menegurku katanya aku yang sudah memaksamu." akhirnya Ameera berkata jujur juga namun bukannya iba dengan sang istri Awan justru terkekeh nyaring.
"Seandainya yang di ucapkan mama itu benar aku pasti akan sangat suka sayang, kalau kamu memaksaku aku akan pasrah aja." ucapnya yang langsung membuat Ameera bersungut-sungut.
"Dasar, mesum." cebiknya dengan kesal.
Kemudian ia mulai terisak, sepertinya suaminya itu sama sekali tak menyayanginya bahkan membelanya pun tidak.
Awan yang melihat itu langsung panik sendiri. "Becanda sayang, baiklah nanti itunya tengah malam saja ya." ucapnya namun justru membuat Ameera semakin terisak.
"Sayang, apa aku ada salah ngomong ?" Awan nampak bingung sendiri.
Ameera yang enggan menanggapinya nampak semakin terisak, sungguh percuma bicara dengan pria mesum itu.
"Baiklah maaf aku cuma becanda, jadi apa benar mama berbicara seperti itu ?" Awan nampak serius menatap istrinya itu.
"Hm." Ameera mengangguk.
"Astaga sayang, kenapa nggak bicara dari tadi saat mama menegurmu ?" Awan nampak mendesah kesal.
Sungguh ia tidak mengerti dengan sikap istrinya, padahal tinggal bicara pokok permasalahannya saja tapi kenapa harus berputar-putar dahulu.
"Aku takut mau bilang mas." sahut Ameera dengan polos.
"Sudah jangan di tanggapi perkataan mama, lain kali kalau mama mengatakan apapun langsung katakan padaku. Mengerti ?" Awan meyakinkan yang langsung di angguki Ameera.
"Kamu lihat sendirikan aku sehat ?" imbuhnya meyakinkan.
"Tapi bagaimana kalau mama....."
"Sudah nggak apa-apa sayang, nanti aku yang bilang ke mama jika aku yang mau." sela Awan yang langsung membuat Ameera lega sekaligus juga malu kalau harus berbicara perkara ranjang dengan ibu mertuanya tersebut.
"Beneran ?"
"Hm." angguk Awan.
"Ya sudah, ayo !!" imbuhnya lagi.
"Buat dedek." Awan nampak memandang mesum istrinya itu.
"Mas, bisa nggak mikirnya jangan kesana dulu. Aku lagi kesal nih." Ameera bersungut-sungut.
"Nanti kesalnya juga hilang, ayo !!" tukas Awan seraya mendorong wanita itu hingga terlentang di atas kasurnya dan selanjutnya terjadilah yang memang harus terjadi.
Keesokan harinya....
Pagi itu Ameera dan Awan nampak mengerjapkan matanya dan langsung duduk saat mendengar keributan di luar kamarnya.
"Mas, apa yang terjadi ?" tanya Ameera pada sang suami.
"Entahlah." Awan nampak mendesah kesal, kemudian ia merebahkan kembali tubuhnya.
Sungguh ia masih sangat mengantuk karena dini hari baru tertidur setelah puas membuat sang istri kelelahan.
"Ayo bangun, mas !!" Ameera langsung menggoyang tubuh Awan saat pria itu kembali tidur.
"Ayo tidur lagi sayang, aku masih ngantuk." Awan menarik tangan istrinya hingga tertidur lagi di sampingnya lalu ia segera memeluknya.
Namun suara keributan dari luar membuat Ameera langsung meronta.
"Mas, bukannya itu suara mama lagi marah-marah? sepertinya di luar rumah Mas." ucapnya yang langsung membuat Awan membuka matanya kembali.
"Mengganggu saja." gerutu Awan seraya beranjak dari tidurnya yang di ikuti oleh istrinya.
Mereka nampak keluar kamarnya lalu menuruni anak tangga dengan pelan.
"Dasar tetangga kurang ajar, sok kaya, belagu." gerutu nyonya Amanda dengan kesal saat baru masuk ke dalam rumahnya.
Awan yang melihat itu langsung menahan Ameera saat akan menuruni anak tangga lagi.
"Kita duduk sini saja, sayang." lirih Awan seraya menarik tangan Ameera hingga duduk di sebelahnya.
"Tapi mas, kita harus turun dan cari tahu kenapa mama marah-marah seperti itu dan kamu harus membantu jika ada yang ingin berbuat jahat sama mama." bujuk Ameera dengan wajah polosnya.
"Sudah duduk diam di sini, nanti kamu juga tahu." sahut Awan keukeh.
Ameera nampak bingung, tapi melihat sikap suaminya yang santai ia jadi sedikit lebih tenang mungkin pria itu sudah sering melihat ibunya seperti itu.
Kini mereka nampak duduk di tengah-tengah anak tangga dengan memperhatikan sang ibu yang sedang menggerutu kesal sembari berjalan mondar mandir.
"Tetangga nggak tahu diri, kaya dikit sudah belagu." gerutu nyonya Amanda lagi.
Sementara pak Djoyo yang sedang membaca koran nampak melirik istrinya sesekali.
"Kenapa lagi sih, ma ?" tanyanya kemudian.
"Ituloh pa, tetangga sebelah cari masalah saja. Udah gitu dia sengaja pakai gelang emas besar-besar pasti mau pamer." nyonya Amanda mengadu pada sang suami.
"Yasudah kamu pakai jugalah gelang emasmu." saran pak Djoyo.
"Tapi mama nggak punya yang seperti jeng Dewi pakai itu." keluh nyonya Amanda.
"Iya nanti beli." sahut pak Djoyo sembari melipat korannya lalu menyeruput kopinya.
"Beneran pa, habis sarapan kita beli ya." nyonya Amanda langsung sumringah.
Ameera yang masih duduk di anak tangga nampak tercengang. "Mas, jadi mama berantem sama tetangga gara-gara perhiasan ?" bisik Ameera.
"Entahlah, sepertinya." sahut Awan yang sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari melihat sang ibu bertengkar dengan para tetangganya.
"Kenapa, kamu minta di belikan gelang emas juga ?" Awan menatap sang istri yang nampak sama sekali tak mengenakan perhiasan kecuali cincin pernikahannya.
"Nggak, mas." Ameera langsung menggeleng.
"Nanti ku belikan." ucap Awan seraya mengacak rambut berantakan sang istri.
"Loh kalian sudah bangun, kenapa duduk di situ? ayo sarapan !!" tegur nyonya Amanda masih dengan senyum sumringahnya saat melihat anak dan menantunya sedang duduk di tengah-tengah tangga.
"Sudah selesai, ma ?" tanya Awan dengan wajah kesal.
"Sudah jangan di bahas lagi ayo sarapan !!" nyonya Amanda mengalihkan pembicaraan.
Awan dan Ameera segera turun lalu mereka mulai sarapan bersama.
Seperti biasanya, setelah selesai makan Ameera selalu membantu ARTnya untuk membersihkan peralatan makan.
"Ma, saya naik dulu ya." izin Ameera saat menghampiri sang ibu mertua yang sedang duduk di depan televisi.
Nyonya Amanda nampak menatap Ameera yang masih memakai piyama tidur. "Apa semalam kamu memaksa putra saya lagi ?" tanyanya to the point.