
Malam itu Ameera nampak segar setelah membersihkan dirinya, wajahnya ia poles dengan make up tipis agar terlihat lebih sempurna.
Tak lupa juga menyemprotkan parfum kesukaan sang suami, karena pria itu selalu suka mengendus aroma tubuhnya.
Kemudian ia segera beranjak dari depan meja rias saat mendengar pintu kamarnya di ketuk, meski tubuhnya lelah karena seharian membersihkan rumah yang lumayan besar itu tapi ia mencoba mengulas senyumnya dengan lebar menyambut suaminya pulang.
"Mas." sapanya dengan senyum manisnya.
Namun bukannya membalas senyumannya, Awan nampak menatapnya dengan dingin padahal biasanya pria itu selalu melihatnya dengan penuh kerinduan.
"Mas, lelah banget ya ?" Ameera bertanya saat melihat suaminya nampak kelelahan.
Bukannya menyahut, Awan justru berjalan masuk melewatinya.
"Mas, kamu kenapa ?" Ameera yang tak biasa dengan sikap dingin sang suami langsung berjalan mengikutinya di belakang.
Pria itu nampak meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu melepaskan kancing kemejanya satu persatu.
"Mas, kamu kenapa ?" ulang Ameera saat suaminya tak menjawab.
Awan menatap istrinya sejenak, lalu membuka suaranya. "Kamu tadi beli apa ?" tanyanya kemudian dengan datar.
"Beli soto, mas." sahut Ameera yang masih tak mengerti dengan sikap dingin suaminya itu.
"Enak ?" tanya Ameera kemudian.
"Enak, mas. Kamu kenapa sih ?" sahut Ameera lalu bertanya lagi.
"Enakan mana sama masakan mama ?" tanya Awan lagi masih dengan wajah datarnya.
"Masakan mama juga enak, semua enak mas." sahut Ameera jujur.
"Kalau masakan mama enak lalu kenapa kamu tidak memakannya justru lebih memilih beli di luar ?" Awan mulai mengeraskan rahangnya saat mengingat bagaimana sang ibu mengeluh karena sudah lelah memasak tapi anak menantunya itu enggan memakannya.
"Jadi mas nggak suka kalau aku beli makanan di luar ?" Ameera bertanya balik dengan mengerutkan dahinya, sudut hatinya sedikit tercubit dengan ucapan pria itu.
"Bukan itu maksudku, kamu mau beli apapun itu terserah tapi tolong hargai mama sedikit." tegas Awan tapi dengan suara yang masih datar.
Ameera yang semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan sang suami nampak menatap pria itu dengan intens.
"Maksud mas apa, aku tidak mengerti ?" tanyanya kemudian.
"Maksudku jika kamu memang tidak menyukai masakan mama tolong katakan dengan jujur biar mama setiap hari tidak capek memasak buat kamu." Awan mencoba memberikan pengertian.
"Jadi mas bersikap dingin seperti ini hanya karena itu ?" Ameera bertanya dengan mata mulai berkaca-kaca.
Awan yang melihat itu nampak frustrasi, lalu ia menghela napasnya dalam-dalam agar emosinya tidak tersulut. Kemudian ia memegang kedua lengan istrinya itu dan menatap matanya dengan intens.
"Sayang, tolong dengarkan aku!! Aku tidak pernah melarangmu membeli apapun yang kamu inginkan tapi sebelumnya katakan dahulu pada mama, jadi mama tidak perlu capek-capek memasak buat kamu. Tolong sedikitlah mengerti dan hargai mamaku." ucapnya memberikan pengertian pada istrinya itu.
Namun Ameera yang merasa di sudutkan langsung menjauhkan kedua tangan Awan dari lengannya, matanya nampak menatap kecewa pria yang belum genap dua bulan menjadi suaminya itu.
"Kenapa mas tidak bertanya padaku dulu, kenapa aku membeli makanan di luar ?" ucapnya dengan nada kekecewaan.
"Kamu bilang kemarin ingin jajan." sahut Awan.
"Mas tahu kenapa aku jajan ?"
"Bukan itu mas, aku beli makanan di luar karena di rumah ini sama sekali tak ada makanan yang bisa ku makan." akhirnya Ameera berkata jujur, padahal ia tidak berniat untuk cerita agar hubungannya dengan ibu mertuanya tetap membaik.
"Tidak mungkin sayang, mama setiap hari masak banyak." kilah Awan tak percaya mengingat bagaimana tadi ibunya menghidangkan beberapa menu makanan.
"Tapi kenyataannya seperti itu mas, di rumah tidak ada makanan bahkan kulkas pun kosong. Mama selalu pergi pagi dan pulang sore hari." Ameera menyangkalnya dengan kenyataan.
"Entahlah ucapanmu atau mama yang benar." Awan nampak menghela napas kasarnya, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi lalu menutupnya dengan keras hingga membuat Ameera terlonjak kaget.
"Kalau mas tidak percaya, coba besok siang mas pulang ke rumah. Mas cek sendiri ada mama di rumah nggak? cek juga apa ada makanan." teriak Ameera di depan pintu kamar mandi berharap suaminya mendengarnya, namun tak ada jawaban dari dalam.
Beberapa saat kemudian Awan dan Ameera nampak makan malam bersama di meja makan, di sana terlihat berbagai menu terhidang.
Namun Ameera yang merasa kesal terlihat tak bersemangat makan, seleranya seketika hilang saat mengingat bagaimana ibu mertuanya memfitnahnya.
Sementara itu nyonya Amanda yang melihat Awan dan Ameera saling bersikap acuh nampak tersenyum kecil di sela kunyahannya.
Keesokan harinya...
"Nanti jika tuduhanmu tak terbukti, minta maaflah sama mama dan sekarang tolong jangan jajan di luar dulu !!" ucap Awan pagi itu yang membuat Ameera nampak kecewa karena suaminya masih belum mempercayai perkataannya semalam.
"Mas nanti siang pulang saja kalau tak percaya." Ameera menanggapi dengan nada tantangan.
"Iya nanti aku usahakan." ucap Awan sembari mengecup kening istrinya itu lalu ia berpamitan pergi.
Setelah kepergian suaminya, Ameera bersiap mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya dan ibu mertuanya juga ikutan pergi entah kemana.
Hingga siang hari Ameera baru menyelesaikan cuciannya, ia terlihat lemas karena sedari pagi belum sarapan. Sementara suami dan ayah mertuanya itu lebih memilih sarapan di kantornya.
Hingga pukul dua siang Awan pun tak kunjung datang, Ameera yang menahan lapar nampak tak sabar. Kemudian ia memutuskan untuk membeli makanan di luar meski sebelumnya suaminya itu melarangnya.
"Sayang, kamu mau kemana ?"
Ameera menghentikan langkahnya saat melihat suaminya keluar dari mobilnya yang berhenti di depan gerbang rumahnya.
"Mau beli makan, mas." sahutnya dengan wajah pucatnya.
"Apa kamu tidak makan masakan mama lagi ?" Awan bertanya dengan pandangan dingin.
"Mama tidak masak, lalu aku harus makan apa ?" Ameera menjawab dengan nada rendah.
Ia tidak ingin berdebat saat ini, tenaganya sudah terkuras untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya di tambah lagi dengan perutnya yang kosong.
"Tidak mungkin, setahuku mama setiap hari masak." Awan yang tak percaya segera mengajak istrinya kembali masuk kedalam rumah.
Pria itu nampak mengecek meja makan yang terlihat kosong, lalu mengecek lagi lemari pendingin yang juga kosong.
Seketika Awan mengepalkan tangannya dan menutup pintu kulkas dengan keras. "Sayang, apa kamu sudah makan ?" tanyanya sembari berbalik badan menatap istrinya itu.
Namun Ameera yang mendadak pusing langsung terhuyung, beruntung Awan segera menopang tubuhnya.
"Sayang, kamu baik-baik saja? wajahmu sangat pucat." Awan langsung membawa wanita itu kedalam pelukannya.
"Keterlaluan." gumamnya dengan kesal.