
Keesokan harinya Awan dan keluarganya berangkat menuju puncak, setelah menempuh beberapa jam perjalanan mereka tiba di sebuah hotel yang ada di puncak tersebut.
"Akhirnya sampai juga." Ameera nampak lega setelah masuk ke dalam kamar hotelnya.
Sebuah kamar dengan double bed dan terlihat mewah karena pemandangan kolam renangnya.
"Lelah ya." Awan tiba-tiba memeluk istrinya dari belakang saat wanita itu sedang berdiri di depan jendela kaca menikmati pemandangan di bawahnya.
"Nggak juga mas, suntuk aja di perjalanan." sahut Ameera seraya mengangkat wajahnya menatap suaminya tersebut.
Lalu Awan memutar tubuh wanita itu hingga kini mereka saling berhadapan.
"Beneran nggak lelah ?" Awan memastikan lagi yang langsung di anggukin oleh sang istri.
"Kalau begitu bagaimana kalau aku yang akan membuatmu lelah ?" Awan berucap dengan lirih namun sukses membuat wajah Ameera memerah bagaikan tomat.
Tanpa berkata-kata lagi Awan langsung mendekatkan wajahnya lalu mulai mengecup bibir ranum istrinya, bibir yang setiap saat selalu menjadi candu baginya.
M3lum4t bibirnya dengan lembut hingga membuat sang istri terbuai lalu membalas ciumannya.
Mereka nampak saling memanggut dan Awan yang sudah tak sabar untuk melakukannya lebih jauh segera membawa wanita itu ke ranjangnya.
Menjatuhkannya di atas ranjang lalu segera mengungkungnya, Ameera yang berada di bawah kungkungan sang suami nampak pasrah saat pria itu mulai melepaskan kancing pakaiannya satu persatu.
"Mas, ini masih sore." Ameera menahan tangan suaminya saat pria itu akan menarik pakaiannya yang kancingnya sudah terlepas sepenuhnya.
"Kenapa kalau masih sore, sayang ?" Awan menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Bagaimana kalau malam saja ?" lirih Ameera, semoga ia tidak di kutuk oleh malaikat karena menolak keinginan sang suami.
Ia bukan sengaja menolak, namun ia takut jika tiba-tiba keluarganya yang lain tiba-tiba datang ke kamarnya. Karena mereka liburan ke puncak beramai-ramai dengan keluarga besar pria itu.
"Apa bedanya pagi, siang, sore atau malam sayang? aku ingin melakukannya setiap saat dan di mana pun itu." terang Awan yang langsung membuat sang istri menelan ludahnya.
Pria itu sudah lama tak mendapatkan jatahnya karena sang istri mendapatkan tamu bulanan jadi percuma juga wanita itu mencari alasan, karena sebanyak apa pun alasannya akan tetap kalah dengan yang namanya kewajiban.
Namun bukan Awan yang tidak bisa membuat istrinya itu patuh dan lihat saja sekarang wanita itu sudah polos karena perbuatannya.
Nampak pakaian mereka berserakan di lantai dan kedua insan itu kini nampak saling mendesah di atas ranjang.
Lama tak menyentuh istrinya membuat pria itu bersemangat menghujamnya.
Namun belum sampai pada puncaknya, tiba-tiba kamarnya di gedor dengan nyaring.
"Mas, ada yang datang." ucap Ameera.
"Biarkan saja sayang." Awan terus menghujam istrinya, rasanya enggan untuk mengakhiri sebelum ia sampai puncaknya.
Namun suara gedoran pintu yang terus menerus dari luar membuatnya langsung mengumpat, lalu ia segera beranjak dari atas tubuh wanita itu.
"Sial." umpatnya dengan kesal.
"Nggak boleh begitu mas, nanti malam kan bisa lagi." Ameera berusaha menenangkan, kemudian ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai lalu membawanya ke kamar mandi.
Sementara itu setelah mengenakan pakaiannya Awan segera membuka pintu kamar hotelnya.
"Astaga ma, cukup bunyikan bel tidak usah di gedor-gedor kayak aku maling saja." gerutu Awan saat melihat sang ibu sudah berdiri di depan kamarnya dengan dua saudara sepupunya.
"Habis kamu lama membukanya." sahut nyonya Amanda seraya memaksa masuk ke dalam kamar putranya tersebut.
"Di mana istrimu ?" tanyanya kemudian.
"Mandi." sahut Awan masih dengan perasaan kesal, pria itu terlihat berantakan dengan rambut acak-acakan dan itu tak luput dari perhatian kedua sepupunya.
"Mas Awan habis ngapain kok rambutnya berantakan, perasaan tadi rapi-rapi saja ?" tanya sang sepupu.
"Pantas kasurnya berantakan juga." ucap saudara sepupunya yang lain yang langsung membuat nyonya Amanda memperhatikan sang putra lalu beralih ke kasur yang berantakan.
Tak berapa lama Ameera keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus rambutnya, sepertinya wanita itu baru selesai mandi setelah berkeringat bersama suaminya meski belum tuntas.
"Kamu habis mandi ?" tanya sang ibu mertua menyelidik.
"I-iya ma." sahut Ameera gugup lalu pandangannya ke arah suaminya yang nampak menatapnya dengan wajah memelas seakan ingin mengajaknya untuk melanjutkan aktivitas panasnya tadi.
"Mama cuma mau bilang mereka akan tidur bersama kamu di sini karena kamar hotel sudah penuh." tegas nyonya Amanda menatap Ameera lalu beralih menatap kedua ponakannya tersebut.
"Tidak bisa begitu dong ma, masa aku juga tidur bareng mereka." protes Awan meski di kamar hotelnya ada dua ranjang tapi mana mungkin ia akan tidur ramai-ramai dengan saudaranya.
Lagipula bukannya tujuannya datang ke puncak untuk berbulan madu dengan sang istri.
"Ya mau bagaimana lagi sudah tidak ada lagi kamar kosong di sini, kalau kamu tidak mau tidur dengan mereka ya kamu bisa tidur di kamar mama sama papa." tegas nyonya Amanda.
Awan nampak mengacak rambutnya yang berantakan, bagaimana ia bisa tidur di tempat lain jika tidak ada sang istri.
Sejak menikah ia sudah terbiasa tidur dengan memeluk wanita itu, begitu juga dengan sang istri.
"Sudah jangan banyak berpikir, ayo tidur di kamar mama." nyonya Amanda langsung menarik tangan Awan lalu membawanya keluar dari kamar tersebut.
"Jangan lupa nanti ngumpul di bawah untuk makan malam." imbuhnya saat berada di ambang pintu, setelah itu ia menutup pintunya.
"Maaf ya mbak Meera." Sisil saudara sepupunya Awan nampak bersalah.
"Nggak apa-apa, tenang saja." Ameera mengulas senyumnya, meski jauh dalam hatinya ia kecewa karena tak sekamar dengan suaminya, namun ia tak mau berpikir macam-macam mungkin benar kata ibu mertuanya kamar hotel sedang penuh semua.
Malam harinya Ameera dan kedua sepupunya nampak turun menuju restoran yang ada di hotel tersebut.
Di sana sudah ramai oleh para pengunjung termasuk keluarga besar Awan.
Awan terlihat sedang duduk di sebelah ibunya sembari sibuk bermain ponsel, tak peduli Bela gadis yang dulu akan di jodohkan dengannya nampak menatapnya dengan kagum.
Tak berapa lama kemudian Ameera masuk ke dalam restoran tersebut, namun saat melihat suaminya duduk di apit oleh Bela dan ibunya ia urung mendekatinya meski di sana masih ada kursi kosong.
Nampak juga di sana seorang pria berkepala pelontos duduk di sebelah kanan Bela, entah siapa pria itu karena sebelumnya ia tak pernah melihatnya.
Saat mata mereka bersitatap, Ameera segera mengalihkan pandangannya lalu ia memutuskan untuk duduk di meja lain.
Entah kenapa ia merasa pria berkepala plontos itu terus menerus memperhatikannya, sementara suaminya sendiri sibuk bermain ponsel dan tak melihat keberadaannya saat ini.
"Mbak Meera, mau pesan apa ?" tanya Sisil, namun Ameera yang sedang melamun tak menjawab.
"Mbak." panggil Sisil lagi hingga membuat Ameera beranjak kaget.
"I-iya Sil ada apa ?" ucapnya kemudian.
"Mbak mau pesan apa ?" ulang Sisil.
"Nanti saja, aku mau ke toilet dulu sebentar." sahut Ameera kemudian ia beranjak pergi.
Setelah keluar dari restoran tersebut Ameera nampak menghela napasnya pelan, sampai kapan pun dirinya memang tidak pantas berada di tengah keluarga Awan.
Melihat mertuanya beserta Oma yang sangat bahagia saat Awan duduk bersama Bela, membuat hatinya sedikit tercubit.
"Mereka memang sangat serasi, sedangkan aku hanya butir debu yang tak terlihat." gumamnya.
Kemudian ia segera berlalu menuju toilet, namun saat akan membuka pintu toilet khusus wanita tiba-tiba terdengar seorang pria berdehem yang langsung membuatnya menoleh.
Ameera mendadak terkejut saat melihat pria berkepala plontos yang duduk satu meja dengan Bela tadi nampak tersenyum menatapnya.