Ameera

Ameera
Ameera dan Awan jadian ?



šŸ’„Tak perlu mencari seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuatmu berarti lebih dari siapapunšŸ’„


Siang itu Ameera nampak membeli roti keju di kantin, setiap berpapasan dengan teman-teman kantornya baik itu pria maupun wanita ia selalu tersenyum manis pada mereka.


Tak peduli mereka menyukainya atau membencinya, karena ia selalu menanamkan pikiran positif pada dirinya.


Jika mereka ingin berbuat jahat, ia masih punya Allah yang akan selalu melindunginya.


Setelah membayar Ameera segera berlalu pergi, namun pandangannya tak sengaja melihat Awan yang sedang duduk di pojok kantin bersama Viona dan gengnya.


"Laki-laki apaan, setelah berkali-kali menciumku sekarang malah asyik makan bersama mereka. Menyebalkan." gerutu Ameera, tiba-tiba hatinya terasa sesak saat melihat Viona dengan ganjen sok perhatian pada Awan.


"Bukan urusanku, lagipula apa peduliku." imbuhnya lagi mengingkari perasaannya, kemudian ia melanjutkan langkahnya meninggalkan kantin tersebut.


Ameera berjalan ke arah belakang kantornya, sepertinya ia akan menghabiskan makan siangnya di sana.


Hal seperti ini sudah biasa ia lakukan saat beberapa sahabatnya mendapatkan shif sore.


Ehmmm


Tiba-tiba terdengar seseorang berdehem hingga membuat Ameera menoleh untuk mencari sumber suara tersebut.


"Dia lagi." gumamnya saat melihat Awan sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan bersendekap di dada.


"Sepertinya nikmat sekali, apa kamu tidak mau berbagi denganku ?" ucap Awan berbasa-basi.


"Sudah habis." ketus Ameera seraya menyuapkan roti keju terakhirnya ke dalam mulutnya, setelah itu ia mengambil segelas es tehnya lalu meminumnya.


"Ya sudah bagi es teh mu saja." Awan langsung mengambil es teh yang baru saja Ameera letakkan di sisih kursinya.


"Astagfirullah, itu punyaku." Ameera ingin merebutnya tapi Awan sudah menjauhkan darinya.


Ameera langsung bersungut-sungut, ia paling tidak suka jika makanannya di ganggu. Apalagi es teh kesukaannya itu baru ia minum sedikit.


Awan langsung meminumnya hingga tersisa separuh, setelah itu ia memberikannya kembali pada Ameera.


"Menyebalkan." sungut Ameera saat Awan mengembalikan segelas es tehnya, setelah itu ia mengambil sedotan bekas Awan gunakan tadi lalu membuangnya.


"Kenapa di buang ?" protes Awan saat Ameera melemparkan sedotan minumannya ke dalam tempat sampah.


"Aku nggak mau, itu kan bekasmu." sahut Ameera, kemudian ia akan menghabiskan es tehnya tersebut yang nampak sangat menggoda tenggorokannya di siang yang terik seperti sekarang.


Namun Awan yang melihat itu langsung merebut gelas tersebut kembali, lalu segera meminumnya. Ia sengaja meninggalkan bekas mulutnya di seluruh lingkaran gelas tersebut.


"Apa yang kamu lakukan dengan minumanku ?" teriak Ameera tak terima.


"Menjijikkan." imbuhnya bersungut-sungut menatap Awan, setelah itu ia menghentakkan kakinya masuk ke dalam kantornya kembali.


Namun sebelum itu ia mencuci tangannya terlebih dahulu di wastafel yang ada di dekat pintu belakang tersebut.


Melihat Ameera masih mencuci tangannya, Awan lalu menghampirinya. Ia nampak meneguk es tehnya hingga tandas, kemudian langsung memegang tengkuk Ameera lalu membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya.


Ameera berteriak terkejut saat tiba-tiba Awan menciumnya, apalagi saat merasakan es teh yang di minum oleh Awan tadi kini berpindah ke dalam mulutnya.


Ameera melebarkan matanya, namun Awan tak memberikannya waktu untuk protes. Karena pria itu sudah m3lum4t bibirnya dengan rakus.


Namun sepertinya Awan sudah terlanjur candu dengan rasa manis bibir gadisnya tersebut hingga ia enggan untuk mengakhiri ciumannya.


Bahkan kini ia nampak menusukkan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Ameera lalu menyesapnya hingga membuat gadis itu mendesah tertahan.


Tapi setelah itu Awan segera melepaskan panggutannya saat merasakan miliknya di bawah sana sudah meronta minta di lepaskan.


"**1*." gumamnya.


"Mas, apa yang sudah kamu lakukan padaku ?" Ameera nampak berkaca-kaca, ia tidak menyangka lagi-lagi Awan berbuat kurang ajar padanya.


"Ini namanya pelecehan mas, mas anggap aku apa? wanita murahan? hingga bisa mas sentuh seenaknya." imbuhnya lagi dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.


"Jawab mas, kamu anggap aku cewek murahan kan ?" dengan kasar Ameera memukuli dada bidang Awan, namun pria itu langsung mencekal kedua tangannya.


"Kenapa kamu sangat bodoh Meera? apa kamu tidak lihat mataku? tidak lihat hatiku yang selalu tulus padamu ?" tegas Awan sembari menatap lekat Ameera.


"Apa kamu juga tidak pernah melihat bagaimana tingkah ku selama ini padamu? tak melihatmu sehari saja aku seperti orang gila. Setiap lihat kamu tersenyum manis dengan lawan jenis rasanya aku ingin menghajar mereka." imbuhnya dengan napas naik turun sedangkan Ameera nampak terpaku menatapnya.


"Benarkah? kamu nggak bohongkan ?" ucap Ameera kemudian sembari mencari kebohongan di mata pria itu, namun hanya ketulusan yang ia dapatkan.


"Di mataku, di hatiku, di seluruh jiwaku sudah terisi kamu semua Ameera. Lalu kamu mau apa lagi ?" tegas Awan, ia akui dirinya memang tidak romantis tapi ia yakin mampu membuat Ameera bahagia.


"Bagaimana aku tahu, orang mas nggak pernah mengatakan cinta padaku." sahut Ameera dengan polos dan itu membuat Awan benar-benar ingin menepuk jidatnya sendiri.


"Apa sebuah kata cinta itu lebih penting bagimu, hm? bukannya tindakan nyata itu lebih penting dari pada bualan yang unjungnya hanya akan menyakitimu." tukas Awan yang langsung membuat Ameera mengangguk setuju.


Tentu saja ia setuju, karena sebelumnya Fajar selalu mengatakan cinta padanya tapi tidak di barengi dengan tindakan dan nyatanya laki-laki itu justru berakhir menyakitinya.


Setelah itu Awan langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya, meski belum ada kata cinta yang terucap dari keduanya tapi bahasa tubuh mereka mengatakan jika ada cinta disana.


"Jangan membuatku cemburu lagi." ucap Awan setelah mengurai pelukannya.


"Aku tidak pernah membuatmu cemburu." sahut Ameera tak merasa bersalah.


"Tapi senyuman mu ini membuatku cemburu." Awan membelai lembut pipi Ameera yang nampak kemerahan.


"Terus aku harus merengut gitu setiap ketemu orang ?" cebik Ameera.


"Bukan begitu juga, Oneng. Ya Allah." Awan nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepertinya mulai sekarang ia harus menyetok banyak kesabaran menghadapi gadisnya tersebut.


"Kamu boleh tersenyum hanya pada perempuan, jika aku melihat kamu tersenyum pada lawan jenis. Ku pastikan, dia akan ku buat babak belur." tegas Awan yang langsung membuat Ameera menelan ludahnya.


"Kamu becanda kan, mas ?" Ameera melangkah mundur namun Awan langsung meraih pinggangnya hingga kini tak ada jarak lagi di antara mereka.


"Aku sangat serius." sahut Awan sembari menatap lekat Ameera, kemudian ia mengecup kening gadis itu sedikit lama.


"Mas, hentikan nanti ada yang lihat." Ameera segera menjauh dari Awan, ia mengingat jika ada peraturan setiap karyawan tidak di perbolehkan menjalin hubungan dalam satu departemen.


"Maaf ya untuk sementara waktu hubungan kita seperti ini dulu, setelah aku pindah ke pusat lagi aku akan memberitahukan hubungan kita pada dunia." tukas Awan merasa bersalah, bagaimana pun juga dia harus mengikuti aturan perusahaan.


"Memang kita punya hubungan apa? mas kan belum katakan cinta padaku ?" ucap Ameera dengan polos dan itu membuat Awan mendadak frustrasi.


Sepertinya panggilan yang ia berikan pada gadis itu memang sangat tepat, karena otaknya sedikit lelet. Namun yang membuat ia heran, kenapa Ameera selalu cekatan jika menyangkut pekerjaan.