
š„Setiap fase yang kamu jalani harus bisa mendatangkan pelajaran untuk naik ke fase berikutnyaš„
Pagi itu Ameera nampak mengikuti Awan saat pria itu bukannya masuk ke dalam ruangannya, justru melipir ke ruangan paling belakang kantornya yang biasa ia gunakan untuk makan dan cuci tangan.
Dan tempat itu juga pernah menjadi saksi ciuman pertamanya waktu itu.
Ameera nampak mengintip dari sekat tembok dan betapa terkejutnya dia saat melihat Awan dengan santainya menyalakan sebatang rokok lalu menghisapnya dengan penuh nikmat.
Selama ini ia tak pernah mencurigai gerak-gerik pria itu, karena ia memang selalu berfikir positif.
Kini pria itu nampak berdiri menghadap jendela yang terbuka agar asap rokoknya langsung keluar.
"Bilangnya mau berhenti tapi masih saja." gerutu Ameera.
Ia sepertinya tidak berniat untuk menegurnya, karena ia ingin melihat bagaimana pria itu menghilangkan bau rokok dari tubuhnya hingga sampai tak terendus olehnya selama ini.
Setelah mematikan puntung rokoknya dan membuangnya ke dalam tempat sampah, pria itu langsung berkumur-kumur di wastafel kemudian mengambil permen mint dari saku celananya lalu segera mengunyahnya.
Kemudian ia mengambil lagi botol parfum kecil lalu menyemprotnya ke kemejanya dan juga rambutnya.
"Cerdik sekali." cibir Ameera saat melihat itu.
Kemudian dengan perlahan ia masuk ke dalam ruangan tersebut lalu bersendekap menatap Awan yang nampak masih sibuk menyemprotkan parfumnya.
Setelah merasa sudah tak ada bau asap di tubuhnya, Awan segera berbalik badan. Namun ia mendadak terkejut saat melihat Ameera sudah berdiri tak jauh darinya.
"Sa-sayang." tukasnya dengan suara tercekat.
"Sejak kapan kamu di sini ?" imbuhnya lagi.
"Sejak tadi." sahut Ameera dengan tenang.
"Maaf, aku belum bisa berhenti." tukas Awan dengan wajah bersalah.
"Ya sudah kalau begitu kita putus saja, aku juga nggak mau punya suami penyakitan. Masa aku harus jadi janda di usia yang masih muda." sindir Ameera yang langsung membuat Awan menelan ludahnya.
"Kalau aku mati, apa kamu akan menikah lagi ?" tanya Awan memastikan.
"Iyalah, apa asyiknya hidup sendiri." sahut Ameera dan itu langsung membuat Awan meradang.
"Akan ku pastikan takkan ada pria yang bisa menikahimu." tegas Awan.
"Seyakin itu ?" cibir Ameera menatapnya.
"Tentu saja, baiklah aku akan berhenti merokok sekarang." Awan langsung mengambil bungkus rokok di dalam saku celananya kemudian membuangnya di tempat sampah.
Melihat itu Ameera nampak mengulas senyumnya. "Baiklah, kita buktikan saja nanti." tukasnya, kemudian ia berbalik badan lalu melangkah pergi.
"Bisalah, kenapa nggak." gumam Awan lalu mengikuti langkahnya.
Namun sepertinya ucapan pria itu hanya di mulut saja, karena menjelang siang Awan nampak mulai gelisah di kursi kerjanya.
"Kamu kenapa Mas? sakit ?" tanya Ameera.
"Nggak." sahut Awan.
"Lapar ?" tanya Ameera lagi.
"Nggak."
"Ngantuk ?" desak Ameera ingin tahu.
"Nggak, sayang." sahut Awan lagi.
"Terus kenapa gelisah dan tak bersemangat begitu ?" Ameera makin penasaran.
"Aku pengen merokok." lirih Awan, namun sepertinya Ameera tak mendengarnya.
"Kamu bilang apa, Mas ?" teriak Ameera.
"Aku pengen merokok." ulang Awan yang langsung membuat Ameera melotot.
"Nggak boleh pokoknya." keukeh Ameera.
"Ayolah sayang, sekali saja." mohon Awan mengiba.
"Aku bilang nggak, ya nggak." keukeh Ameera lagi.
"Satu batang saja." Awan semakin mengiba dengan wajah memelasnya.
Ameera mendesah kesal, kemudian ia beranjak dari duduknya. "Baiklah." ucapnya kemudian hingga membuat wajah Awan langsung berbinar.
"Iya, tapi kita rokokan bareng. Aku yang belikan, kamu sebungkus aku juga sebungkus." tukas Ameera yang langsung membuat Awan melotot.
"Kamu apa-apaan sih sayang, siapa yang menyuruhmu merokok ?" geramnya.
"Nggak ada, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya sampai kamu ketagihan seperti itu." sahut Ameera dengan bersendekap menatap kekasihnya tersebut.
Awan yang stres berat akibat menahan untuk tidak merokok langsung beranjak dari duduknya kemudian menarik tangan Ameera lalu membawanya pergi meninggalkan kantornya tersebut.
"Mas, mau kemana ?" protes Ameera saat Awan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya.
"Pulang." sahut Awan seraya menutup pintu mobilnya setelah kekasihnya itu masuk.
Setelah itu ia memutari mobilnya kemudian segera membuka pintu dan berlalu masuk.
"Mas, ngapain pulang sih? aku lapar nih." keluh Ameera seraya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang memang sudah menunjukkan waktunya makan siang.
"Aku juga lapar." sahut Awan yang terlihat fokus dengan jalanan di depannya.
"Ya sudah yuk cari makan." ajak Ameera.
"Tapi aku maunya makan kamu." lirih Awan namun sepertinya tak begitu jelas di telinga Ameera hingga gadis itu bertanya ulang.
"Mas tadi bilang apa ?" tanyanya kemudian.
"Nggak, nggak bilang apa-apa." sahut Awan sembari membelokkan mobilnya masuk ke dalam area messnya.
Setelah memarkirkan mobilnya ia segera mengajak Ameera keluar dari dalam mobilnya lalu melangkah menuju kamarnya.
"Mas mau ngapain sih ke kamarmu? apa ada barang yang ketinggalan ?" tanya Ameera saat Awan membuka pintu kamarnya.
Bukannya menjawab, Awan nampak menarik tangan Ameera dan membawanya masuk setelah pintu kamarnya terbuka.
Sebelum gadis itu protes lebih jauh, ia langsung mendorongnya ke dinding, mengunci tubuhnya lalu m3lum4t bibirnya dengan rakus hingga membuat gadis itu tersentak.
Ameera meronta tapi tenaganya yang tidak seberapa tak membuat cekalan Awan di kedua tangannya terlepas.
Pria itu masih tetap menciumnya tanpa ampun dan saat ia mulai tersengal karena kehabisan napas, kekasihnya itu langsung melepaskan panggutannya.
"Maaf, hanya itu caraku agar melupakan rokok sayang." ucap Awan seraya mengusap sudut bibir Ameera yang basah dan sedikit bengkak.
Ameera terdiam sejenak, ia mengingat bagaimana pria itu kemarin membisikkan kata-kata jika ia bisa berhenti untuk tidak merokok asal setiap saat bisa menjadikan bibirnya sebagai pengganti.
Apa jika ia mengabulkannya, pria itu akan benar-benar berhenti merokok?
"Baiklah, kamu bisa menciumku jika itu bisa menghentikan keinginanmu untuk merokok." jawab Ameera pada akhirnya yang langsung membuat Awan tersenyum senang.
"Hanya berciuman, tidak yang lain." tegas Ameera dan itu tak membuat Awan menyurutkan senyumnya, pria itu justru tersenyum semakin lebar.
"Ya sudah ayo, aku lapar." ajak Ameera kemudian namun Awan yang belum puas langsung menarik pinggang Ameera hingga merapat lagi lalu ia melahap bibirnya sekali lagi.
Namun kali ini ciuman Awan sangat lembut dan terasa memabukkan, tidak kasar dan terburu-buru seperti tadi.
Pria itu nampak m3lum4t bibir Ameera dan menyesap lidahnya penuh dengan perasaan hingga membuat gadis itu melenguh.
Puas bermain-main di bibir Ameera, Awan menurunkan ciumannya ke leher putih gadis itu lalu mengecupinya dan memberikan tanda kepemilikan di sana.
Setelah itu ia segera menjauhkan bibirnya saat merasakan miliknya di bawah sana sudah meronta ingin di lepaskan.
"Ayo cari makan." ajaknya kemudian.
Ameera yang tadinya merasa terbang di awang-awang, kini tiba-tiba jatuh terhempas. Ada perasaan tidak rela, namun ia langsung mengingatkan dirinya sendiri jika itu tidak benar.
Kemudian ia langsung mengangguk menyetujui ajakan pria itu untuk segera mencari makan siang.
Beberapa hari sejak kejadian itu, Awan selalu sukses membuat bibir Ameera bengkak. Pria itu selalu saja mencuri kesempatan di tengah pekerjaannya atau waktu istirahatnya.
Ameera yang polos dan selalu berpikir positif itu tak merasa keberatan asal pria itu lupa dengan rokoknya, lagipula masih dalam koridor wajar pikirnya.
Seperti tadi siang Awan yang tak bisa menahan keinginan untuk merokok langsung membawa Ameera ke belakang kantornya.
Setelah memastikan tempat itu sepi, ia langsung m3lum4t bibir gadis itu dengan rakus.
Namun saat mereka sedang saling berpanggutan tiba-tiba seseorang berteriak terkejut.
"Ka-kalian ?"
Mendengar itu Awan dan Ameera langsung menoleh kearah sumber suara dan mereka nampak tercekat saat melihat seseorang dengan wajah tak percaya menatapnya.
Ameera mendadak pucat, ia memikirkan bagaimana nasibnya ke depan jika hubungannya dengan Awan sampai di ketahui oleh kantornya.