Ameera

Ameera
Part~116



"Ma, pa ayo masuk." Awan langsung mengajak orang tuanya yang baru datang untuk masuk ke dalam rumahnya.


Nyonya Amanda menanggapinya dengan wajah mencibir, memang apa yang bisa di pamerkan putranya itu palingan juga kasur lipat tipis yang tak layak pakai pikirnya.


Namun saat baru menginjakkan kakinya masuk wanita itu langsung melebarkan matanya ketika melihat sofa yang masih baru ada di ruang tamunya.


"Apa kau baru membelinya nak ?" tanyanya seraya mengusap bantalan sofa yang terasa lembut di tangannya.


"Ayah dan bunga yang beli." sahut Awan dan tentu saja itu membuat sang ibu kurang suka, lalu wanita itu segera masuk ke ruangan lainnya.


Di ruang tengah ada televisi dan peralatan dapur pun sudah lengkap dengan barang baru bahkan kulkas pun ada di sana.


Kemudian wanita itu berlalu ke kamar putranya tersebut dan lagi-lagi matanya terbelalak saat melihat satu set springbed beserta lemari ada di dalam kamar tersebut bahkan pendingin ruangan pun juga sudah terpasang di sana.


"Aku bersyukur mempunyai ayah dan ibu mertua yang sangat baik, mereka selalu hadir saat kami sedang kesulitan." Awan langsung memuji sang ayah mertua yang sudah membelikan perlengkapan rumah untuknya dan sang istri.


"Memang mama dan papa kurang baik selama ini ?" sinis nyonya Amanda dengan nada sedikit tinggi.


"Sudahlah ma jangan memulai lagi." tegur Awan sedikit muak dengan ibunya tersebut.


"Ck, walaupun banyak barang percuma juga kalau rumah masih sewa. Contoh tuh adikmu, sudah punya rumah dan juga mobil sendiri." ucap nyonya Amanda membandingkan dengan putri bungsunya.


Ameera yang melihat suaminya mulai meradang langsung mengusap lengannya dengan lembut. "Sudah nggak apa-apa mas." bisiknya menenangkan.


Nyonya Amanda yang kesal segera mengajak suaminya untuk segera pulang, kini harapannya untuk mengajak putranya kembali tinggal di rumahnya pupus sudah mengingat besannya ternyata ikut menyokong mereka.


Beberapa hari kemudian Awan dan Ameera yang baru pulang kerja nampak bersantai di depan televisinya.


"Sayang, kamu berhenti kerja ya." ucap Awan tiba-tiba seraya mengganti beberapa chanel televisi di hadapannya itu.


"Nggak mau, aku masih ingin kerja." tolak Ameera.


"Ayolah sayang kamu mau beli apa nanti aku belikan asal kamu tinggal di rumah saja." mohon Awan, sebenarnya sudah lama sekali ia menginginkan istrinya itu berhenti bekerja rasanya ia tak rela jika beberapa karyawan pria di kantornya suka mengagumi wanita itu.


"Kalau di rumah aku pasti akan kesepian mas." keukeh Ameera.


"Aku akan meninggalkan laptopku dan kamu bisa nonton drakor kesukaan mu itu kapan pun." bujuk Awan.


"Terus kamu kerja pakai apa ?"


"Pakai laptop dari kantorlah, gimana? mau ya? aku janji akan selalu pulang cepat." mohon Awan lagi.


"Aku pikir-pikir dulu." sahut Ameera.


"Katanya kamu ingin cepat hamil, tapi setiap hari kamu sengaja membuat tubuhmu lelah." gerutu Awan yang langsung membuat istrinya itu memicing.


"Mas, di luar sana banyak loh orang yang bekerja masih bisa hamil." ucapnya sedikit kesal.


"Bukan begitu maksudku sayang, setiap orang kan kondisi tubuhnya berbeda-beda dan mungkin kamu harus banyak beristirahat agar tubuhmu makin sehat." ralat Awan.


"Gitu ya." Ameera nampak berpikir.


"Jadi kamu mau berhenti bekerja kan ?" Awan memastikan, ia harus bisa membuat istrinya itu tetap di rumah toh ia merasa mampu memenuhi kebutuhannya.


"Hm, baiklah." akhirnya Ameera mengangguk setuju, toh sebenarnya ia juga kurang nyaman di kantor karena beberapa karyawan wanita di sana suka sensi terhadapnya hingga membuatnya sedikit stres menghadapinya.


"Terima kasih." Awan langsung mencium pipi istrinya itu dengan gemas.


Beberapa hari kemudian Ameera sudah mulai terbiasa tinggal seharian di rumah, wanita itu melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga seperti wanita lainnya.


Bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan suaminya itu bekerja lalu seharian ia habiskan untuk bersantai dan tak jarang ia juga bersosialisasi dengan para tetangganya.


Ameera nampak tersenyum saat membaca pesan dari suaminya itu, sejak ia tak lagi bekerja pria itu setiap saat selalu menanyakan kabarnya karena biasanya mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor.


"Lagi rebahan mas sambil ngemil." balas Ameera, sejak wanita itu menganggur memang lebih sering ngemil bahkan berat badannya kini mulai naik tak sekurus dulu lagi.


"Aku kangen sayang, awas jangan macam-macam di rumah." balas Awan lagi dan itu membuat istrinya nampak tersenyum kecil, meski ia di rumah seharian pria itu tetap saja cemburuan.


Saat Ameera ingin membalasnya tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. "Assalamualaikum pa." jawabnya kemudian.


"Wa'alaikum salam, Mira kamu bisa temui papa sekarang nanti papa chat alamatnya." ucap pak Djoyo dari ujung telepon.


"Kemana ya pa ?" Ameera nampak mengernyit tak mengerti, karena tak biasanya ayah mertuanya itu menghubunginya tiba-tiba.


"Tante Selvi ingin kenal kamu lebih dekat."


Mendengar ucapan ayah mertuanya itu Ameera nampak tercengang, bagaimana bisa pria itu dengan santainya ingin mendekatkan dirinya dengan wanita selingkuhannya itu.


"Bagaimana Mira ?" ulang pak Djoyo saat anak menantunya itu tak menjawabnya.


"I-iya pa, tapi Meera izin mas Awan dulu ya." sahut Ameera kemudian.


"Ya terserah kamu saja."


Setelah mengakhiri panggilannya Ameera masih terlihat syok dengan permintaan ayahnya tersebut, namun karena penasaran dengan wanita itu akhirnya ia memberanikan dirinya meminta izin pada sang suami.


Lagi-lagi suaminya itu juga tak mempermasalahkannya dan malah menyuruhnya agar tidak kesepian di rumahnya.


"Apa mas Awan sudah memaklumi perbuatan ayahnya itu."


Ameera rasanya tak habis pikir dengan para lelaki di keluarga pak Djoyo atau mereka memang sudah terlalu muak dengan sikap sang ibu mertuanya selama ini.


Akhirnya Ameera memutuskan untuk datang ke alamat yang di berikan oleh ayahnya tersebut, sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggir jalan.


"Selvi laundry ?" Ameera nampak membaca papan nama yang ada di depan rumah tersebut, lalu ia segera melangkah mendekat.


"Permisi mbak, Bu Selvinya ada ?" tanyanya pada seorang gadis yang sedang menjaga stan laundry tersebut.


"Ada mbak di dalam, sebentar ya saya panggilkan."


Tak berapa lama nampak seorang wanita cantik keluar dari rumah tersebut. "Ameera ya ?" ucapnya saat melihat Ameera.


"Iya tante, saya di suruh sama papa Djoyo untuk datang kemari." sahut Ameera.


"Iya tadi tante yang suruh datang, ayo masuk sayang." dengan ramah Selvi menyuruh Ameera untuk masuk ke dalam rumahnya.


Meski tak seluas rumah sang mertua namun rumah wanita itu sangat nyaman dan bersih, belum lagi pembawaan Selvi yang sangat ramah membuat siapa pun yang datang pasti betah.


Seperti halnya Ameera, tidak butuh waktu lama bagi wanita itu untuk akrab dengan Selvi. Kini mereka sudah seperti seorang kakak beradik.


Sejak saat itu Ameera lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Selvi, karena sejak restorannya bangkrut Selvi beralih usaha laundry dan waktunya pun lebih banyak di habiskan di rumahnya.


Namun itu justru membuat Ameera menjadi saksi kebersamaan ayah mertuanya bersama wanita itu, pria paruh baya itu tak segan bermesraan di hadapannya dan itu membuatnya sedikit risih.


Tiba-tiba ada perasaan bersalah menelusup ke dalam hatinya karena sadar atau tidak ia seperti mendukung perselingkuhan mereka.


"Astagfirullah."


Ameera langsung beristighfar dalam hati saat tiba-tiba ayah mertuanya itu datang lalu mencium Selvi dengan sangat mesra seakan keberadaan dirinya tak terlihat oleh mereka.