Ameera

Ameera
Part~95



Pak Djoyo yang baru memegang ponsel istrinya yang sebelumnya tergeletak begitu saja di atas meja rias langsung terkejut saat melihat wanita itu membuka pintu kamar mandi.


Dengan cepat pak Djoyo langsung meletakkan kembali ponsel itu di tempatnya semula, sebaiknya ia akan memeriksanya saat istrinya sedang tidur saja pikirnya.


Karena selama ini kehidupan rumah tangga mereka jarang sekali ada pertengkaran dan baru kali ini pria itu mencurigai sang istri.


"Loh papa sudah pulang ?" nyonya Amanda langsung mengulas senyumnya saat melihat suaminya itu berada di dalam kamarnya.


"Papa sedang tidak banyak pekerjaan." sahut pak Djoyo, pandangannya nampak fokus ke arah istrinya yang hanya mengenakan handuk sebatas dadanya dan kulit putihnya yang mulus nampak terespos hingga membuat hasrat pria itu terpancing.


"Ya udah papa cepat ganti baju lalu istirahat." ucap nyonya Amanda kemudian membuka lemari pakaiannya.


Pak Djoyo yang sudah lama tak menyentuh wanita itu langsung melangkah mendekati lalu di peluknya dari belakang.


"Papa." Nyonya Amanda nampak terkejut.


"Papa kangen ma." pak Djoyo menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu lalu memberikan beberapa kecupan di sana.


"Mama juga kangen tapi papa mandi dulu ya." bujuk nyonya Amanda, badannya sudah teramat lelah jadi rasanya tak sanggup lagi jika harus melayani suaminya itu.


"Sebentar aja, ma." pak Djoyo langsung membawa istrinya itu ke ranjangnya, hasratnya yang sudah menggebu tak bisa lagi ia bendung.


Tak peduli bagaimana Istrinya itu menolak, pak Djoyo tetap menuntut haknya sebagai seorang suami.


Malam pun kian larut dan nyonya Amanda yang kelelahan nampak tertidur pulas setelah memberikan haknya pada suaminya itu.


Namun tidak dengan pak Djoyo, pria paruh baya itu nampak sibuk dengan pekerjaannya yang belum terselesaikan di kantornya tadi.


Hingga dua jam kemudian pria itu baru beranjak dari layar komputernya.


Begitulah kehidupan pak Djoyo setiap hari, pria itu selalu bekerja keras demi kebahagiaan anak dan istrinya.


Meski harus merelakan waktu kebersamaannya dengan mereka, paling tidak pria itu bisa membuat sang istri dan kedua anaknya senang dengan limpahan harta yang ia berikan.


Keesokan harinya....


"Pagi pa, Mama mana ?" sapa Awan saat melihat ayahnya sarapan sendirian di meja makan.


"Belum bangun, tadi mengeluh kelelahan jadi papa suruh tidur lagi." sahut pak Djoyo, entahlah akhir-akhir ini istrinya itu sering mengeluh kelelahan padahal mereka jarang sekali melakukan rutinitas ranjang.


"Ya sudah papa pergi dulu." imbuh pak Djoyo setelah menyesap kopinya dan melipat koran di tangannya.


Sementara itu Ameera yang baru bergabung di meja makan nampak mengedarkan pandangannya dan nampak sepi hanya ART nya saja yang sedang sibuk di belakang.


"Tumben sepi, mas ?" tanyanya kemudian seraya duduk di sebelah suaminya itu.


"Papa sudah berangkat, Mama masih tidur sepertinya." sahut Awan.


"Oh." Ameera nampak mengangguk kecil.


"Oh ya, mas merasa nggak akhir-akhir ini Mama berubah ?" ucap Ameera membuka pembicaraan.


"Nggak tahu sayang kan aku jarang di rumah, palingan Mama sibuk dengan HP dan teman-temannya itu." sahut Awan lalu memakan roti isi selai kesukaannya.


"Kamu yang banyak berubah, sayang." imbuh Awan lagi yang langsung membuat Ameera mengangkat wajahnya menatap pria itu.


"Berubah gimana mas, aku tetap Ameera lah masa cat Women ?" seloroh Ameera yang sontak membuat Awan terkekeh, Cat women adalah salah satu tokoh film Batman.


"Bagus dong sayang kamu sangat seksi dan bikin aku....." ucapan Awan tertahan saat Ameera memotongnya.


Sedangkan Awan nampak terkekeh. "Oh ya kenapa akhir-akhir ini kamu sering melamun, kamu tidak sedang mikirin pria lain kan? awas saja sampai itu terjadi, akan ku karungi pria itu hidup-hidup." ucapnya kemudian dengan nada ancaman.


"Apaan sih, pria yang mana bukannya kamu yang selalu di kerubungi sama cewek-cewek." balas Ameera dengan mencebikkan bibirnya, mengingat suaminya yang beparas blesteran dari ibunya itu selalu di kagumi oleh para wanita di luar sana.


"Jangan mikir macam-macam, aku janji di hati ini dan pikiran ini cuma ada kamu seorang sampai akhir hayat." Awan menggenggam tangan istrinya itu dengan sayang.


"Jangan berjanji mas, cukup buktikan saja apa kita akan tetap seperti ini sampai waktu itu tiba." ucap Ameera menatap suaminya itu.


"Kita berjuang bersama-sama ya." pinta Awan lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Semoga saja kamu tidak pernah berubah, mas." gumam Ameera dengan tatapan sendu.


...----------------...


Siang itu Ameera yang baru berangkat ke kantor nampak terkejut saat melihat ayah mertuanya tiba-tiba pulang.


"Papa kok sudah pulang ?" tanya Ameera lalu mencium tangan ayahnya itu dengan takzim.


"Mamamu ada ?" tanya pak Djoyo langsung, entah kenapa pria itu tiba-tiba mempunyai perasaan tidak enak hingga memutuskan untuk pulang sebentar dari kantornya.


"Mama keluar pa." sahut Ameera.


Pak Djoyo nampak menghela napas panjangnya, istrinya itu memang jarang betah di rumah jika tak ada dirinya.


"Kamu sudah mau berangkat, nak ?" ucapnya pada Ameera.


"Iya pa, kalau begitu Meera pergi dulu ya pa." pamit Ameera kemudian.


Setelah melepas sepatu kerjanya pak Djoyo segera masuk rumahnya, pria itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumahnya yang nampak sepi.


"Bik, bisa tolong buatkan saya kopi !!" perintahnya pada ARTnya tersebut.


Kemudian pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, saat akan berlalu ke kamar mandi pandangannya tak sengaja ke arah ponsel istrinya yang tergeletak di atas meja rias.


"Sepertinya Mama lupa membawa ponselnya." gumamnya mengingat ponsel istrinya ada dua dan dua-duanya selalu di bawa oleh wanita itu.


Tanpa berpikir panjang pak Djoyo langsung mengambil ponsel tersebut lalu meletakkannya di saku celananya.


Mungkin ini adalah kesempatannya untuk memeriksa ponsel istrinya itu.


Bagaimana pun juga pria itu harus secepatnya mencari tahu perihal perubahan sang istri, meski jauh dalam lubuk hati pria itu berharap semuanya baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian, saat pak Djoyo hendak pergi ke kantornya lagi tiba-tiba nyonya Amanda pulang dengan langkah terburu-buru.


"Loh papa sudah pulang ?" tanyanya saat melihat suaminya berada di teras dengan secangkir kopi di tangannya.


"Ada berkas ketinggalan, ma." sahut pak Djoyo beralasan.


"Sebentar ya pa, Mama masuk dulu." Nyonya Amanda segera melangkahkan kakinya masuk.


"Perasaan tadi malam aku taruh di sini, kenapa sekarang tidak ada." gumamnya setelah sampai di dalam kamarnya, wanita paruh baya itu nampak mengibaskan selimut serta bantalnya.


"Ada apa ma ?" pak Djoyo yang berdiri di ambang pintu nampak memperhatikan istrinya yang seperti sedang mencari sesuatu.


"Eh, papa." Nyonya Amanda langsung terlonjak kaget saat melihat suaminya itu.


"Mama sedang cari apa, datang-datang kok berantakin kasur ?" tanya pak Djoyo yang langsung membuat nyonya Amanda menelan ludahnya.