Ameera

Ameera
Ameera & Fajar pacaran ?



šŸ’„Hati-hati menggunakan lidahmu, terkadang ucapan lebih sakit daripada pukulanšŸ’„


"Aku suka sama kamu, Mir. Mau kan kamu jadi pacarku ?" ucap Fajar menatap lekat Ameera.


"Tapi bukannya mas sudah punya pacar ?" tanya Ameera memastikan, karena yang ia dengar sebelumnya pria itu telah menjalin hubungan dengan salah satu karyawan di sana.


"Aku sudah putus beberapa bulan lalu." sahut Fajar meyakinkan.


"Benarkah ?" Ameera menatap Fajar seakan mencari kebohongan di mata pria itu.


"Hm." Fajar mengangguk yakin.


"Jadi, maukah kamu menjadi pacarku ?" ulang Fajar lagi dengan nada memohon.


Mira nampak berpikir sejenak. "Ayo Mir jawab, bukankah ini yang kamu inginkan? lagipula mas Fajar baik orangnya. Jika sekarang kamu tidak mencintainya, kamu bisa belajar untuk mencintainya." Ameera mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Setelah berpikir matang-matang, akhirnya ia menganggukkan kepalanya.


"Iya mas aku mau." sahutnya kemudian yang langsung membuat Fajar nampak bahagia, saking bahagianya bahkan ia hampir memeluk Ameera.


Namun Ameera langsung menghindar, meski kini status mereka pacaran bukan berarti dirinya bebas di sentuh.


"Tapi aku mau kira pacaran sehat mas, tolong hormati keinginanku." mohon Ameera kemudian.


"Baiklah, aku mengerti." angguk Fajar dengan senang, sudah lama sekali ia menyukai Ameera bahkan jauh dia sebelum mempunyai kekasih.


"yaudah ayo jalan lagi, pegangan tangan bolehkan ?" imbuhnya lagi meminta persetujuan yang langsung di anggukin oleh Ameera.


Mendapatkan lampu hijau, Fajar langsung menggenggam tangan Ameera. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju kantornya.


Sepanjang jalan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, ada yang terkejut, kecewa bahkan menatap tak suka.


"Kenapa kalian bergandengan tangan ?" Bimo yang baru datang langsung melotot melihat tangan Ameera yang kecil berada dalam genggaman tangan besar Fajar.


"Dia kekasihku." sahut Fajar menegaskan hingga membuat beberapa karyawan yang ada di sana langsung terkejut.


"Kalian becandakan ?" Derry yang baru datang ikut terkejut.


"Kami serius berpacaran." tegas Fajar.


"Mir ?" Derry dan Bimo langsung menatap Ameera, seakan meminta penjelasan pada gadis itu.


"Benar mas, kami sekarang pacaran." sahut Ameera meyakinkan yang langsung membuat mereka berdua bahkan barisan pria yang menyukai Ameera langsung patah hati mendadak.


"Sayang, aku absen dulu ya. Baru langsung berangkat." ucap Fajar kemudian setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Sebagai karyawan lapangan, ia jarang sekali berada di kantornya. Ia datang hanya untuk melakukan absensi.


"I-iya mas, hati-hati." sahut Ameera, ia nampak terkejut saat Fajar memanggilnya dengan kata sayang.


Lalu ia melambaikan tangannya melihat kepergian kekasih barunya tersebut.


Setelah Fajar meninggalkan kantornya, kini Ameera di serbu oleh teman-temannya.


"Jadi beneran Mir kalian pacaran ?" tanya salah satu dari mereka yang masih belum percaya.


Karena selama ini gadis itu selalu menolak jika ada pria yang menyatakan perasaannya.


"Iya." Ameera mengangguk meyakinkan.


"Kamu cinta sama dia ?"


"Dia karyawan biasa loh, Mir ?"


"Masa karyawan eksekutif pacaran sama karyawan non AC ?"


Berbagai pertanyaan di layangkan teman-temannya Ameera dan gadis itu hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Aku tidak peduli dia siapa, yang aku tahu dia laki-laki baik." ucapnya membela sang kekasih.


Apalagi saat melihat Awan yang nampak berdiri tak jauh darinya, entah sejak kapan pria itu ada di sana.


Namun rasanya ia ingin menunjukkan pada pria itu jika dirinya bukanlah wanita murahan seperti tuduhannya.


"Dan aku sangat menyukainya." ucapnya sedikit kencang, berharap pria menyebalkan itu mendengarnya.


"Dasar murahan, seleranya pun murahan." sindir Awan yang langsung membuat Ameera menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.


"Kamu ngomong apa barusan ?" cercanya tak terima menatap Awan.


Sedangkan Awan nampak tersebut mengejek. "Murahan." ucapnya dengan nada menantang.


"Kau..." Ameera langsung mengangkat tangannya untuk menampar pria di hadapannya tersebut, namun Awan langsung mencekal pergelangan tangannya.


"Apa sebegitu frustrasinya kamu di campakkan oleh pak Mario hingga kamu sembarangan memungut seorang pria ?" sinis Awan kemudian.


"Dia pria baik, bahkan jauh lebih baik dari pada kamu." sahut Ameera dengan menatap balik Awan, kini tatapan mereka nampak terkunci satu sama lainnya.


Ameera yang menatap Awan penuh dengan amarah, sedangkan Awan menatap gadis itu penuh dengan cinta dan tentunya itu tak di sadari oleh Ameera.


"Pria baik ?" Awan nampak mengalihkan pandangannya sembari tersenyum mengejek, sungguh ia tidak kuat menatap wajah polos di hadapannya itu.


Ia takut khilaf, lalu melahap bibir merah alami yang di miliki oleh gadis di depannya itu.


Kemudian Awan nampak menghela napasnya untuk meredakan jantungnya yang kini berdegup dengan kencang seakan ingin lompat dari tempatnya.


"Yang kamu anggap baik itu, belum tentu baik." imbuhnya kemudian dengan menatap lagi Ameera.


"Kamu jangan sok tahu, kamu baru di sini dan aku sudah mengenal mas Fajar jauh sebelum kamu datang. Lagipula aku berpacaran dengan siapa pun itu bukan urusan kamu." sahut Ameera, lalu ia menghempaskan tangan Awan yang mulai mengendur. Setelah itu ia berlalu masuk ke dalam ruangannya.


Awan yang di tinggal begitu saja, langsung mengepalkan tangannya. "Kamu pasti akan menyesal nanti." gumamnya dalam hati.


Ia bukannya tidak tahu siapa Fajar, pria itu tinggal di Mess Karyawan yang tak jauh dari messnya dan tentu saja ia mengenalnya.


Ameera nampak menghentakkan kakinya menuju meja kerjanya, ia merasa kesal dengan karyawan baru itu.


Ia pikir setelah ia mempunyai kekasih, citranya akan semakin membaik terutama di depan pria itu.


Namun nyatanya Awan seakan tidak ada lelahnya untuk membuatnya menderita.


"Sebenarnya apa sih salahku." gerutunya seraya menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya.


Sedangkan Awan yang baru masuk, sama sekali tak menatap Ameera meski ia mendengar gerutuan wanita itu.


"Salahmu itu, kamu menjadi pusat perhatian para pria dan aku tidak menyukai itu." sahut Awan dalam hati.


Seharian Ameera nampak menatap kesal Awan, rasa bencinya semakin meletup-letup terhadap pria itu.


Ingin sekali ia menendang pria itu dari ruangannya bahkan keluar angkasa kalau bisa.


"Ya hallo, apa? kamu mau pulang bersamaku ?" ucap Ameera sore itu ketika mengangkat panggilan teleponnya.


"Baiklah, aku tunggu." sahutnya dengan mengulas senyumnya, kemudian ia menutup panggilan dari Fajar.


Meski saat ini ia belum mencintai Fajar, tapi ia akan berusaha mencintai laki-laki itu.


Di matanya Fajar sosok laki-laki yang baik, wajahnya sangat teduh dan rajin ibadah pula.


Bahkan tutur kata laki-laki itu begitu lembut di dengar, berbeda dengan Awan yang setiap perkataan yang keluar dari bibirnya begitu pedas seperti bon cabe level 50.


Mengingat Fajar, Ameera nampak tersenyum sendiri. Namun saat melihat Awan raut wajahnya langsung berubah suram.


Sedangkan Awan yang diam-diam menatap Ameera, nampak kesal saat gadis itu tersenyum sendiri saat baru selesai mengangkat telepon.


Ia tahu itu telepon dari pria menyebalkan yang menjadi kekasih baru Ameera.


"Dasar norak." ucapnya sedikit lantang agar terdengar sampai meja Ameera.


Sementara Ameera yang enggan menanggapi, justru semakin menunjukkan raut wajah bahagianya khas wanita yang sedang jatuh cinta.


Padahal ia tidak merasakan hal itu, karena Fajar belum mampu menggetarkan hatinya.


Tapi pura-pura bahagia di depan pria menyebalkan itu menurutnya sangat menyenangkan.


"Dasar dajjal, lihat orang bahagia syirik aja." balasnya namun tanpa menatap Awan.


Awan yang mendengar itu langsung mengumpat dalam hati. "Tertawalah sepuasmu, sampai kamu tidak mampu untuk tertawa lagi." gumamnya kemudian.