Ameera

Ameera
Jonathan vs Awan



*💥Lakukan dan niatkan yang terbaik untuk masa depanmu, karena jika bukan kita siapa lagi yang akan mewujudkannya**💥*


Keesokan harinya Ameera nampak mengerjapkan matanya saat merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya.


Kemudian ia langsung menjauhkan lengan Awan lalu menggeser tubuhnya ke tepi menjauhi pria itu.


Ia nampak memperhatikan Awan yang sedang tertidur pulas, kemudian senyumnya seketika terbit.


Ia merasa senang karena begitu di cintai oleh pria itu, meski wataknya sangat keras kepala di luar sana tapi Awan selalu bersikap lembut dan sabar saat menghadapinya yang kadang kekanakan.


Namun ketika mengingat hubungan mereka belum mendapatkan restu, senyumnya langsung menyurut.


Haruskah ia menyerah atau memperjuangkan cintanya, ia takut membayangkan bagaimana akhir hubungannya dengan pria itu.


"Kenapa bengong, apa ada yang mengganggu pikiranmu ?"


Ucapan Awan yang tiba-tiba membuat Ameera langsung terkejut, kemudian ia mengulas senyumnya saat menatap wajah bantal sang kekasih.


"Nggak kok." dustanya, kemudian ia bangun dari tidurnya dan duduk di atas kasur busanya tersebut.


"Gimana, nyenyak tidurnya ?" imbuhnya lagi mengalihkan pembicaraan.


"Nyenyak sekali dong, kan tidurnya di temani bidadari." sahut Awan yang langsung membuat Ameera melotot menatapnya.


"Kamu mimpi bertemu bidadari surga ya? aku cemburu loh mas." cebik Ameera dengan kesal.


"Astaga sayang, kamu merusak suasana romantis saja. Bidadari yang aku maksud itu kamu." Awan langsung bangun lalu menyentil dahi Ameera hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Aku kan bukan bidadari mas, aku cuma gadis kampung." ucap Ameera merendah.


"Kamu tetap bidadari di hatiku." balas Awan yang membuat Ameera langsung tersipu.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku semalam, mas." cebik Ameera kemudian dan itu membuat Awan nampak gemas.


"Aku nggak tahu, aku nggak ingat." sahutnya beralasan.


"Mengenai mamamu mas, beliau pasti marah ya gara-gara kamu nggak pulang." Ameera mengingatkan.


"Biarkan saja." sahut Awan yang nampak malas membahasnya.


"Apalagi jika tahu kita pacaran, beliau pasti akan murka. Aku bingung harus bagaimana mas." tukas Ameera sembari melipat selimutnya, matanya nampak mengembun. Namun ia terus saja menunduk agar Awan tak melihatnya.


"Hei, kamu bicara apa sih sayang." Awan meraih dagu Ameera lalu mengangkat wajahnya hingga kini pandangan mereka bersatu.


Gadis itu nampak berkaca-kaca dan itu membuat Awan semakin merasa bersalah.


"Kamu mencintaiku ?" tanyanya kemudian yang langsung di angguki oleh Ameera.


"Tolong jangan pernah menyerah, maaf jika sampai saat ini aku belum berhasil meyakinkan mereka, tapi aku pasti akan terus berusaha." mohon Awan bersungguh-sungguh.


"Tapi jika mereka tetap tidak setuju bagaimana ?" Ameera masih belum yakin.


"Jangan mikir macam-macam sayang, aku mengenal baik mereka. Kamu jangan khawatir, jika mereka tetap tidak setuju aku akan tetap memilih kamu. Aku laki-laki bisa menikah tanpa wali dan aku yakin bisa membahagiakan mu meski tanpa harta mereka." tegas Awan.


"Nggak boleh begitu mas, restu itu penting." protes Ameera.


"Sudah sayang jangan mikir macam-macam, semua serahkan padaku. Kamu cukup jaga hatimu dan jangan macam-macam dengan Jonathan." tukas Awan kemudian.


"Aku nggak macam-macam dengan Jonathan, mas." jawab Ameera meyakinkan.


"Sekarang kalian nggak macam-macam, tapi selanjutnya siapa yang tahu. Apalagi kalian ada proyek bersama, pasti waktumu akan lebih banyak dengannya dari pada denganku." Awan nampak mendesah kesal.


"Nggak semudah itu aku berpindah hati mas, lagipula aku sudah nggak suci lagi. Siapa juga pria yang mau sama aku, yang ada mereka akan jijik jika tahu." sahut Ameera kemudian.


"Maaf." Awan langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya, ada perasaan bersalah sekaligus bersyukur karena ia sudah memiliki gadis itu.


Dengan begitu hanya dia satu-satunya pria yang berhak memilikinya.


Setelah itu Awan segera kembali ke kamarnya karena matahari sudah mulai menampakkan wujudnya dan itu tandanya para karyawan di sana mulai bersiap-siap untuk bekerja.


"Nit, kamu kemarin kenapa ninggalin aku? aku nggak percaya jika kamu beneran kebelet." tegur Ameera pada Nita pagi itu saat mereka berangkat bersama.


Mulai hari ini Nita masuk divisi keuangan untuk membantunya, karena selanjutnya ia pasti akan sibuk mengurus proyek bersama Jonathan.


Itu berarti gadis itu akan satu ruangan dengannya dan Awan pasti tidak akan mempunyai kesempatan merayunya.


"Memang." sahut Nita yang langsung membuat Ameera menghentikan langkahnya.


"Tega banget kamu, gara-gara kamu membiarkan ku berduaan dengan mas Jonathan. Mas Awan jadi marah-marah." keluh Ameera kemudian.


"Aku terpaksa kali Meer, orang pak Jonathan memelototiku semalam." sahut Nita dan itu membuat Ameera tak percaya.


"Serius ?" tanyanya.


"Beneran, asal kamu tahu Meer. Semua karyawan di kantor juga pada membicarakan beliau, menurut mereka pak Nathan itu sombong dan seperti merasa jijik jika melihat kami."sahut Nita panjang lebar.


"Masa sih, perasaan orangnya sangat ramah kok." Ameera masih tidak percaya.


"Karena kamu cantik, semua pria juga klepek-klepek lihat kamu." tukas Nita.


"Viona juga sangat cantik." sahut Ameera.


"Dia memang cantik tapi sayang barang bekas, jadi mana ada pria yang mau serius." ucap Nita yang langsung membuat Ameera tersentak.


Deg!!


Ameera mendadak pucat, dirinya juga barang bekas dan benar kata sahabatnya itu siapa yang mau dengannya jika mengetahui ia sudah tak suci lagi.


"Memang pria bisa tahu ya, mana barang bekas dan bukan ?" tanya Ameera kemudian.


"Tahu mungkin, buktinya mereka nggak mau godain dia." sahut Nita.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? kamu sama Awan nggak melakukan aneh-aneh kan ?" Nita nampak menatap Ameera dengan pandangan menyelidik.


"Kamu ngomong apaan sih, ya nggak lah. Pacaran saja sembunyi-sembunyi." sahut Ameera berdusta.


"Baguslah, karena biasanya seorang pria yang sudah pernah meniduri ceweknya pasti akan mudah bosan." tukas Nita yang langsung membuat Ameera menghela napasnya, tiba-tiba terbesit perasaan khawatir di hatinya.


"Semoga mas Awan nggak seperti itu." gumamnya kemudian.


Sesampainya mereka di kantornya, nampak Jonathan sudah menunggu Ameera di lobby.


Pria itu terlihat tampan dengan kemeja maron yang di kenakannya, seutas senyumnya nampak menyapa kehadiran Ameera.


"Selamat pagi." sapanya kemudian.


"Pagi juga, mas." sahut Ameera dengan mengulas senyum tipisnya.


"Hari ini kamu berkantor di ruanganku ya." ajak Jonathan, namun Awan yang entah dari mana datangnya tiba-tiba menyelanya.


"Ameera masih ada pekerjaan bro, kamu kan seorang arsitek masa mengurus pekerjaan sendiri saja nggak bisa. Lagipula tidak ada ceritanya karyawan keuangan mengerjakan pekerjaan arsitek, kecuali kamu perlu dana baru hubungi dia." tegas Awan menatap tak ramah Jonathan.


Pria bermata sipit itu hanya bisa mendesah kesal mendengar ucapan Awan, lalu pada akhirnya ia terpaksa menyetujuinya.


"Kamu jangan begitu mas, itu tidak sopan." tegur Ameera saat mereka baru masuk ke dalam ruangannya.


"Siapa pun yang mendekatimu akan berhadapan denganku." tegas Awan.


"Iya, tapi jangan begitu juga mas. Kamu ngasih tahu seperti ngajak berkelahi saja." gerutu Ameera.


"Diamlah sayang, atau ku cium nih." balas Awan yang langsung membuat Nita berdehem.


Dan itu sontak membuat sepasang kekasih itu melirik ke arah gadis itu, lalu mereka segera duduk di kursinya masing-masing.


"Mengganggu saja." gerutu Awan dengan kesal, sepertinya kesempatan bermesraan dengan Ameera akan berkurang karena adanya Nita di dalam ruangannya tersebut.


Karena biasanya yang masuk pagi hanya dirinya dan Ameera, sedangkan yang lain mendapatkan shift sore


Sementara Ameera nampak menahan kekehannya saat melihat wajah kesal sang kekasih.


Sore harinya....


Sore itu sepulang kerja Ameera nampak masuk ke dalam kamar Awan untuk meletakkan berkas yang di titipkan oleh pria itu tadi siang di kantornya.


Namun saat ia akan kembali keluar tiba-tiba seorang wanita berparas bule dengan dandanan menor masuk ke dalam kamar tersebut.


"Mbak siapa, temannya Awan ya ?" tanyanya dengan memperhatikan Ameera dari ujung kaki hingga unjung rambut.