Ameera

Ameera
Part~139



"Aku tidak akan menceraikan Ameera Ma, tidak akan pernah." tegas Awan saat sang ibu membujuknya kembali untuk menceraikan sang istri.


Meski akhir-akhir ini hubungan keduanya kurang baik tapi tak sedikit pun dalam benak Awan untuk berpisah dari wanita itu, wanita yang telah menemaninya dari nol hingga ia sukses seperti saat ini.


"Sampai kapan kamu akan bertahan seperti ini Wan? ingat Wan umur kamu semakin tua, apa kamu ingin menua tanpa seorang anak hah ?" cecar nyonya Amanda, kali ini ia harus berhasil membuat putranya itu berpisah dari istrinya.


"Benar itu Wan, apa kurangnya Karen yang jelas-jelas dia menyukaimu. Dia juga pasti bisa memberikanmu seorang anak, karirnya pun sangat bagus. Coba bayangkan jika kamu menikah dengannya keluarga kalian pasti akan sempurna." kali ini pak Djoyo ikut menimpali yang membuat Awan langsung menatapnya, pria yang selama ini tak terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya itu tiba-tiba mengutarakan pendapatnya yang membuat sang putra semakin bimbang dengan keputusannya.


"Papa sudah tua Wan tak lama lagi juga akan pensiun, Papa berharap sebelum pensiun kamu menempati posisi yang bagus di kantor tak kalah dari saudara-saudara sepupumu yang lain apalagi Karen juga bekerja bersamamu itu akan menguntungkan kalian berdua jika kelak menikah." imbuh pak Djoyo lagi mengingat perusahaan itu adalah perusahaan seluruh keluarga besarnya.


Awan nampak menghela napas panjangnya, sungguh ia bingung harus berbuat apa saat ini.


"Jika kamu tak berani menceraikan Ameera, biar Mama dan Papa yang mengurusnya." tegas nyonya Amanda kemudian dan tentu saja itu membuat Awan langsung tercengang.


"Ma...."


"Keputusan Mama sudah bulat Wan, cukup 10 tahun kamu hidup pas-pasan dengan wanita itu. Sejak menikah dengannya kamu selalu melawan Mama, apa kamu yakin jika kamu tak mempunyai anak itu karena sebuah karma ?" sela nyonya Amanda yang semakin membuat Awan terpojok.


"Jika kamu memang tidak mau bercerai, sekarang kamu pilih Mama atau wanita itu. Jika kamu memilihnya jangan pernah temui Mama dan Papa lagi, lebih baik kami tak mempunyai anak sepertimu dari pada selalu membuat sakit hati." imbuhnya lagi yang tentu saja sontak membuat Awan terbelalak kaget dengan pernyataan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Mama apa-apaan sih." protesnya tak terima.


"Pilih kami atau dia ?" tegas nyonya Amanda lagi dengan mata berkaca-kaca.


Awan nampak sangat frustasi. "Sudahlah, terserah kalian saja. Bukankah itu yang kalian mau selama ini." teriaknya seraya beranjak dari duduknya, lalu segera berlalu ke kamarnya meninggalkan kedua orang tuanya itu.


"Tentu saja terserah Mama, Wan." Nyonya Amanda nampak mengulas senyum penuh kemenangan.


Keesokan harinya....


Subuh itu Ameera bangun dan tak melihat suaminya di sisinya, baru kali ini pria itu tak pulang ke rumahnya sepanjang pernikahannya kecuali saat ada pekerjaan di luar kota.


Kemudian Ameera mengambil ponselnya lalu mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif.


"Kamu di mana sih mas." gumamnya, entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak.


Tak ingin berspekulasi lebih jauh, Ameera segera beranjak bangun lalu bergegas ke toilet untuk membersihkan dirinya dan selanjutnya melakukan ibadah dua raka'atnya serta tak lupa selalu mendoakan keselamatan sang suami di manapun pria itu berada.


Hingga siang hari Awan pun tak kunjung pulang atau menghubunginya, mungkin saat ini suaminya sedang bekerja dan ia mencoba untuk selalu berpikir positif.


Tepat jam makan siang, pintu rumahnya di ketuk dari luar hingga membuat Ameera yang baru menyelesaikan sholat dhuhur bergegas keluar dari kamarnya.


"Itu pasti mas Awan." gumamnya dengan wajah sumringah dan setelah pintunya terbuka Ameera langsung terbelalak saat melihat kedua mertuanya sudah berdiri di sana dengan wajah datar.


"Mama, Papa? silakan masuk." Ameera segera mempersilakan mereka untuk masuk tapi langsung di tolak mentah-mentah oleh ibu mertuanya itu.


"Tidak perlu, kami hanya sebentar di sini." tegas wanita itu.


"Ada apa ya Ma, Pa ?" Ameera langsung mempunyai firasat buruk, suaminya baik-baik sajakan?


"Ambil ini lalu segera tanda tangani !!" Nyonya Amanda menyerahkan sebuah dokumen yang langsung di ambil oleh Ameera lalu segera di bukanya.


Deg !!


Melihat itu dunia Ameera seakan runtuh seketika, bagaimana bisa suaminya tiba-tiba menceraikannya tanpa berunding dulu dengannya.


"Kamu tidak lihat, tanda tangan Awan ada di sana? jadi segera tanda tangani agar proses sidang cepat berjalan !!" perintah nyonya Amanda tak berperasaan.


"Tapi kenapa Ma? aku dan mas Awan tak mempunyai masalah yang sangat serius, kami memang sedang ada sedikit kesalahpahaman tapi aku yakin itu bisa di selesaikan." mohon Ameera, sungguh sepanjang hidupnya ia tak pernah terpikirkan untuk bercerai.


"Kesalahpahaman kamu bilang? kamu itu sudah selingkuh dengan pak ustad jadi jangan banyak alasan." tuding nyonya Amanda berapi-api.


"Astagfirullah, Ma. Aku tidak pernah berselingkuh." Ameera langsung menepis tuduhan ibu mertuanya itu.


"Selain itu kamu juga mandul jadi cukup tahu dirilah, sudahlah kami tak ada waktu berlama-lama di sini nanti pengacara Awan yang akan menghubungimu." tegas nyonya Amanda lalu segera mengajak suaminya berlalu pergi dari sana.


Melihat mertuanya pergi begitu saja Ameera segera masuk ke dalam rumahnya dan tubuhnya langsung luruh ke lantai. "Mas, kenapa kamu tega lakukan ini padaku? aku benar-benar tidak selingkuh mas." ucapnya di tengah isak tangisnya.


Hingga sore hari Ameera tak berhenti menangis, tangannya terus menerus memegang ponsel untuk menghubungi suaminya namun nomor pria itu tetap tidak bisa di hubungi.


Menjelang maghrib, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Ameera yang hendak menunaikan ibadah tiga raka'atnya langsung berlari mengambil ponselnya.


Itu pasti suaminya yang menghubunginya, karena sejak tadi siang ia mengirimi pria itu banyak sekali pesan singkat.


"Adek ?"


Ameera langsung mendial tombol hijau saat melihat nama adiknya di layar ponselnya.


"Assalamualaikum dek, ada apa ?" ucapnya kemudian.


"Wa'alaikumsalam mbak Ameera, Bunda mbak tiba-tiba jatuh pingsan dan saat ini kami sedang di rumah sakit."


"Astagfirullah." Ameera seketika langsung lemas saat mengetahui kabar ibunya itu.


Kemudian setelah melanjutkan ibadahnya, Ameera segera memesan taksi untuk mengantarnya ke rumah sakit yang berada tak jauh dari kampungnya.


"Dek, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Bunda tiba-tiba pingsan ?" tanya Ameera sesampainya ia di rumah sakit.


"Bunda baru saja mendapatkan kabar jika mbak Ameera akan bercerai, lalu tiba-tiba memegang dadanya lalu jatuh pingsan." ucap adiknya tersebut.


"Astagfirullah." Ameera tak habis pikir secepat itu berita perceraiannya beredar hingga ke telinga keluarganya.


Tak berapa lama seorang dokter datang dengan tergesa-gesa. "Dengan keluarganya pasien ?" ucapnya kemudian.


"Kami anaknya dok." sahut Ameera kemudian.


"Ikut kami ibu anda angin bertemu dengan keluarganya." ucap dokter tersebut yang langsung membuat Ameera dan beberapa saudaranya segera masuk ke dalam.


"Bunda tolong bertahanlah." mohon Ameera seraya menggenggam tangan sang ibu.


Nyonya Ana yang sebelumnya mengalami serangan jantung tiba-tiba terlihat sangat lemah, hanya air matanya yang mengalir deras saat menatap Ameera.


Sejak di tinggal oleh sang ayah beberapa tahun silam, kesehatan ibunya memang sering menurun tapi tak separah ini.


"Ma-maaf-kan Ma-ma." ucapnya terbata-bata, lalu menatap satu persatu anak-anaknya dan setelah itu wanita paruh baya itu menutup matanya tepat setelah menatap Ameera.


"Bunda? tidak, tidak mungkin, bunda harus kuat, bunda ayo bangun." Ameera dan keluarganya langsung panik saat bunyi mesin pengatur detak jantung di layar monitor mulai melemah dan berhenti seketika.


"Bunda, maafkan Meera." teriak Ameera saat menatap ibunya yang sudah tak bernapas lagi itu.