
Dua orang manusia itu hanya sibuk dengan dirinya masing-masing.
Vio sibuk melihat ke arah jendela, sehingga ia bisa melihat pemandangan dari luar, sementara Jeffry sibuk dengan pikirannya, ia sedang berfikir bagaimana caranya agar istrinya itu mau bicara dengannya lagi.
"Aku ingin istirahat, bisakah kamu tunggu di luar." Ucap Vio, setelah lama mereka berdiam diri tidak ada yang mulai bicara.
Deg.
Begitu terkejut, lantaran sang istri yang biasanya memanggilnya dengan sebutan ' mas ' kini malah ia di panggil dengan sebutan ' kamu ', terlebih lagi Vio memintanya menunggu di luar.
"Yasudah, istirahatlah. Aku akan tunggu di sini." Ujar Jeffry.
"Tapi..." Belum sempat Vio melanjutkan perkataannya, tiba-tiba pintu ruangan di buka.
Dan menampilkan satu orang perawat yang mengantar makanan, untuk makan siang Vio.
"Permisi, saya mengantarkan makanan atas nama pasien Tania Violleta."
"Iya sus, biar saya saja yang meletakkan nya." Ujar Jeffry.
Perawat itu pun memberikan nampan berisi makanan ke Jeffry, setelah itu ia pun keluar dari ruangan tersebut.
Sepeninggalan perawat tadi, Jeffry melangkahkan kakinya ke arah Vio yang tengah berbaring di hospital bad nya.
"Makanlah, setelah itu baru minum obat dan istirahat." Ucap Jeffry pada sang istri.
"Aku tidak lapar." Ujar Vio.
"Jika kamu tidak makan, kasihan anak kita Vi. Dia butuh asupan nutrisi, setelah kamu mengalami koma."
"Buka mulutmu, aku akan menyuapimu." Ucapan yang dilontarkan Jeffry berhasil menyadarkan Vio dari lamunannya.
"Aku bisa sendiri." Ujarnya, seraya mengambil sendok yang ada di tangan Jeffry.
"Kamu masih lemah, biar aku saja yang menyuapi."
Tak ingin berdebat, Vio pun membiarkan Jeffry menyuapinya. Karena ia pun merasa, kondisinya masih lemas.
Setelah makan dan minum obat, Vio pun istirahat. Sementara Jeffry, yang sebelumnya membantu sang istri untuk berbaring, kini ia tengah duduk di sofa sambil memainkan handphone nya, untuk memeriksa beberapa pesan yang masuk terutama dari sang asisten dan adiknya itu.
Nares sedikit kelimpungan dalam menjalankan perusahaan sementara milik keluarganya, lantaran sang kakak yang masih menjaga istrinya itu, namun setelah melihat kakak iparnya itu sudah sadar dan kondisinya sudah membaik, ia pun mengirim pesan pada sang kakak dan menyuruhnya untuk kembali bekerja.
Walaupun tidak pergi ke perusahaan, namun ia inginkan sang kakak membantunya bekerja di rumah/rumah sakit sambil menjaga istrinya itu.
Dan mau tak mau Jeffry pun mulai bekerja, Jeffry pun sebenarnya kasihan melihat sang adik harus mengurusi perusahaan dan juga pekerjaan nya sebagai pengacara, walaupun ia di bantu oleh sang asisten, dan sedikit dibantu oleh sang papah.
Jeffry pun beranjak dari tempat duduknya, dan melangkahkan kakinya menuju jendela besar yang ada di ruangan.
Ia pun mengeluarkan handphone nya, dan menghubungi sang adik.
"Halo." Ketika teleponnya sudah di angkat.
"Iya ada apa ka?" Tanya Nares di sebrang sana.
"Gua cuman mau minta tolong, tolong ambili-in laptop yang sering gua pakai kerja di ruang kerja gua. Oh ya, sekalian juga baju ganti buat gua, sama Vio, lu suruh aja sama bi Ijah, biar bi Ijah yang nyiapin baju ganti gua sama Vio."