
"Sudah-sudah, kalian ini jangan berantem." lerai mana Anggun.
"Kami gak berantem ko mah. Iya kan ka!" Tanya Nares pada sang kakak.
"Hmmm." Jawan Jeffry hanya dengan berdeham.
"Jadi elu pilih mana? Di penjara atau menikah?" Tanya Nares.
"Entahlah gua bingung." Jawab Jeffry sambil memijit pelipih hidungnya dengan wajah menunduk.
"Ck. Kenapa elu bingung, elu itu sudah termasuk kedalam golongan yang beruntung karena apa! Karena elu di beri kesempatan untuk tidak masuk kedalam bui oleh tuan Jefri tau gak. Malahan elu disuruh untuk menikahi tunangannya, setau gua nona Vio itu cantik, baik, dan rendah hati, oh ya satu lagi lemah lembut. Seharusnya elu tuh senang, kalau elu gak mau gua siap ko buat gantiin tuan Jefri untuk menikahi nona Vio. Heheh." Cecar Nares.
plakkkk
"Pah ko mukul lengan Nares sih." Ucap Nares dengan wajah tidak terimanya.
"Lagian kamu tuh kalau ngomong gak di saring dulu."
"Emang nya Nares ngomong apa! Sampai-sampai gak di saring dulu pah." Tanya Nares dengan wajah bingung nya.
"Ya itu tadi kamu, ngapain ngomong kalau kamu siap buat gantiin tuan Jefri untuk menikahi nona Vio. Memangnya nana Vio barang sampai-sampai di oper segala." Pekik pak Putra.
"Ya bukan begitu maksudnya pah. Kan siapa tau ka Jeffry gak mau gantiin, jadi yaudah aku siap ko buat gantiin."
"Sudah lah papah pusing. Oh ya tuan Banyu saya meminta maaf atas perkataan anak ke dua saya, dia memang orangnya agak random." Ucap pak Putra dengan wajah memohon.
"Tidak apa-apa tuan putra."
"Terima kasih banyak tuan."
Setelah itu dokter datang untuk mengabari sesuatu.
"Permisi." Semua pun menoleh ke arah dokter.
"Ia ada apa ya dok." Tanya ayah Angga.
"Saya ada apa dok." Jawab tuan Banyu sambil mengangkat satu tangannya.
"Begini saya ingin melaporkan bahwa ada pendonor mata yang cocok untuk putri anda tuan."
"Benarkah." Ucap tuan Banyu dan nyonya Kayla.
"Benar tuan. Dan operasi nya bisa dilakukan besok lusa."
"Terima kasih dok. Tapi ngomong-ngomong siap yang mendorong kan matanya untuk putri kami?" Tanya tuan Banyu.
Dokter itupun hanya diam, seperti memikirkan sesuatu.
"Dok."
"Eh iya tuan. Maafkan saya."
"Tidak apa-apa, lalu siapa orangnya dok."
"Hmmm sebenarnya, saya di larang untuk mengatakan siapa yang sudah mendonorkan matanya oleh orangnya tuan."
"Tapi jika anda ingin tahu, baiklah saya akan memberi tahu siapa orangnya."
"Orangnya adalah yang tak lain dan tak bukan almarhum tuan Jefri Alamsyah. Beliau lah yang mendonorkan matanya untuk nona Vio tunangannya."
"Apaaa." Kaget semua orang.
"Tapi bagaimana bisa." Tanya tuan Banyu lagi.
Dokter itupun langsung bercerita.
"Sebenarnya sewaktu almarhum tuan Jefri masih hidup. Ia dan tunangannya pergi ke rumah sakit ini untuk mengetahui apakah ada orang yang mendonorkan matanya. Tapi saya katakan waktu itu masih belum ada yang cocok untuk mata nona muda Vio."
"Dan keesokan paginya. Almarhum tuan Jefri datang lagi kemari, dia meminta untuk di periksa matanya. Apakah mata dia cocok untuk Vio tunangannya, jadi waktu itu kami sudah memeriksa keadaan kondisi mata almarhum dan hasilnya memang cocok untuk mata nona Vio. Dan almarhum meminta jika ia...