Violleta

Violleta
BAB 15



"Maaf tuan. Apakah anda yakin tidak ingin melakukan operasi?"


"Tidak." Lirih Jefri.


"Baiklah kalau begitu saya akan sampaikan hal ini kepada kedua orang tua anda. Sepertinya mereka sudah berada di luar."


"Baiklah dok."


Dokter pun pergi keluar untuk menemui kedua orang tua Jefri.


"Sus, bisa saya minta tolong?"


"Baik tuan, apa yang ingin anda mau?" Jawab salah satu perawat yang kebetulan sedang ditugaskan untuk memantau perkembangan Jefri.


"Tolong setelah ini, katakan kepada semua orang yang menungguku di luar ruangan untuk menemui ku. Karena ada hal yang ingin aku sampaikan."


"Baik."


Di dalam ruangan hanya ada Jefri dan juga Nares. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, jika Jefri sibuk dengan menhan rasa sakit yang di deritanya berbeda dengan Nares ia hanya melihat karena ia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Jefri yang sedang menahan sakit di sekujur tubuhnya.


Flashback off.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah Nares menceritakan kejadian yang membuat ia bisa berada di dalam ruangan ICU.


Dan ia pun memberikan sebuah map yang berisikan sebuah surat perjanjian yang Jefri buat.


"Nih ka." Sodor Nares memberikan map yang berisi tentang surat perjanjian kepada kakaknya.


"Jadi dia serius membuat sebuah surat perjanjian!" Pekik Jeffry.


"Menurut mu."


"Gua pikir dia gak serius." Melas Jeffry.


"Cih, dia tuh serius. Bahkan dia serius buat minta elu jadi pengganti dia, buat nikahin tunangannya." Jawab Nares.


"Jika gua gak mau nikah sama tunangannya dan memilih untuk di penjara bagaimana!"


"Apa." Pekik Jeffry dan kedua orangtuanya.


"Kamu gak bercanda kan nak." Tanya mama Anggun kepada anak keduanya.


"Tidak mah, Nares serius. Jika ka Jeffry di penjara otomatis dia mendapatkan hukuman yang berat. Yaitu hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup." Jawab Nares lagi-lagi dengan nada entengnya.


"Astaga, apakah tidak ada keringanan." Melas Jeffry.


"Sebenarnya bisa. Cuman dalam kasus elu sepertinya mustahil untuk di berikan keringanan, lantaran elu juga mengendarai mobil dalam keadaan mabuk."


"Tapi gua gak mabuk, tapi gua dalam terpengaruh oleh obat yang di berikan cewek sialan itu." Geram Jeffry mengingat apa yang dilakukan oleh cewek yang ada di Club bersama dia dan teman-temannya.


"Tapi elu tetap meminum minuman alkohol itu kan." Tanya Nares.


"Sedikit." Cicit Jeffry.


"Sama aja. Jika elu di periksa maka tetap akan ada minuman memabukkan itu di tubuh elu, terlepas itu hanya sedikit atau pun banyak." Kesal Nares.


"Jeffry tadi kamu bilang ada yang memasukkan obat kedalam minuman mu lalu obat apa itu nak." Tanya pak Putra.


"Obat pe***ng pah." cicit Jeffry dengan wajah tertunduk.


"Apaaaa." pekik mama dan papa Jeffry.


"Astaga Jeffry. Kamu..." Ucap pak Putra dengan memijit pelipisnya.


"Maaf mah, pah." ucap Jeffry dengan suara lirih.


"Terus ko elu bisa baik-baik aja sih." Tanya Nares.


"Hmmm, karena tadi gua habis dari resepsionis dan sebelum gua telepon mama dan papa. Gua minta perawat untuk menghilangkan efek dari obat sialan itu, setelah itu gua istirahat sebentar. Ya walaupun masih agak sedikit pusing."


"Gua gak nanya keadaan elu sekarang." Ejek Nares.


"Sialan."