
"Oh ya, dimana putra kita mas?" Tanya Vio pada Jeffry, yang masih duduk di sofa.
Belum sempat Jeffry menjawab, pintu ruangan terbuka, dan muncullah salah satu suster yang tengah mendorong seperti keranjang bayi.
"Selamat pagi tuan, nyonya." Sapa suster itu.
"Pagi." Balas Vio dan Jeffry secara bersamaan.
"Apa itu putra saya sus?" Tanya Vio.
"Benar nyonya, ini putra kalian." Jawabanya.
"Benarkah! Tolong bawa kemari, saya ingin menggendong nya."
"Baik nyonya."
Suster itu pun memberikan bayi itu kepada Vio, Vio pun menerima dan langsung mencium pipi anaknya yang sudah dimandikan itu, yang kini sudah berada digendongnya.
Dan Jeffry pun mendekati kedua orang yang ia sayangi dan cintai.
"Sebaiknya, Dede bayinya di beri ASI terlebih dahulu." Ucap suster itu.
"Baik." Ujar Vio, dan ia pun langsung memberi ASI anaknya itu.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dahulu."
"Terima kasih sus."
"Sama-sama tuan, nyonya, mari." Suster itu pun keluar dari ruangan Vio.
Setelah suster itu keluar kini tinggallah Vio dan Jeffry, beserta anak mereka.
Jika kalian bertanya kemana kedua orang tua Vio dan Jeffry? Jawabannya adalah, setelah melaksanakan sholat subuh, tuan Banyu dan pak Putra, kembali tidur. Sementara nyonya Kayla dan mamah Anggun pergi mencari sarapan untuk mereka.
"Ssssttt."
"Kenapa?" Tanya Jeffry.
"Ini, sepertinya anak kita benar-benar lapar dan haus, ia sangat agresif sekali meminumnya." Jawab Vio.
"Tidak apa, itu artinya dia benar-benar mewarisi gen ayahnya. Bukan hanya wajahnya saja yang mirip denganku, begitu juga dengan keagresifan nya setiap kali dekat denganmu." Ucap Jeffry.
"Issss kau ini, tapi aku juga heran kenapa wajahnya mirip denganmu, padahal aku yang mengandungnya, tak ada satupun yang mirip denganku." Cemberut Vio.
"Ya itu karena aku yang menanam benihnya, jadi sebab itu wajahnya lebih mirip aku daripada kamu." Bangga Jeffry, dan semakin gencar menggoda Vio.
"Hehehe, iya maaf. Tapi kamu gak perlu risau masih ada yang mirip denganmu ko, nih alisnya mirip denganmu." Ujarnya.
"Masa cuman alis doang sih yang mirip aku."
"Gak pa-pa kali, cuman mirip alisnya doang. Yang penting ada yang mirip denganmu." Ucap Jeffry, dan seketika Vio pun mencubit perut sang suami.
"Akkhh sayang sakit, ampun gak lagi."
"Mangkanya jangan godain aku mulu."
"Habisnya kalau kamu cemberut lucu."
Belum sempat Vio membalas ucapan sang suami, pintu ruangan terbuka, dan menampilkan sosok yang ternyata adalah mommy Kayla dan juga mamah Anggun.
"Kau sudah bangun sayang?" Tanya nyonya Kayla.
"Sudah mah, buktinya mata ku terbuka." Jawab Vio.
"Maaf ya, mommy sama mamah Anggun lama cari sarapan nya." Ucap nyonya Kayla lagi.
"Tak apa." Jawab Vio.
"Apa itu cucu mamah?" Tanya mamah Anggun, yang sedari tadi diam.
"Iya mah." Jawab Vio, dan kebetulan ia sudah selesai menyusui anaknya itu.
"Wah tampan sekali." Ujar mamah Anggun dan nyonya Kayla secara bersamaan.
"Mirip denganku kan mah." Ucap Jeffry.
"Iya mirip denganmu." Balas mamah Anggun tanpa melihat ke arah Jeffry, ia hanya fokus terhadap cucunya yang kini tengah berada di gendongannya.
Tak lama, tuan Banyu dan pak Putra pun ikut bergabung.
"Wah-wah, kenapa mamah tidak membangunkan papah, jika cucu kita sudah ada disini, kita juga ingin menggendong cucu kita, benarkan Banyu." Ucap pak Putra.
"Kau benar putra." Balas tuan Banyu. Ya, semenjak mereka berbesanan sudah tak ada lagi bahasa formal diantara mereka, mereka selayaknya teman.
"Kita saja baru menggendong nya, benar kan mba?" Tanya mamah Anggun kepada nyonya Kayla.
"Benar itu, jadi kalian harus antri."