Violleta

Violleta
BAB 81



Ia pun membuka kotak itu dan melihat isinya.


"Cantik, seperti orang yang memakainya." Gumam Jeffry.


Ia pun kembali menutup kotak itu, dan meletakkannya kembali ke brankas.


Ia pun hendak menutup kembali brankas, namun niatnya ia urungkan. Ketika ia melihat sebuah handphone dan sebuah surat.


Jeffry pun mengambil kedua benda itu, dan tak lama ia menaruh kembali, lalu langsung menutup brankas.


"Apa yang harus aku lakukan." Cicitnya dalam hati.


Setelah itu ia mengusap wajahnya dengan kasar, sambil menghela nafas.


Jeffry pun kembali ke kamarnya, dan melihat sang istri yang sedang memakai kembali baju tidurnya.


"Sayang ko kamu bangun? Ini masih malam loh, tidur lagi yuk!" Ajaknya.


"Gak ah mas, aku mau mandi."


"Loh tapi ini masih jam 2 dini hari."


"Iya aku tau, tapi aku gak kuat lengket banget karena keringat."


"Yaudah kalau itu mau kamu, tapi mas minta maaf ya, mas gak nungguin kamu mandi."


"Ya lagian siapa juga yang mau ditungguin."


"Ya takutnya kamu mau mandi bareng." Godanya pada sang istri.


"Udah ah."


Vio pun pergi ke kamar mandi, sementara Jeffry menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, rebahan sambil menatap langit-langit kamar.


Cklek.


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Vio yang kini sudah terlihat lebih segar, dengan rambut basah yang tergerai.


"Mas belum tidur?" Tanya Vio, melihat sang suami yang memainkan handphone nya. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Sini biar aku aja yang mengeringkan rambut mu." Ujarnya sambil mengambil handuk di tangan Vio, dan menuntut Vio untuk duduk di kursi yang ada di meja rias.


"Mas biar aku aja, aku bisa sendiri."


"Hustt diam, gak pa-pa. Sekali-kali aku yang melayani kamu, jangan kamu aja." Ucap Jeffry sambil mengeringkan rambut Vio dengan handuk.


"Pakai hair dryer ya!"


"Gak ah nanti juga kering sendiri."


"Tapi sayang ini udah malem banget, gak baik kamu tidur dengan rambut kamu yang basah."


"Ya udah seterah mas aja." Pasrah Vio.


"Nah gitu dong."


"Oh ya, mas. Aku lupa, rose ngajakin aku untuk ke rumahnya, katanya dia akan mengadakan makan-makan untuk merayakan hari ulang tahunnya, aku boleh ke sana!" Izin Vio.


"Kapan?" Tanya Jeffry.


"Besok siang mas, kira-kira jam dua siang..."


"Tapi kayaknya kamu juga di undang deh mas, soalnya dia juga bilang, bahwa sahabat pacar nya juga akan di undang." Ucapnya lagi.


"Iya, tadi zio barusan ngirim pesan di grup, katanya dia disuruh ngabarin anak-anak buat Dateng ke acara yang dilakukan oleh kekasihnya." Jawab Jeffry, disela-sela mengeringkan rambut sang istri.


"Sudah selesai." Jeffry pun meletakkan hair dryer, di tempat semula.


"Sayang nanti besok kita ke rumah sakit ya!" Ajak Jeffry pada sang istri, seraya memegang bahu Vio dengan kedua tangannya.


"Buat apa, kamu sakit." Khawatir Vio, sambil menatap sang suami lewat cermin.


"Gak, aku cuman pengen tau aja. Jeffry junior sudah ada apa belum di perut kamu." Ujarnya sambil mengelus perut rata sang istri.


"Mas pingin banget ya punya anak, tapi aku gak nemuin tanda-tanda bahwa aku hamil." Ucapnya.