Violleta

Violleta
BAB 136 (END)



Bukan seperti sang kakak atau yang lainnya yang sekolah, di sekolah internasional layaknya orang kaya, Nares lebih memilih sekolah sekaligus mondok di salah satu pesantren yang ada di Jawa barat.


Dan disitulah ia mulai ada ketertarikan terhadap seorang wanita.


Dan ia pun sebenarnya sudah lama membenam rasa cinta kepada Zahra pada saat ia masih sekolah, waktu itu ia masih duduk di bangku kelas dua belas, sedangkan Zahra duduk di bangku sebelas.


Namun karena peraturan yang ada di pesantren itu melarang murid berpacaran, maka yang hanya bisa Nares lakukan ialah memendam rasa cintanya terhadap sang pujaan hati.


Ia bahkan rela menunggu sang pujaan hati Zahra, lulus dari study nya di Mesir.


Ya, pada waktu ia kuliah hukumnya, ia pernah mendengar bahwa setelah lulus dari sekolah SMA, Zahra akan melanjutkan pendidikannya ke luar negri, yakni Kairo Mesir.


Ia juga sempat mendengar bahwa Zahra adalah salah satu murid berprestasi disekolah nya itu, sehingga ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negri.


Jadi sebab itulah ia menjomblo, sampai akhirnya ia mendengar kabar, bahwa sang pujaan hati Zahra sudah lulus dari kuliahnya.


Dan dari situlah, ia tak ingin kehilangan cinta pertamanya itu, setelah Zahra Kemabli ke kampung halamannya, Nares meminta mamah dan papah nya untuk melamar sang pujaan hati.


Dan dengan senang hati kedua orang tuanya menuruti keinginan sang putra bungsu mereka.


Dan bukan hanya Nares, sahabat Jeffry pun kini sudah memiliki pasangannya masing-masing.


Dan disini lah mereka semua berkumpul, di sebuah ballroom hotel tempat Nares dan Zahra menyiapkan acara untuk pesta pernikahan mereka.


Tak banyak tamu undangan yang mereka undang, hanya keluarga, kerabat, dan para teman dekat saja lah yang mereka undang.


Bahkan karyawan di perusahaan milik Nares dan perusahaan milik keluarganya pun tak diundang.


Karena itu permintaan Zahra sendiri, karena ia tak ingin banyak orang.


"Wah akhirnya, salah satu es batu kita ini sudah menemukan sang pujaan hatinya." Ucap Chandra, kini mereka semua sudah berada di atas pelaminan, mereka hendak memberikan selamat sekaligus hendak foto bersama.


"Ya elah bang, baru juga lamaran. Secepat nya, do'akan saja secepatnya." Jawab Chandra.


"Aamiin." Ucap semua orang.


"Sudah-sudah, sebaiknya sekarang kita foto bersama. Liat noh, anak gua udah ngantuk." Ujar Jeffry, seraya menunjuk ke arah istrinya yang tengah menggendong baby Er, yang kini tengah menahan kantuk.


"Iya, iya, ayo buruan bini gua juga gak boleh pulang malam-malam karena lagi bunting." Ucap Dio.


"Kau masih saja percaya akan ucapan orang tua dulu-dulu." Timpal Tio.


"Mencegah lebih baik daripada mengobati." Timpal Dio tak mau kalah.


"Buruan mau foto apa mau debat nih." Lerai zio.


"Oke-oke."


Mereka pun akhirnya foto bersama.


...~End~...


Alhamdulillah akhirnya tamat juga, terima kasih untuk kalian yang sudah mau membaca karya pertama ku...


Dan mohon maaf bila banyak yang typo, atau alurnya yang agak sedikit melenceng dari sebelumnya, serta tidak sesuai dengan keinginan kalian, dan juga ada kalimat yang tidak sesuai.


Oh ya, dan tak lupa juga aku ucapin terima kasih kepada kalian yang sudah mau memberikan aku like, vote, dan juga menjadikan karyaku sebagai favorit kalian.


Sekali lagi terima kasih atas support dari kalian semua, thank you guys😘