
"Iya dad." Pasrah Vio, ia pun meletakan kembali piringnya, dan mengambil piring milik sang suami, dan ia pun mulai mengambilkan nasi beserta lauk pauknya.
"Sudah cukup Vi, itu terlalu banyak." Ucap Jeffry, setelah melihat bahwa sang istri mengambilkan nasi ke piringnya yang cukup banyak. Dan Vio pun menurut.
"Mau makan sama apa?" Tanyanya dengan nada ketus.
Namun Jeffry tak masalah mendengar nada bicara sang istri yang ketus terhadapnya, ia pun malah tersenyum.
"Apa aja." Jawabnya.
Setelah mengambilkan Jeffry makanan, barulah ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Mereka pun sarapan pagi bersama, selesai sarapan, Jeffry dan Vio pun pergi untuk ke rumah sakit.
"Mom, dad. Kami pergi ke rumah sakit dulu ya!" Ucap Vio.
"Iya sayang, hati-hati." Ujar nyonya Kayla.
"Vi, apakah kamu sekalian kontrol lagi?" Tanya tuan Abimanyu.
"Tidak dad. Dokter bilang kemarin adalah kontrol yang terakhir." Jawab Vio.
"Oh begitu, yasudah kalian berangkatlah."
"Baik, kalau begitu kami pergi dulu, assalamu'alaikum." Ucapnya, Vio dan Jeffry pun mengucapkan salam secara bersama.
Setelah menyalami tangan kedua orangtuanya, Vio dan Jeffry pun pergi ke rumah sakit.
"Apakah anak kita merepotkan kamu?" Tanya Jeffry di sela-sela ia menyetir mobil.
"Tidak." Jawab Vio singkat, tanpa menoleh ke arah Jeffry, ia pun terus melihat ke jendela.
Huffstt. Jeffry pun hanya menghela nafasnya.
"Lalu apa ada yang kamu inginkan?" Tanyanya lagi, masih fokus menyetir, namun sekali-kali ia melihat ke arah Vio.
"Vi, aku mohon. Jika kamu menginginkan sesuatu katakan saja padaku, aku pun ingin di repot kan oleh mu di masa-masa ngidam kamu." Ujar Jeffry, yang mengatakan keinginannya.
Vio pun hanya diam tanpa menjawab.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Jeffry pun sampai di rumah sakit.
Ia pun memakirkan mobilnya di tempat parkir, Jeffry yang berniat ingin membukakan pintu mobil untuk Vio, namun keinginannya lagi-lagi harus sirna. Lantaran Vio sudah membuka pintu mobilnya sendiri, dengan helaan nafas yang kasar, ia pun membuka membuka pintu mobil dan keluar dari mobilnya, menyusul Vio yang sudah lebih dulu turun dari mobil.
Mereka pun berjalan beriringan menuju poli kandungan, untungnya mereka sudah tau dimana tempat poli kandungan tanpa harus menanyakannya lagi pada bagian resepsionis.
Setelah berada di poli kandungan, mereka pun duduk di kursi tunggu, dan untungnya lagi mereka sudah mendaftarkan nama Vio, sehingga mereka tak perlu daftar ulang untuk mendapatkan nomor antrian, mereka mendapatkan nomor antrian 3.
Dan yang di dalam ruangan yang juga sedang memeriksa kandungan adalah nomor antrian 2, jadi mereka tinggal tunggu nama Vio dipanggil saja.
Cklek.
Pintu ruangan di buka, dan keluarlah orang yang tadi di dalam beserta suara dari seorang perawat yang memanggil nama Vio.
"Nyonya Tania Violleta." Panggil perawat tadi.
"Iya saya." Jawab Vio sambil berdiri dari duduknya.
"Silahkan anda masuk, kini giliran anda." Ujar perawat.
"Baik." Vio dan Jeffry pun masuk ke ruangan, dan mereka langsung di persilahkan duduk di depan dokter, meja yang menjadi penghalangnya.
"Selamat pagi nyonya Vio dan tuan Jeffry." Ucap dokter paruh baya.
"Pagi dok." Ujar Vio dan Jeffry.
"Bagaimana? Apakah sudah siap untuk diperiksa?" Tanya dokter pada Vio.