
"Yasudah sebaiknya kita ke kamar, aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi." Ucap Vio, mereka pun akhirnya pergi ke kamar mereka.
Pada saat di depan pintu kamar yang biasa ditempati oleh Vio dan Jeffry, tiba-tiba Jeffry berucap.
"Em, sebaiknya kamu tidak perlu menyiapkan air hangat untukku, aku bisa sendiri. Lagi pula aku akan mandi dikamar sebelah, jadi aku hanya mau mengambil bajuku saja." Ucapnya.
Mendengar ucapan dari sang suami, membuat Vio sadar, bahwasanya ia meminta agar mereka tidur dikamar yang terpisah.
Kemudian Jeffry pun membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar, untuk mengambil baju tidurnya, dan di susul Vio.
Di dalam kamar Vio hanya duduk di kasurnya sambil melamun, sementara Jeffry pergi ke walk in closet, setelah mengambil baju tidurnya Jeffry pun keluar dari kamar, dan lagi-lagi Vio hanya melamun.
Di dalam kamar, setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur, Jeffry hendak duduk bersantai di atas kasurnya sambil memainkan handphone nya.
Namun niatnya ia urungkan, lantaran pintu kamarnya di ketuk, setelah mengucapkan kata "masuk", pintu pun di buka dan munculah Vio di balik pintu.
"Em, maaf mengganggu. Aku hanya ingin mengajak mu untuk makan malam, aku sudah memasaknya tadi." Ujar Vio setelah berada di dalam kamar yang ditempati Jeffry.
"Baiklah ayo." Ucap Jeffry, mereka berdua pun turun dan menuju ke ruang makan.
Setelah sampai di ruang makan, Vio pun langsung melayani sang suami, dengan mengambilkan nasi berserta lauk pauk kesukaan sang suami.
Dan hal yang dilakukan Vio pun membuat Jeffry tersenyum, lantaran Vio memasak makanan kesukaannya.
Setelah makan malam, mereka pun masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Di dalam kamar entah kenapa Vio merasa uring-uringan, lantaran ia ingin sekali tidur di dekapan sang suami, padahal sebelumnya ia masih bisa mengontrol dirinya dan mempertahankan egonya.
Lantaran tak bisa menahan kemauan dari calon anaknya itu, Vio pun memutuskan untuk pergi ke kamar yang kini ditempati oleh Jeffry.
Setelah berada di depan pintu kamar, Vio pun langsung mengetuk pintu. Dan tak butuh waktu lama, setelah ada sahutan dari dalam ia pun membuka pintu dan masuk kedalam nya.
Setelah masuk kedalam kamar, Vio melihat sang suami yang ternyata masih duduk bersandar di kepala ranjang sambil memainkan handphone.
"Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Jeffry, seraya meletakkan handphone miliknya ke atas nakas.
"Em tidak, aku hanya ingin..."
"Apa?" Tanya Jeffry lagi.
"Em sebenarnya calon anak kita ingin dipeluk oleh dirimu." Lirih Vio dengan wajah menunduk malu dan masih dapat di dengar oleh Jeffry.
Mendengar hal itu membuat Jeffry tersenyum, lantaran ia sangat bahagia bisa memeluk kembali sang istri setelah sekian lama.
"Oh jadi debay ingin dipeluk sama ayahnya ya!" Seru Jeffry.
Hal itu berhasil membuat Vio mengangkat wajahnya, dan dapat dilihat dari pipi Vio yang merah menahan malu.
"Debay? Apa itu debay?" Tanya Vio.
"Debay itu, Dede bayi." Jawab Jeffry.
"Ohhhh."