
"Vi, aku mohon sama kamu. Plis! Jangan keras kepala, biarkan aku membantumu, ingat di dalam perutmu ada anak kita sayang." Ucap Jeffry dengan nada lembut.
Vio pun hanya diam, tidak ada penolakan ataupun menerima bantuan dari suaminya itu.
Sehingga membuat Jeffry mau tak mau, menggandeng Vio dan membawanya ke kamar mandi, karena kondisi Vio yang masih lemah.
Sesampainya di depan pintu kamar mandi, Vio menyuruh Jeffry untuk menyuruhnya tunggu di luar saja, ia akan masuk ke dalam kamar mandi sendiri.
"Sudah. Sebaiknya tunggu di sini saja, aku bisa sendiri." Ujarnya.
"Baiklah, kalau ada apa-apa, panggil saja."
"Ya." Vio, pun masuk ke dalam kamar mandi, sementara Jeffry menunggu nya di luar.
Tak butuh waktu lama, pintu kamar mandi dibuka.
"Sudah." Vio pun hanya mengangguk.
"Apa kamu tidak ingin membersihkan tubuh mu? Aku akan membantu mu membersihkannya." Tanya Jeffry.
"Tidak."
"Huffstt, baiklah." Jeffry pun menggandeng Vio sampai di hospital bad nya, setelah dekat di hospital bad nya, ia pun membantu membaringkan sang istri.
Setelah itu ia pun duduk di kursi yang ada di sebelah hospital bad yang ditempati Vio.
Malam harinya, tepat pada pukul jam delapan malam.
Cklek.
Pintu ruangan dibuka, menampilkan seseorang yang tak lain ialah Nares, adik kandung Jeffry.
"Assalamu'alaikum, selamat malam." Ucapnya, setelah masuk ke dalam ruang rawat inap.
"Wa'alaikum salam, malam." Jawab Jeffry dan Vio.
"Bagaimana keadaan kakak ipar?" Tanya Nares, setelah berada di dekat Vio.
"Alhamdulillah."
"Oh ya ka, ini laptop dan beberapa pakaian ganti buat kalian." Ujar Nares, seraya memberikan tas yang berisi laptop pribadi sang kakak, dan paper bag yang berisi pakaian ganti milik Jeffry dan Vio.
"Terima kasih ya." Ucapnya, sambil mengambil tas laptop dan paper bag yang dibawa oleh sang adik.
"Iya, oh ya. Gua keluar bentar dulu, mau nyari makan kebetulan belum makan gua, habis pulang kerja langsung cus kesini."
"Nyari ya tinggal nyari, gak usah bilang belum makan, siapa suruh gak makan dulu. Kan gua gak nyuruh lu gak buru-buru buat datang kesini."
"Yaudah sih, lagian siapa juga yang ngadu ke lu! Orang gua lagi ngadu sama kakak ipar gua, ya gak ka." Ucap Nares, sambil menarik turunkan alisnya.
Dan Vio pun hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Cih." Jeffry pun berdecih.
"Udahlah. Lu mau nitip kagak? Gua tau lu juga belum makan kan?!"
"Sok tau, gua udah makan ya!" Ujar Jeffry, namun naas bunyi dalam perut Jeffry tidak bisa diajak kerja sama.
Kruuuuk.
"Hahahaha, udahlah gak usah gengsi segala. Yaudah gua beliin, lu mau makan apa?" Tanyanya setelah tertawa terbahak-bahak mendengar perut Jeffry yang keroncongan.
Sementara Jeffry hanya bisa menahan malu dengan telinga yang sudah memerah itu.
"Apa aja." Jawab Jeffry dengan pelan.
"Oke. Terus kakak ipar sudah makan belum? Atau mau dibelikan sesuatu?" Tanya Nares kepada Vio.
"Kebetulan tadi sudah diantar makan malam oleh perawat, tidak perlu membelikan apapun." Jawab Vio.
Ya, memang tadi sebelum Nares ke rumah sakit, ia sempat diantarkan makan malamnya oleh salah satu perawat, yang memang kebetulan bertugas untuk membagikan makanan kepada pasien yang berada di ruangan VVIP.