Violleta

Violleta
BAB 19



Setelah cukup lama mereka dengan pikiran masing-masing, Jeffry pun berinisiatif untuk memulai percakapan.


"Emmm, Vio. Kamu kenapa diam saja, apa ada yang di pikirkan!" Tanya Jeffry.


"Hah, tidak. Hanya saja aku merasa gugup, aku takut jika operasi ini tidak akan berjalan lancar."


"Hey, kamu tidak perlu khawatir. Aku yakin semua akan baik-baik saja dan aku yakin operasinya akan berjalan dengan lancar." Jawab Jeffry sambil memegang tangan Vio.


"Ya, kamu benar."


Dan mereka pun sampai di rumah sakit. Dan setelah itu ia dan Vio langsung masuk keruangan dokter yang sudah menunggu mereka.


"Selamat pagi, nona Vio dan juga tuan Jeffry." Sapa dokter.


"Pagi dok." Balas Vio dan Jeffry.


"Silahkan duduk."


Vio dan Jeffry pun duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter.


"Bagaimana nona Vio, apakah anda siap."


"Siap dokter." Jawab Vio.


"Bagus. Tapi sebelum itu, anda harus mengisi formulir ini terlebih dahulu."


"Baiklah kalau begitu biar saya saja yang mengisinya dok." Sambung Jeffry.


"Baik tidak masalah, ini silahkan." Jawab dokter sambil menyerahkan kertas yang berisi formulir untuk operasi.


Setelah Jeffry mengisi formulir operasi, dan melakukan beberapa pemeriksaan. Vio pun langsung dibawa ke ruangan operasi. Di sana juga ada kedua orang tua Vio yang baru sampai, dikarenakan tadi ada urusan mendadak.


"Bagaimana nak, apakah Vio sudah di operasi?" Tanya nyonya Kayla.


"Sepertinya sudah nyonya, dan kita hanya harus menunggunya." Jawab Jeffry dengan sopan.


Setelah menunggu waktu yang lama, akhirnya operasi berjalan dengan lancar.


"Dok bagaimana dengan operasinya, apakah berjalan dengan lancar?" Tanya tuan Banyu.


"Baik dok kalau begitu, lakukan yang terbaik dan berikan ruangan yang nyaman untuk putriku."


"Anda tidak perlu khawatir tuan, kami pihak rumah sakit akan memberikan pelayanan yang terbaik."


Setelah itu bankar Vio langsung dibawa keruangan VVIP tempat rawat inap untuk Vio.


"Untung saja dad, kita belum menyebar undangan. Jadi kita tidak perlu memberi tahu kepada teman bisnis mu bahwa pernikahan Vio akan ditunda untuk sementara." Ucap nyonya Kayla setelah mereka sudah berada di ruang rawat inap Vio.


"Kamu benar mom. Dan kita juga harus mengganti nama Jefri dengan kedua orangtuanya."


"Kenapa takdir putri kita seperti ini ya dad."


"Sudahlah mom, tidak perlu menyalakan takdir. Yang sudah biar lah sudah, sekarang kita hanya perlu pokus terhadap kesembuhan putri kita."


"Kamu benar dad."


Sementara itu Jeffry hanya bisa mendengarkan interaksi antara kedua orang tua Vio.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu Minggu berlalu, operasi yang dilakukan oleh Vio berjalan dengan lancar dan hari ini seluruh keluarga baik dari Vio maupun Jeffry, serta kedua orang tua almarhum Jefri pun datang untuk melihat hasil dari operasi yang dilakukan oleh Vio.


Di sini lah mereka, di ruang rawat inap Vio. Mereka sedang menyaksikan Vio yang sedang di buka perbannya oleh dokter.


"Baik nona Vio, buka mata anda secara perlahan-lahan." Ucap dokter.


Vio pun mulai membuka matanya secara perlahan.


"Bagaimana nona Vio. Apa yang anda lihat."


"Mom, dad." Ucap Vio dengan suara lirih.


"Vio, sayang kamu..." Tanya keduanya.


"Ya. Mom dad, aku bisa melihat."