
"What." Teriak semua sahabat Jeffry.
"Cih, kalian bisa gak sih. Biasa aja gitu tanpa harus teriak segala! Sakit nih kuping gua."
"Heheh sorry, habisnya kita-kita tuh syok banget denger penjelasan lu barusan. Apalagi tentang hukuman jika lu memilih dipenjara." Ucap Dio.
"Ya, gua pun awalnya syok mendengarnya. Kalau hukuman yang akan gua dapatkan kemungkinan antara dua itu." Jawab Jeffry dengan wajah sendunya.
"Tapi lu tetap senang dong, bisa nikahin putri dari keluarga salah satu konglomerat dari kota ini. Apalagi dia cantik, jika gua jadi lu gua juga pasti akan memilih buat nikahin dia." Celetuk Chandra yang berhasil mendapatkan jitakan di kening oleh para sahabatnya.
"Isss, kalian ini jahat sekali padaku." Ucap nya sambil memperhatikan wajah sok sedihnya.
"Huhhh." Sorak para sahabat.
"Sudah-sudah, hey bro emang lu gak mau ke kamar lu. Buat malam pertama sama istri lu." Lerai Jhony.
"Gua gak tau. Gua akan ngelakuin itu apa nggak!"
"Lah kenapa." Timpal Tio.
"Ya karena, gua gak enak sama almarhum Jefri. Seharusnya dia yang ada di posisi ini eh malah gua."
"Ck, lu gak usah nyalahin diri lu sendiri bang. Kan bukan kemauan lu juga buat nikahin tuh cewek, tapi keinginan mantan tunangannya. Jadi jangan salahkan diri lu sendiri, lagipula ini sudah menjadi takdir yang harus lu hadapi." Ucap Chandra.
"Tumben lu bijak Chan." Timpal Dio.
"Cih. Gua bijak salah, gak bijak apa lagi, makin disalahkan kayanya." Jawab Chandra.
Setelah berbincang-bincang dengan para sahabatnya, Jeffry pun masuk kedalam kamar pengantin.
"Loh dimana Vio." Tanya Jeffry pada diri sendiri.
"Ahhh, mungkin di dalam kamar mandi." Gumam Jeffry. Sambil melepaskan jas nya serta dasi, sehingga hanya meninggalkan kemejanya saja dan ia menggulung lengan kemeja nya sampai atas siku.
Dia pun menuju ke jendela sambil melihat pemandangan indah kota di malam hari. Saat sedang menikmati pemandangan, tiba-tiba ada sebuah tangan yang memeluk nya dari belakang sehingga membuat ia terkejut.
"Astaga Vio, kamu bikin aku kaget saja." Ucap Jeffry sambil melihat ke arah Vio yang sedang berdiri di hadapannya.
"Maaf, sudah buat kamu terkejut. Kamu gak marah kan sama aku!" Cicit Vio sambil wajah nya menunduk.
"Nggak sayang, aku hanya terkejut saja." Jawab Jeffry sambil memegang pipi Vio dengan kedua tangannya.
"Benarkah." Binar Vio, sambil melihat ke arah suaminya. Jeffry.
"Iya." Jawab Jeffry.
Setelah itu Vio langsung memeluk Jeffry dengan erat sambil menggelapkan wajahnya di dada bidang sang suami.
Setelah lama memeluk Jeffry, Vio pun melepaskan pelukannya. Setelah ia melepaskan pelukannya, ia pun mulai memainkan jari telunjuk nya ke dada bidang Jeffry, membuat bentuk abstrak. Dan hal itu sudah membangun sang junior milik Jeffry.
"Astaga, gua gak tau ternyata nih cewek agresif juga. Bagaimana ini, mana junior gua udah bangkit lagi. Huh, aku harus apa! Jika aku melakukan nya, aku masih tidak enak dengan mendiang mantan calon tunangannya yang seharusnya menikah dengan Vio. Tapi kalau nggak ngelakuin, masa ia gua harus mandi air dingin. Lagian kalau gua nolak buat ngelakuin nya malam ini, pasti dia akan curiga." Gumam dalam hati.