
Sebelum Jefri menjawab, ia terlebih dahulu memberikan handphone pribadinya dan juga sebuah surat yang sudah di liapat, kepada Jeffry.
"Apa ini! Kenapa kamu memberikan ku handphone pribadimu dan juga sebuah surat, kepadaku."
"Nanti akan ku jelaskan ka." Timpal sang adik, Nares.
"Benar yang di katakan oleh adikmu. Biar dia yang menjelaskan maksud dan tujuan ku memberikan mu handphone pribadiku dan juga sebuah surat, kepadamu."
"Dan ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan kepadamu, tapi sebelum itu aku meminta maaf kepada paman dan juga bibi. Karena mungkin keputusan yang ku ambil ini akan menyakiti hati kalian dan membuat kalian kecewa."
"Apa sebenarnya ingin kamu sampaikan nak." Tanya tuan Banyu.
"Aku ingin meminta tuan Jeffry, untuk menggantikan aku."
"Maksudmu." Kali ini Jeffry yang berbicara.
"Menikahlah dengan Vio tunangan ku dan bahagia kan lah dia, serta jagalah dia."
Jedaaarrrr...
Semua orang terkejut atas apa yang di sampaikan oleh Jefri, kecuali Nares adik dari Jeffry, karena ia sudah tau terlebih dahulu apa yang ingin di sampaikan oleh Jefri ke semua orang.
"Apa yang kau bicarakan nak." Tanya nyonya Kayla.
Belum sempat Jefri menjawab, ponsel milik tuan Banyu berdering.
"Maaf saya akan mengangkat telepon dulu." Jawan tuan Banyu.
"Halo."
" ... "
"Ya, baiklah. Saya akan ke lobby sekarang." Tuan Banyu pun mengakhiri telponnya.
"Maaf, saya keluar dulu. Karena Vio sudah sampai dan sekarang sedang menunggu di lobby rumah sakit."
"Permisi."
Tuan Banyu pun keluar dari ruangan tersebut, dan segera menuju ke lobby untuk menemui putrinya.
"Kenapa kamu melakukan ini nak? Apakah kamu tidak mau berjuang untuk sembuh! Setidaknya untuk memperjuangkan cinta mu." Lirih ibu Jefri.
"Bukannya aku tidak mau berjuang Bu. Tapi apalah daya takdirku sudah menanti Bu, dan aku bisa apa, jika tuhan ingin menjemput ku segera."
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu hanya bisa menangis dalam diam. Saat Jefri melontarkan kata-kata nya barusan.
Hening beberapa saat. Sampai pintu ruangan di buka oleh seseorang, yang tak lain tuan Banyu dan juga putrinya, Violleta.
"Mari sayang." Ucap tuan Banyu pada putrinya.
"Dad. Memangnya kita mau bertemu dengan siapa? Dan siapa yang sedang sakit?" Tanya Vio.
"Jangan banyak tanya dulu ya, sayang. Sekarang ada yang ingin bertemu denganmu."
"Baiklah dad."
Vio pun di tuntun oleh sang Daddy, menuju ke samping hospital bad Jefri.
Sesampainya Vio, di samping Jefri. Jefri langsung menggenggam tangan Vio.
"Vio sayang." Lirih Jefri.
"Jefri! Apakah itu kamu? Sedang apa kamu di sini? Lalu kenapa tanganmu dingin sekali." Todong Vio dengan pertanyaan yang bertubi².
"Kamu jangan khawatir sayang, aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, jadi ku mohon kamu jangan menyela perkataan ku, sebelum aku menyelesaikan bicaraku. Apa kamu mengerti sayang." Lirih Jefri dengan suara terbata-bata.
"Hmm, baiklah. Kau ingin bicarakan hal tentang apa?"
"Aku hanya ingin meminta maaf kepada mu. Maafkan aku karena aku tidak bisa menepati janji ku kepada mu, untuk selalu menjagamu dan membahagiakan mu. Aku harap kamu akan selalu bahagia, walaupun aku tak lagi berada di sisi mu dan kamu tidak perlu khawatir sebentar lagi impian kamu untuk bisa...