
"Dan Almarhum meminta jika ia sudah tidak ada lagi di dunia ini, dia meminta untuk mendonorkan matanya untuk tunangannya. Jadi seperti itulah tuan ceritanya."
"Astaga dad, sungguh baik sekali Jefri. Beruntung putri kita di cintai oleh nya." Ucap nyonya Kayla.
"Kamu benar mom."
"Sungguh kami berterima kasih, kepada kalian atas kebaikan yang di berikan oleh putra kalian." Ucap tuan Banyu kepada kedua orang tua Jefri.
"Sama-sama tuan, anda tidak perlu berterima kasih. Mungkin ini sudah menjadi keinginan putra kami untuk yang terakhir." Jawab ayah Angga.
Di sela-sela perbincangan antara orang dewasa, tiba-tiba ada bunyi ponsel berdering yang berasal dari ponsel milik almarhum Jefri, yang kini sedang di tangan Jeffry.
"Siapa yang menelepon." Tanya tuan Banyu.
"Entah, tapi disini tertera nama pak Asep tuan."
"Benarkah! Tolong berikan biar saya yang akan menjawabnya."
"Baik, ini tuan." Jeffry pun memberikan ponsel kepada tuan Banyu.
Dan tuan Banyu pun mengangkat telepon.
"Halo."
"Halo Daddy, kenapa Daddy yang mengangkat teleponnya?" Jawab Vio di sebrang sana.
"Iya nak, ayah pikir yang menelepon pak Asep ternyata kamu. Yasudah kau ingin apa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin berbicara dengan Jefri dad. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang tidak enak, aku takut terjadi sesuatu kepadanya."
Tidak ada jawaban dari sang Daddy, membuat Vio khawatir akan keadaan sang calon suami.
"Dad, apa terjadi sesuatu."
"Hah,ti tidak nak. Tidak terjadi sesuatu kepada Jefri, baiklah jika kau ingin berbicara padanya daddy akan memberikan ponsel ini pada Jefri, tunggu sebentar."
"Ini bicaralah, dia ingin berbicara dengan calon suaminya."
"Aku, tapi kenapa?" Tunjuk Jeffry pada diri sendiri.
"Tentu saja kau. Bukankah kau yang akan menggantikan posisi Jefri, untuk menikahi putriku!"
Jeffry hanya bisa menghela nafasnya setelah mendengarkan perkataan yang di lontarkan oleh tuan Banyu. Memang benar ia yang akan menggantikan untuk menikahi seorang putri dari keluarga terpandang di kota ini.
Setelah itu ia pun mengambil alih ponsel dan mulai berbicara dengan Vio, serta agak menjauh dari kerumunan orang tuanya dan ke-dua orang tua Jefri serta Vio.
"H,halo." Ucap Jeffry dengan mulut tergagap.
"Halo, Jefri ini kami kan?" Tanya Vio.
"Ya, benar ini aku memangnya menurutmu siapa hm?"
"Emmm, maaf. Aku pikir ini bukan kamu sayang, habisnya suaramu agak sedikit berbeda dari biasanya."
"Ohhh astaga, apa dia bilang tadi? Sayang!" gumam Jeffry dalam hati.
"Halo sayang kamu baik-baik saja kan?" Tanya Vio di sebrang sana.
"A, apa tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa kau jangan risau oke! Oh ya kamu mau apa menghubungi ku? Apa kamu merindukan ku hm!"
"Ck, kau ini bisa tidak jangan menggombal dulu. Aku menghubungi mu karena aku khawatir padamu."
"Kau khawatir padaku!" Beo Jeffry.
"Iya aku khawatir padamu. Entah kenapa hatiku merasa sangat risau dan terus memikirkan mu, aku merasa telah terjadi sesuatu kepada dirimu."
"Kau tidak perlu khawatir dan risau, aku tidak apa-apa. Jadi kau tenang saja yah, segera tidurlah sebentar lagi pagi. Aku akan mengunjungi mu, nanti."
"Benarkah, kau akan mengunjungi ku!" Teriak Vio, seperti orang yang terlihat senang.