
"Tante Sarah ingin menghancurkan kebahagiaan mereka, jadi sebab itu dia merencanakan semua ini." Lanjutnya.
"Lu ko bisa tau, kalau yang ngelakuin ini semua tuh adalah nyonya Sarah?"
"Ya karena gua ngirim orang untuk mengawasi wanita tua itu."
"Kenapa?"
"Karena gua benci ibu dan anak itu."
"Benci?"
"Ya."
"Jadi. Hanya karena lu benci sama Dona dan mommy nya, jadi lu mau bantu gua?"
"Ya bisa dibilang begitu, gua tau tanpa gua kasih tau buktinya ke lu, lu juga pasti sudah mendapatkan bukti yang lu inginkan. Gua akui, lu adalah salah satu pengacara yang cerdas, gua taunya dari lu selalu menggagalkan rencana gua atau rencana Dona untuk mendekati kakak lu."
"Oh tentu saja, karena gua gak akan pernah biarkan wanita kaya kalian bisa memanfaatkan kakak gua, sudah cukup kakak gua di bodohin sekali."
"Ya, ya, ya. Tapi lu harus tau, gua dan Dona itu beda, gua bukan salah satu oknum seperti Dona yang menghalalkan segala cara agar bisa cepat tenar, paham!"
"Ya, tapi kenapa lu bisa benci juga sama mommy nya, setau gua yang jadi rival lu tuh ya Dona."
"Karena wanita tua itu sudah menghancurkan hati mommy gua, dia sudah berani menjadi simpanan Daddy gua, dan yang lebih parahnya lagi wanita tua itu sudah berhasil menggelapkan beberapa uang Daddy gua, padahal harta, dan perusahaan itu milik mommy gua. Itu sebabnya, gua ingin melihat mereka hancur."
"What? Gila sih ini, tapi ngomong-ngomong thanks untuk semua bukti ini, kalau begitu gua pamit dulu, dan lu gak perlu khawatir gua yang akan bayar minuman pesanan lu."
"Cih, gua gak semiskin itu hanya bayar satu minuman."
"Anggap saja ini adalah bentuk rasa terima kasih gua, karena lu sudah menolong keluarga gua. Gua permisi, bye."
Sebelum keluar dari cafe, Nares pun pergi ke arah kasir untuk membayar pesanannya. Setelah itu ia pun pergi dari cafe itu dan pergi ke kantor polisi, untuk memberikan barang bukti yang didapat dari Monica.
Dikediaman rose, telah terjadi kehebohan lantaran sang pemilik rumah berbuat heboh dengan berteriak.
"OMG. Guys kalian harus lihat ini?" Teriak rose, ketika berada di ruang tengah.
"Ada apa sih beb, kenapa kamu teriak-teriak." Ujar sang kekasih.
"Ini loh, yang dikatakan Tio emang benar, ternyata Vio itu lagi hamil. Nih liat buktinya, testpack yang sempat Vio gunakan, namun belum dilihat hasilnya olehnya, ternyata hasilnya garis dua." Pekik rose.
"Lalu, kenapa lu sampai heboh, berisik tau gak? Kita kan udah tau kalau Vio tuh lagi hamil, dan keadaannya kini sedang koma. Kenapa harus heboh." Ujar Yogi.
"Hehehe maaf."
"Sudah-sudah, sekarang bagaimana. Kapan kita akan menjenguk Vio? Apa saat keadaan nya sudah sadar atau besok malam?" Tanya Jhony.
"Gua ngikut kalian aja lah." Ucap Chandra.
"Gua juga." Ujar yang lainnya juga.
"Lah, pada ngikut. Ya udah kalau gitu kita bicarakan lain kali lagi."
"Oke."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu Minggu kemudian.
Sudah satu Minggu Vio belum sadarkan diri, dan satu Minggu itu pula mommy nya Dona alias nyonya Sarah sudah diteteskan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan berencana.
Dan satu Minggu pula Dona mengalami karir yang merosot lantaran kasus sang mommy.