Violleta

Violleta
BAB 125



Runtuh sudah pertahanan Vio untuk tidak menangis, setelah membaca surat yang ditulis oleh mendiang calon tunangannya itu, Vio tak berhenti menangis.


Walaupun dengan tulisan tak serapih seperti orang yang sehat (ya iyalah, namanya juga lgi sakit, pasti tulisannya gk rapih😂), namun Vio masih bisa memahaminya.


Vio pun tersentuh lantaran mendiang calon suaminya itu masih saja memikirkan dirinya, padahal kondisinya pada saat itu sedang bertarung dengan rasa sakit yang di derita.


Dan hal yang mengejutkan dirinya ialah, pengakuan dari suaminya, bahwasanya orang yang mendonorkan mata untuknya ialah mendiang calon suaminya itu.


Bahkan sebelum kecelakaan yang di alami oleh mendiang calonnya, mendiang Jefri sudah mempersiapkan bahwa ialah yang akan mendonorkan matanya untuk Vio, jika Vio belum juga menemukan pendonor yang cocok.


Dan hal itupun membuat Vio terus menangis, Jeffry pun membawa Vio dalam pelukannya. Tak peduli jika nanti ia akan kena marah oleh sang istri, karena telah memeluknya tanpa ijin darinya.


"Sudah jangan menangis." Ucap Jeffry, seraya mengusap punggung Vio.


"Jadi, pada saat kita ke pemakaman orang yang mendonorkan matanya untuk ku, itu adalah makam nya Jefri?" Tanya Vio disela-sela tangisannya, yang masih dalam dekapan dari sang suami.


"Iya." Jawab Jeffry, seraya melepaskan pelukannya, dan menghapus air mata yang mengalir di pipi sang istri.


"Aku ingin ke sana, tolong antar aku." Ujarnya, seraya membuka selimut yang menutupi kakinya, namun sebelum Vio menginjakkan kakinya ke lantai, Jeffry terlebih dahulu menghalangi.


"Jangan, hari ini sudah malam."


"Tidak, aku tetap mau ke sana. Jika kamu tidak mau mengantarkan aku, aku bisa minta pak Asep untuk mengantarkan aku." Ucap Vio, masih bersikeras untuk ke pemakaman.


"Tapi hari ini sudah malam, apalagi kamu sedang hamil, tolong untuk bersabar, besok aku janji akan mengantarkan kamu." Cegah Jeffry, disaat Vio masih bersikeras untuk pergi ke pemakaman.


"Tapi..."


Vio pun tak lagi memberontak, ia tersadar bahwa ia tak boleh egois mementingkan dirinya sendiri, masih ada kehidupan yang belum lahir yang harus ia perhatikan.


"Kamu belum minum vitamin kan? Minum dulu ya!" Ucap Jeffry, setelah Vio tenang tak lagi memberontak dan menangis.


Vio pun hanya menganggukkan kepalanya, dan ia pun mulai meminum vitamin yang di berikan oleh suaminya itu.


Setelah memberikan Vio vitamin, Jeffry pun membantu Vio berbaring di atas kasur, dan ia pun menyelimuti Vio sampai dada.


"Tidur lah." Ucap Jeffry, seraya mencium kening sang istri.


Lalu setelah itu ia pun pergi ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.


Setelah berganti pakaiannya, Jeffry pun langsung keluar dari kamar Vio, dan menuju ke kamarnya di samping kamar Vio.


Keesokan pagi harinya, Jeffry pun menepati janjinya kepada Vio. Untuk mengantarkan Vio ke pemakaman mendiang Jefri.


Dan disini lah mereka berada, di salah satu pusara yang berada di area TPU.


Setelah membaca do'a, tangis Vio pun kembali pecah, ia tak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar.


Hening tak ada yang bersuara, kecuali tadi ketika mereka melafalkan do'a untuk alm Jefri, dan juga tangisan dari Vio.


Dan Jefri pun hanya bisa mengelus bahu sang istri.