Violleta

Violleta
BAB 59



"Sayang kamu percaya kan?"


"Iya mas."


"Terus kenapa kamu jawaban singkat?!"


"Mas, udah deh. Kita jadi makan gak sih? Aku udah lapar tau."


"Iya, iya jadi kok. Tapi benar kan kamu percaya sama aku?"


"Iya mas."


"Yasudah ayo." Ucap Jeffry, sambil merangkul pinggang sang istri.


Mereka pun pergi dari tempat lokasi syuting pemotretan Vio, dan meninggalkan Dona seorang diri di sana.


"Sial, gua gak akan biarkan kalian bahagia. Dan gua akan pastikan Jeffry akan kembali lagi dalam pelukan gua." Geram Dona, setelah Jeffry dan Vio tidak lagi terlihat.


Dilain tempat, Jeffry dan Vio pun sudah Samapi di restoran khas Korea. Mereka pun langsung masuk ke restoran itu dan memesan ruangan VIP supaya tidak ada yang menggangu, kebersamaan mereka berdua.


Setelah sampai diruang VIP, Vio dan Jeffry pun langsung duduk di dekat jendela yang menampilkan gedung-gedung tinggi yang ada di kota itu.


Setelah itu pelayan pun datang dengan daftar menu yang ia bawa.


"Selamat sia tuan dan nona, silahkan mau pesan apa?" Ujar pelayan itu sambil menyerahkan daftar menu yang ia bawa kepada Vio dan Jeffry.


"Kamu aja ya yang mesen! Mas ngikut kamu aja."


"Yasudah kalau gitu."


"Emmm, saya pesan bulgogi, Jajangmyeon, jjampong, ttokpokki, pajeon, sama bungeoppang, sudah itu saja."


"Baik minumannya apa?"


"Minumannya jus alpukat, kalau kamu mas minumannya apa?"


"Jus jeruk aja."


"Sudah mba itu saja."


"Baik harap tunggu tuan dan nona."


"Iya." Ucap Jeffry dan Vio.


"Kamu yakin pesanan yang kamu pesan tidak kebanyakan?" Tanya Jeffry, setelah pelayan tersebut sudah tidak ada.


"Ya gak pa-pa, cuman aku heran aja sama kamu, gak biasanya loh kamu pesan makanan banyak."


"Emmm, iya juga ya, tapi aku juga gak tau, tapi akhir-akhir ini aku ngerasa pengennya makan terus."


"Wah benarkah." Ucap Jeffry dan diangguki oleh Vio sebagai jawaban.


"Bagus dong."


"Ko bagus sih! Nanti kalau aku jadi gendut gimana?"


"Ya gak gimana-gimana, memang nya kenapa?"


"Kamu gak keberatan kalau nanti badan aku jadi gendut."


"Gak. Untuk apa aku keberatan, mau kamu gendut, kurus, gak masalah buat aku, kamu tau apa?! Aku cinta sama kamu itu bukan dari fisik kamu tapi dari hati kamu."


"Beneran." Ucap Vio.


"Bener."


Obrolan mereka pun berhenti ketika pesanan mereka sudah di depan mata.


"Silahkan di nikmati, tuan, nona." Ucap pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.


"Terima kasih."


Setelah itu mereka pun mulai menyantap hidangan yang ada di atas meja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu sudah menunjukkan pukul 20:00 wib. Setelah makan malam, Jeffry dan Vio pun bersiap untuk ke kamar mereka. Untuk menjalankan kewajiban mereka sebagai umat muslim.


Setelah melaksanakan ibadah sholat, mereka pun berganti pakaian dengan pakaian tidur.


Setelah berganti pakaian dengan piyama tidur masing-masing, tiba-tiba Jeffry memeluk sang istri dari belakang, dan menjatuhkan dagunya ke pundak Vio.


Posisi mereka saat ini adalah sedang berada di sisi ranjang.


"Sayang aku rindu." Bisik Jeffry, sambil mengecup leher jenjang sang istri.


"Ahh mas geli." Pekik Vio, kerena merasa geli akibat ulah sang suami, yang bukan hanya mengecup lehernya, namun juga menghisap sampai meninggalkan bekas gigitan.