Violleta

Violleta
BAB 109



"Kalau begitu Vio masuk kedalam kamar dulu ya mom! Vio ingin istirahat." Ucap Vio.


"Yasudah kalau begitu, istirahat lah."


"Iya mom."


Vio pun beranjak dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga dan menuju ke kamarnya sendiri.


Dan disini lah, kedua pria yang beda generasi berada. Di sebuah taman yang luas, yang terdapat sebuah gazebo dan juga terdapat lapangan golf.


Jeffry dan tuan Abimanyu pun duduk di salah satu kursi yang ada di taman itu, sambil menatap ke arah depan yang dimana terdapat lapangan golf yang cukup luas.


"Bagaimana nanti kita main golf bersama?" Tanya tuan Abimanyu pada menantunya itu, yang duduk di kursi yang ada di sampingnya, dan hanya di halangi sebuah meja kecil di tengah.


"Boleh." Jawab Jeffry.


"Bagus, sekalian ajak papah dan juga adikmu itu."


"Baik, nanti saya akan bilang kepada mereka."


"Jangan bicara dengan bahasa formal." Ucap tuan Abimanyu seraya menepuk bahu Jeffry.


"Baik dad."


Tak lama kemudian, nyonya Kayla pun datang dengan dua cangkir kopi dan juga satu piring brownies yang di buat oleh Vio.


"Selamat menikmati." Ujar nyonya Kayla, seraya meletakan dua cangkir kopi dan satu piring brownies di meja.


"Terima kasih mom." Ucap keduanya.


"Yasudah kalau begitu mommy masuk dulu."


"Tunggu mom, dimana Vio?" Tanya Jeffry kepada nyonya Kayla.


"Vio sedang istirahat di kamarnya, makanlah itu buatan istrimu." Jawab nyonya Kayla.


"Oh begitu, terima kasih mom."


"Iya, sama-sama."


Nyonya Kayla pun pergi, kini tinggallah mertua dan menantu.


"Iya dad, aku paham dan aku memakluminya. Jika aku ada di posisi Vio, mungkin aku akan melakukan hal yang sama."


Tuan Abimanyu pun menepuk bahu sang menantu dengan pelan, seraya tersenyum tipis.


"Besok malam datang lah kesini, Daddy juga akan mengundang keluarga mu untuk makan malam bersama."


"Terima kasih dad, karena sudah mau mengundang keluarga ku untuk makan malam bersama, setelah aku sudah membuat putri mu kecewa dan marah."


"Kenapa begitu? Keluargamu juga sudah menjadi bagian keluarga kami. Kita sudah menjadi keluarga besar, tidak etis rasanya, kalau Daddy tidak mengundang kalian untuk datang ke acara makan malam."


"Baik dad, tapi mungkin yang akan datang hanya mamah, papah, dan Nares. Dan maaf aku tidak bisa hadir." Ucap Jeffry dengan sedikit menundukkan wajahnya.


"Kenapa? Apa karena Vio?" Tanyanya.


Jeffry pun mengangguk, sebagai jawaban.


"Tidak usah khawatir, kamu harus tetap datang, Daddy gak mau tahu."


"Tapi bagaimana dengan..."


"Sudah Daddy katakan, kamu tidak perlu khawatir atau risau Vio akan marah. Daddy yang akan bicara padanya."


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapi." Tegas tuan Abimanyu.


"Huh, baiklah kalau Daddy memaksa." Ucap Jeffry dengan pasrah.


Mereka pun kembali berbincang, setelah cukup lama dan waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, Jeffry berpamitan kepada mertuanya itu untuk pulang ke rumahnya.


"Seperti aku harus pulang." Ucap Jeffry, seraya melihat ke arah jam tangan yang ia pakai.


"Baik."


Tuan Abimanyu dan Jeffry pun pergi dari taman dan melangkah menuju kedalam rumahnya.


Yang ternyata di sana sudah ada nyonya Kayla dan juga Vio yang sedang duduk bersantai di sofa ruang keluarga.