Violleta

Violleta
BAB 91



"Oh astaga, maaf saya lupa, saya akan mengurusnya sekarang." Jawab Jeffry, ketika ia sudah menelepon mertuanya.


"Baik tuan, oh maaf. Ini adalah barang pribadi dari korban, apakah anda juga keluarganya?" Tanyanya, perawat itu pun memberikan dompet dan handphone milik supir taksi tadi.


"Bukan, tapi saya yang akan membiayai semua pengobatannya."


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu." Perawat itu pun masuk kembali ke ruang ICU, sementara Jeffry kini ia sedang berada di bagian administrasi.


Kini tinggallah Nares dan Tio, yang masih berada di depan ruang ICU.


"Oh ya, gua minta tolong. Tolong, teleponin keluarganya bapak supir taksi, nih handphonenya, gua mau jemput mertua gua di lobby dulu." Pinta Jeffry pada sang adik.


"Iya." Nares pun mengambil handphone milik bapak supir tadi, dan segera mengabari keluarga korban.


Di saat Nares sedang mengabari keluarga dari bapak supir taksi tadi, tiba-tiba terdengar beberapa suara langkah kaki yang sedang menuju ke arahnya.


Setelah selesai mengabari, Nares pun membalikkan badannya ke sumber suara. Tenyata orang tuanya, kedua orang tua Vio, dan juga kakak nya yang datang.


"Apakah belum selesai juga pemeriksaan nya?" Tanya Jeffry pada sang adik.


"Belum."


"Memangnya apa yang terjadi?" Kali ini tuan Abimanyu yang bertanya.


"Vio marah sama saya dad. Dikarenakan, ia sudah mengetahui rahasia bahwa aku bukanlah Jeffry yang ia cintai." Jawab Jeffry, seraya menundukkan kepalanya.


"Astaga, tapi bagaimana bisa." Ujar mamah Anggun.


"Itu karena..."


"Karena apa!" Desak mamah Anggun.


"Karena ada orang lain yang memberitahukannya." Cicit Jeffry.


"Ya ampun. Sudah mamah katakan, lebih baik segera kamu memberitahukan kepada istrimu, lewat dirimu sendiri, daripada dia tau dari orang lain! Lihatlah sekarang, ini yang terjadi."


"Maaf mah, Jeffry pun sudah berniat akan memberitahukan secepatnya, tapi bukan sekarang."


"Dengan keluarga pasien, atas nama Budi?" Tanya salah satu dokter.


"Bukan dok." Jawab Nares.


"Lalu dimana keluarga pasien."


"Saya sudah menghubunginya, mungkin sekarang masih berada di perjalanan, apakah ada hal yang menghawatirkan?" Tanya Nares.


"Oh begitu. Korban mengalami pendarahan cukup hebat, dan untung saja pihak rumah sakit masih ada beberapa kantong darah yang sesuai dengan korban, saya hanya ingin memberitahukan, bahwa pasien masih sudah bisa dipindahkan ke ruang rawatnya."


"Baik dok."


"Lalu bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Jeffry.


"Untuk istri anda masih dalam pemeriksaan, bersabarlah, kalau begitu saya permisi dulu."


"Terima kasih dok."


Dokter itu pun pergi ke ruangan pribadinya, setelah dokter itu pergi, pintu ruang ICU pun terbuka, menampilkan beberapa perawat yang mendorong pak Budi, di hospital bad, untuk dipindahkan ke ruangan VIP.


Dan juga menampilkan seorang dokter wanita, yang usianya mungkin sama seperti mamahnya Jeffry.


"Dengan keluarganya pasien atas nama, nyonya Tania Violleta?" Tanya dokter.


"Iya dok saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya?"


"Kondisi istri anda tidak pa-pa, begitupun dengan janin yang dikandungnya. Untung saja janin yang dikandung oleh istri anda sangat kuat, walaupun sempat mengalami pendarahan, tapi untungnya pendarahan itu tidak terlalu beresiko, sehingga tidak mengakibatkan terjadinya keguguran."


"Apa dok? Tunggu, tunggu, maksud dokter istri saya sedang hamil?"


"Benar pak. Namun..."


"Namun apa dok."


"Namun, saat...