Violleta

Violleta
BAB 114



"Kamu jangan egois mas." Teriak Vio.


"Aku egois? Aku atau kamu yang egois Vi?" Tanya masih dengan nada pelan, namun penuh tekanan.


"Sekarang kamu yang menyalahkan aku yang egois? Apa tidak salah?"


"Justru kamu yang egois mas, kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan." Teriak nya lagi, dan hal itupun terdengar sampai ke ruang tamu, yang dimana para orang tua dan juga Nares berada.


"Vi, aku mohon pelan kan suaramu, ingat kamu sedang hamil." Ujar Jeffry, karena ia sangat khawatir itu bisa berpengaruh dalam kehamilan sang istri, Vio pun seketika diam, dia baru ingat, bahwasanya saat ini ada makhluk hidup yang tumbuh di dalam perutnya.


"Aku tidak pernah mengambil kesempatan dalam kesempitan." Ujar Jeffry lagi.


"Jika bukan, kenapa kamu malah mau menikahi ku, seharusnya kamu tolak saja, apa karena kamu takut di penjara." Ucap Vio, namun kali ini tidak berteriak.


"Ya, awalnya memang karena aku takut untuk dipenjara, dan awalnya aku memang akan mengakhiri hubungan ini hanya sampai satu bulan saja, namun apa daya hatiku sudah terpikat olehmu." Ujar Jeffry, dan kali ini melembutkan suaranya.


"Kalau begitu aku tidak salah meminta cerai padamu, anggap saja satu bulannya itu sebagai kenangan."


"Apa maksudmu? Apa kamu menganggap pernikahan itu sebuah mainan?" Tanyanya.


"Aku tidak pernah mengaggap pernikahan itu sebagai mainan." Jawabnya.


"Lalu kenapa kamu bicara seperti itu."


"Bukankah kamu sendiri yang bilang ingin mengakhiri hubungan ini setelah kita menikah satu bulan, lalu dimana salahku, aku hanya mengatakan anggap saja satu bulannya sebagai kenangan dariku."


"Tapi sudah aku katakan aku sudah membuang jauh-jauh pikiran itu, dan sekarang aku benar-benar mencintai mu, bukan hanya menganggap kamu sebagai tanggung jawab dari amanah yang diberikan oleh mendiang tunangan mu." Ujarnya.


"Apa maksudmu, amanah? Amanah apa?" Tanyanya.


"Itu dia, aku ingin menjelaskan semuanya kepada kamu, kenapa aku menikahi mu dan menyembunyikan rahasia yang selama ini aku simpan darimu sampai sekarang, dan saat aku ingin menjelaskan nya padamu, kamu tidak pernah mau mendengarkan penjelasan dariku." Ucapnya Jeffry.


Namun belum sempat Jeffry menjelaskan, tiba-tiba Vio merintih kesakitan di perutnya.


"Akhhhh." Teriak Vio, seraya memegang perutnya.


"Sayang kamu tidak pa-pa?" Tanya Jeffry, sambil memegang bahu Vio dan mendudukkan Vio di sofa.


Seketika semua orang yang sedang menunggu mereka di ruang tamu bergegas ke ruang keluarga.


"Vi, ada apa sayang! Kamu tidak pa-pa?" Tanya nyonya Kayla seraya mengahmipir sang anak yang tengah merintih kesakitan di sofa.


"Sakit mom." Rintih Vio.


"Dad, cepat telepon dokter kandungan untuk datang, mommy tidak mau terjadi apa-apa pada kandungan Vio." Ujarnya pada sang suami.


Tuan Abimanyu pun bergegas menghubungi dokter kandungan yang biasa Vio kunjungi untuk memeriksa kandungannya.


Tak selang berapa lama, Vio pun tidak lagi mengalami sakit di perutnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Jeffry dengan wajah khawatirnya, karena takut terjadi sesuatu terhadap istri dan calon anaknya itu.


"Ya, aku sudah tidak pa-pa." Jawab Vio, ia pun mencoba melepaskan tangan Jeffry yang ada di bahunya, dan duduk tegak, karena sebelumnya ia berada di posisi kepalanya yang tengah bersandar di dada bidang suaminya.


"Kamu yakin sayang?" Kali ini nyonya Kayla yang bertanya.


"Iya mah, aku sudah tidak pa-pa, mungkin tadi hanya kontraksi ringan, karena Vio capek."


"Yasudah kalau begitu, kita ke kamar kamu ya! Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa mu." Ucap Nyonya Kayla.