Violleta

Violleta
BAB 9



"Sebentar lagi, impian mu untuk bisa melihat dunia kembali segera tercapai dan akan ada orang yang akan menjagamu, serta membuat mu bahagia. Vio."


"Apa yang kamu bicarakan, Jef! Aku tidak mengerti. Kenapa kamu bicara seolah kamu akan meninggalkan aku untuk selamanya. Apa yang terjadi, katakan Jef."


"Tidak ada. Dan kamu tidak perlu khawatir, sekali lagi aku hanya ingin meminta maaf padamu dan," Jefri menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan nya. "I LOVE YOU, TANIA VIOLLETA." Ucap Jefri sambil mencium punggung tangan Vio.


Setelah mencium tangan gadis yang ia cintai, Jefri pun melepaskan kedua tangan Vio yang ia genggam.


Setelah melepaskan genggaman tangan, Jefri di buat bingung lantaran ia mendengar suara teriakan dari sang Kaka. Padahal di sana tidak ada sang Kaka, lantaran sang Kaka dan Kaka iparnya masih dalam perjalanan. Setelah di hubungi oleh ayahnya.


Dan tiba-tiba saja pikiran Jefri dibuat bingung. Lantaran dia sudah berada di suatu tempat, entah apa nama tempat itu. Tempat itu seperti sebuah taman yang indah, di penuhi pepohonan yang asri dan juga bunga yang harum. Di satu sisi ada sebuah gerbang yang begitu megah, dan yang membuat ia bingung adalah di dalam gerbang megah tersebut terdapat sosok orang yang ia kenal, sang kakek. Seolah-olah sedang menunggu nya.


"Kakek!"


"Jefri cucuku, kemari lah. Kakek menunggu mu."


Baru saja Jefri ingin melangkahkan kakinya, ada suara orang yang memanggilnya.


"Jefri anakku." Jerit sang ibu.


"Ibu, ayah. Kalian juga berada di sini?" Tanya Jefri.


"Tidak nak, kami tidak akan lama di sini. Kami hanya ingin mengantar mu saja. Ketempat yang lebih baik." Jawab ayahnya, sementara sang ibu terlihat hanya menangis di pelukan sang suami.


"Maksudmu, ayah!"


"Lalu dimana tempat itu yah?" Tanya Jefri.


"Di sana." Jawab sang ayah sambil menunjuk ke arah gerbang yang di dalamnya terdapat sang kakek.


Jefri pun mengikuti arah yang di tunjukkan oleh sang ayah, dan iya berkata. "Baiklah."


Baru juga ia melangkah, namun langkahnya ia urungkan. Lantaran ada sesuatu yang seolah ada seseorang yang ia tunggu, tapi siapa? Ia pun mencoba untuk mengingat siapa seseorang yang ia tunggu? Dan cukup lama ia berpikir, akhirnya ia mengingat nama seseorang yang ia tunggu.


"Tunggu yah. Dimana Vio? Apakah dia tidak ingin mengantarkan aku juga?" Ucap Jefri pada sang ayah.


"Nak, Vio tidak bisa mengantarkan mu. Dan dia sedang berada di rumahnya."


"Tapi kenapa? Apakah paman Banyu yang melarang dia untuk pergi mengantarkan aku?"


"Tidak, tidak ada siapapun yang melarang nya. Hanya saja ini demi kesehatan nya, jadi sebab itu lah dia tidak bisa mengantarkan mu." Lirih ayah Jefri.


"Baiklah. Lalu apakah ayah dan juga ibu akan ikut bersama ku juga?"


"Tidak." Jawab ayah dengan suara paru


"Tapi kenapa? Aku juga ingin kalian ikut, aku tidak ingin jauh dari kalian."


"Nak kami pun tidak ingin jauh darimu. Tapi apa yang bisa kami lakukan jika takdir sudah berkata, kamu tenang saja suatu saat ayah dan ibu akan menjemput mu. Dan kau tunggulah kami, jika hari itu tiba."