Violleta

Violleta
BAB 112



Nares pun masih diam, dia memikirkan apa yang dikatakan oleh tuan Abimanyu. Ada benarnya yang dikatakan tuan Abimanyu, ia masih bisa membantu sang kakak untuk menjalankan perusahaan keluarganya.


Kerena selama ini hanya sang kakak lah yang menjalankan perusahaan seorang diri, padahal ia pun ikut andil dalam menjalankan perusahaan milik keluarga, karena sebelum menjadi pengacara Nares membantu sang kakak yang menjalankan perusahaan ketika papahnya pensiun.


Jadi tidak alasan ia membantu sang kakak untuk menjalankan perusahaan milik keluarganya.


"Baik om, saya akan membantu kakak saya untuk mengurus dan menjalankan perusahaan milik papah." Jawab Nares, setelah berpikir cukup lama.


"Baik semuanya sudah jelas, mulai harus Senin kamu akan ikut Daddy ke perusahaan Daddy, Daddy akan memberitahukan kepada petinggi-petinggi bahwasanya kamu yang akan menggantikan Daddy sementara, sampai anak kalian tumbuh dewasa." Ujar tuan Abimanyu.


"Tapi..."


"Daddy tidak mau ada penolakan." Tegas tuan Abimanyu.


Jeffry pun diam tak lagi membantah.


"Bagaimana tuan Putra! Apakah anda setuju, jika anak anda juga menjalankan perusahaan milik ku?" Tanyanya kepada tuan Putra.


"Saya serahkan kepada putra sulung ku saja, dia yang akan menjalankan tanggung jawab yang besar ini, karena harus mengurus dua perusahaan sekaligus. Tapi, apa tidak sebaiknya perusahaan anda untuk sementara di jalankan oleh anak dari pak Firman, bukankah mendiang pak Firman adalah asisten sekaligus kaki tangan mendiang ayah anda, lagi pula beliau jauh lebih berpengalaman dari pada Jeffry, atau bisa saja anda menyuruh cucu dari mendiang pak Firman yaitu, tuan Erik. Sepertinya dia seumuran dengan Jeffry..."


"Bukan berarti saya menolak Jeffry untuk mengurus perusahaan milik anda, tapi saya rasa Jeffry tidak pantas ia hanya menantu anda, sementara Erik adalah sepupu yang sudah dianggap keluarga oleh mendiang ayah anda." Ucap tuan Putra.


"Saya keberatan, saya pikir Jeffry lah yang layak untuk menjalankan perusahaan Abimanyu group, bagaimana pun dia adalah menantu dari keluarga Abimanyu, apalagi dia adalah ayah dari calon pewaris kekayaan keluarga Abimanyu." Tolak Erik dengan halus.


"Tidak bisa dad." Tiba-tiba Vio berkata.


"Kenapa?" Tanya tuan Abimanyu, seraya menatap putri semata wayangnya dengan dahi mengkerut, begitu pun dengan semua orang yang ada di ruangan itu.


"Biar Vio saja yang menggantikan Daddy untuk menjalankan perusahaan." Ucapnya dengan nada pelan namun masih bisa di dengar.


"Bukankah kamu menolaknya, lalu kenapa sekarang ingin menggantikan Daddy untuk menjalankan perusahaan?" Tanya tuan Abimanyu lagi, tuan Abimanyu berpikir bahwasanya ada sesuatu yang rahasiakan atau yang diinginkan Vio, oleh sebab itu dia ingin menerima tawaran untuk menggantikannya.


"Benar dad. Tapi sekarang Vio berubah pikiran."


"Kenapa kamu berubah pikiran, apa yang membuat mu berubah?"


"Sebelumnya Vio minta maaf sama mamah dan papah, bukan berarti Vio tidak rela jika perusahaan milik Daddy dipimpin sementara oleh mas Jeffry, namun ada sesuatu yang saya ingin katakan."


"Apa itu nak?" Tanya mamah Anggun.


"Saya ingin..." Sebelum Vio melanjutkan perkataannya, Erik menyelanya.


"Maaf menyela, sebaiknya kami permisi pulang dulu, sepertinya ada hal yang di ucapkan oleh Vio secara pribadi, jadi oleh karena itu kami ijin pulang terlebih dahulu." Ujar Erik.