
"Iya, aku akan mengunjungimu besok lusa. Jadi kau tidur lah lagi, hari semakin pagi."
"Tapi kenapa besok lusa? Kenapa bukan besok saja?"
"Emmm, karena besok ada urusan. Jadi aku tidak bisa mengunjungimu besok."
"Ohh seperti itu, baiklah. Yasudah aku tutup dulu ya teleponnya. Bye sayang."
"Bye sweet heart."
Setelah Jeffry menutup teleponnya, ia dikejutkan dengan keberadaan sang adik yang ada di belakangnya.
"Astaga, sejak kapan lu ada di sini?" Tanya Jeffry.
"Sejak lu bicara dengan calon kakak ipar."
"Cih, jadi lu nguping pembicaraan gua sama Vio gitu!"
Nares pun hanya mengangkat bahunya.
"Ck, kalau ada yang bertanya tuh di jawab bukannya diam aja."
"Ya, ya. Gua nguping puas elu."
"Ngapain sih lu, pake acara nguping segala! Kaya gada kerjaan banget tau gak."
"Kenapa? Takut ketahuan karena udah mulai ada rasa nih sama calon kakak ipar ya, ngaku hayo."
"Apaan sih gak jelas banget."
"Udahlah, bicara sama lu tuh gak akan ada habisnya." Lanjut Jeffry.
Setelah itu Jeffry pun meninggalkan Nares sendirian.
"Heh, dasar ka Jeffry lu tuh paling bisa nge-gombalin cewek. Tapi anehnya gak ada satupun cewek yang berhasil memasuki jati lu dan gua berharap semoga kakak ipar bisa meluluhkan hati lu, ya walaupun gua gak tau setelah dia tahu tentang semuanya. Bahwa yang dinikahinya bukan orang yang dia cintai." Gumam Nares sambil melihat punggung sang kakak yang perlahan mulai menghilang.
Setelah acara pemakaman yang dilakukan satu hari yang lalu. Hari ini Jeffry berencana untuk mengunjungi Vio di kediamannya, pasalnya dia hari ini akan mengantarkan Vio ke rumah sakit untuk melakukan operasi mata yang sudah direncanakan.
Setelah sampai di rumah Vio. Jeffry di buat kagum oleh interior rumah dan juga halaman rumah milik Vio.
"Astaga, ini rumah apa istana! Pantas saja tuan Banyu sangat dihormati dan juga disegani oleh banyak pengusaha. Ternyata beliau memang orang yang sangat hebat." Decak kagum Jeffry.
Setelah itu ia pun langsung memencet bel yang ada di samping pintu utama. Setelah memencet bel, pintu pun terbuka dan ia pun disambut oleh pelayan.
"Selamat pagi tuan. Maaf dengan siapa dan ingin bertemu dengan siapa?" Sambut salah satu pelayan.
"Pagi. saya Jeffry, Apa nona Vio nya ada?"
"Ada tuan, nona Vio sedang sarapan bersama kedua orang tuanya. Mari tuan silahkan masuk dan tunggu sebentar saya akan panggilkan nona Vio."
"Baiklah terima kasih." Jeffry pun langsung duduk di ruang tamu dan pelayan tadi langsung memberi tahukan kepada Vio.
"Maaf tuan besar, nyonya besar menganggu waktunya. Ada yang ingin bertemu dengan nona muda." Ucap pelayan itu dengan menundukkan sedikit badannya.
"Siapa?" Tanya Vio.
"Namanya tuan Jeffry nona."
"Jeffry, loh kenapa gak di ajak kemari saja bi! Suruh dia kemari ya bi."
"Baik nona, saya akan menyuruh nya kemari kalau begitu saya permisi dulu nona. Permisi tuan besar, nyonya besar."
"Ya." Ucap mereka bertiga.
Pelayan itupun langsung menyuruh Jeffry untuk bertemu Vio di meja makan. Dan sesampainya di meja makan dia pun langsung di suruh ikut makan bersama.
Setelah sarapan pagi bersama, dia dan Vio pun langsung pergi ke rumah sakit. Di dalam perjalanan mereka hanya sibuk dengan pikirannya.